Wanita itu menatap Lilith dengan kening berkerut, ketidaksukaan jelas terlihat di wajahnya. "Siapa gadis ini??" tanyanya, suara keras dan penuh kebencian.
"Penyintas yang selamat." Liam menjawab dengan tenang, berusaha mempertahankan ketenangan.
Wanita itu menatap Liam sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Lilith, tatapannya tajam penuh keraguan. Tanpa peringatan, ujung pedangnya yang tajam terarah ke leher Lilith. "Apa perlu aku membunuhnya? Dia mungkin sudah tertular virus," ujarnya dingin, suaranya menggema di lorong sepi.
'Di-dibunuh??!' Lilith menatap wanita itu dengan mata terbelalak, tidak percaya dan ketakutan. Tubuhnya gemetar saat dia diam-diam melirik Liam, berharap pria itu akan membantu. Namun, Liam justru tidak menatapnya sama sekali.
"Tidak ada bekas gigitan di tubuhnya. Aku sudah memastikannya." Liam menjawab dengan suara tenang, tanpa keraguan, seolah-olah sudah menilai segalanya. Ia beralih menatap Lilith, matanya tidak terlihat cemas. "Dia mungkin akan berguna untuk membantu tim kita."
"Kau … sudah memastikan??" Wanita itu menatap Liam dengan ekspresi tak percaya, tatapannya tajam, penuh amarah yang terselubung. Suasana semakin mencekam saat ia mengalihkan tatapannya ke Lilith, tatapan yang seolah-olah ingin menguliti hidup-hidup gadis itu.
"Hei, bocah!" Wanita itu menekan ujung pedangnya ke leher Lilith, tatapannya tajam dan penuh kebencian, seolah-olah bisa menembus tubuh gadis itu. "Apa kemampuanmu??"
Lilith terdiam, tidak sanggup menjawab. Ujung pedang yang dingin itu terasa semakin menekan lehernya, setiap napas yang dia ambil hanya membuatnya merasa seperti pedang itu akan menembus kulitnya. Ia menatap wanita itu dengan mata gemetar, seolah-olah memohon belas kasihan.
"Hentikan, Tessa." Liam bergerak cepat, menggenggam pedang Wanita itu dan menekannya ke bawah, menjauhkan ujung pedang dari leher Lilith. Tatapan Liam yang tajam dan datar kini tertuju pada Tessa, namun ada ancaman yang begitu jelas di baliknya. "Jangan menakut-nakuti orang lain." Suaranya dingin, dan tegas, seperti peringatan terakhir yang tidak bisa diabaikan.
"Liam … kau membelanya??" d**a Tessa naik turun, ia menatap Liam datar, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Namun dia kemudian diam, tidak lagi memberikan tatapan ancaman atau bantahan, hanya sesekali melirik Lilith dengan datar dan penuh kebencian.
Liam menatap Lilith dan tersenyum tipis, senyuman yang jarang dan terlihat tulus. Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah Lilith. "Apa kamu mau bergabung bersama kami?"
"Bergabung…?" gumam Lilith penuh keraguan. "Bergabung, untuk apa?" tanyanya hati-hati.
Tessa berdecak, ekspresinya penuh kebencian dan kebosanan, seolah-olah kebodohan Lilith sudah membuatnya muak. "Kenapa kau masih bertanya?? Apa kau pikir bisa membunuh zombie itu sendiri??" Suaranya terdengar sinis dan penuh dengan nada meremehkan.
"A-aku …" Lilith ingin membantah, namun kata-kata itu tidak kunjung keluar. Ia hanya menundukkan kepala, tubuhnya terasa lemas. Tangannya mencengkeram dadanya yang sesak, matanya kembali berair, teringat pada Lily yang sebelumnya mengalihkan perhatian para zombie agar dia bisa kabur. Perasaan cemas dan kehilangan menghantui dirinya, seakan menenggelamkan seluruh keberanian yang tersisa.
"Tessa." Suara Liam menggetarkan, semakin tegas dan penuh ancaman, tatapan tajamnya langsung terarah ke Tessa. "Hentikan kegilaanmu. Dan Lilith..." Ia beralih menatap Lilith, ekspresinya kini lebih lembut, namun masih penuh perhatian. "Bergabunglah dengan kami. Kita bisa bekerjasama untuk membasmi para zombie itu."
"A-aku…" Lilith menggenggam erat pakaian yang dikenakannya, tubuhnya gemetar hebat. Air matanya mengalir tak terbendung, membasahi pipinya dan jatuh ke lantai yang sudah penuh darah. "Aku tidak bisa," suaranya bergetar, terputus oleh isakan. "Aku sangat lemah... aku hanya akan menjadi beban kalian," lanjutnya, suara terisaknya menggema dalam keheningan yang menekan.
"Berhenti berpura-pura menyedihkan—"
"Tessa!" Suara Liam meninggi, menggema di lorong yang sunyi. Matanya menyala dengan kemarahan, kesabarannya sudah hampir habis. "Sudah kukatakan untuk diam!"
Tessa berdecak, menatap ke arah lain dengan ekspresi kesal. Gagang pedangnya tergenggam erat di tangannya, seolah menyalurkan amarah yang terpendam, tapi tak dapat ia keluarkan.
"Semuanya!"
Seorang wanita berlari kecil mendekati mereka, memegang tongkat dengan ukiran Rune kuno. Ia berhenti di samping Liam, napasnya terengah-engah. "Ketua ..." Wanita itu menarik napas dalam-dalam sebelum menatap Liam dengan lelah. "Bagaimana keadaan di sini?"
"Baik. Semua zombie sudah dibasmi di daerah ini, bagaimana dengan kalian?"
"Ya! Kami sudah menyelesaikan tugas kami juga! Seharusnya hanya tim C yang ..." Wanita itu terhenti begitu matanya menangkap sosok Lilith. Ia mengerjap beberapa kali dengan kebingungan, lalu tersenyum manis. "Apa kau baik-baik saja?"
"Y-ya ..." Lilith menjawab dengan penuh keraguan, merasa sangat canggung dengan senyuman ramah wanita itu yang sangat tidak biasa baginya.
"Tunggu sebentar, aku akan memeriksa kondisimu." Wanita itu berjongkok di depan Lilith, menggenggam tangan Lilith dengan lembut, dan memejamkan matanya. Kalimat-kalimat aneh dan asing meluncur dari bibirnya.
Cahaya hijau zamrud perlahan muncul di antara tangan mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya menghilang begitu saja. Suasana kembali tenang.
Wanita itu membuka matanya, tersenyum. "Mmm, tubuhmu baik-baik saja, tapi staminamu perlu dipulihkan. Ikutlah dengan kami!" Senyumnya semakin lebar, dan dengan antusias ia melanjutkan. "Tahukah kamu? Di tim kami ada seseorang dengan kemampuan penyembuhan yang luar biasa! Dia tidak hanya bisa menyembuhkan luka, tapi juga mengembalikan stamina! Dia juga sangat cantik, keren, dan sikapnya yang tenang serta perhatian benar-benar tidak bisa dilupakan!"
"O-oh…"
Lilith hanya tersenyum canggung, keadaan yang terlalu mendadak membuatnya tidak bisa memikirkan apapun.
"Jadi, apa kau mau bergabung bersama kami?" tanya wanita itu, menggenggam erat tangan Lilith dengan tatapan penuh antusias.
"Y-ya…" Lilith menjawab terbata-bata, ragu dengan jawabannya sendiri. Namun, menolak orang yang sudah menolongnya juga bukanlah pilihan yang bijak.
"Bagus! Kita bisa menjadi teman baik mulai sekarang!" Wanita itu tersenyum manis, terlihat puas dan bangga pada dirinya sendiri. Ia lalu menatap Liam dan Tessa bergantian. "Lalu, mau bagaimana sekarang?"
"Tunggu kabar dari tim C, setelah itu kita kembali ke markas," jawab Liam dengan tenang. Ia mengangkat tangannya dan menekan layar jam tangannya. Sebuah bayangan hologram kecil muncul di atas jam tangan, membentuk sosok seseorang.
"Yo, Kapten! Bagaimana keadaan di sana?"
"Kami sudah membereskan semua keadaan di sini. Bagaimana dengan bagianmu?" Liam menatap pria yang terbuat dari hologram di atas jam tangannya.
"Tentu saja baik-baik saja! Kita hanya…"
"Baik-baik apanya!"
Suara seorang gadis menyela ucapan pria itu, terdengar panik dan lelah. "Ketua, kami perlu bantuan! Kami bertemu zombie tingkat—"
Panggilan tersebut terputus begitu saja, dimatikan oleh pria itu sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Apa yang terjadi?" Wanita itu berdiri di samping Liam, menatap jam tangannya dengan khawatir. "Perlu kubantu?"
"Tidak. Biarkan Tessa saja yang…" Liam menoleh, namun Tessa sudah tidak berada di tempatnya.