Suasana begitu ricuh, teriakan-teriakan dan raungan aneh terdengar begitu menakutkan. Di dalam sebuah lemari yang berada di lorong apartemen, dua orang gadis yang hampir mirip bersembunyi di dalam.
Keduanya tampak begitu ketakutan, apalagi dengan suara geraman aneh yang terdengar di luar.
Dengan tangan gemetar, salah satu dari gadis itu merapikan rambut gadis lainnya yang menangis. Ia dengan lembut mengusap pipi gadis itu, lalu tersenyum meski hatinya sendiri merasakan kegelisahan. "Lilith, dengarkan kakak, oke." Gadis itu berusaha mengendalikan nada suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Kakak, kakak akan mengalihkan perhatian mereka …" lanjutnya dengan napas terengah-engah. "Jika menurutmu sudah aman, segera kembali ke rumah. Kakak pasti akan kembali untuk menemuimu."
"Tapi, bagaimana dengan kakak?" tanya gadis yang dipanggil Lilith dengan terisak.
"Kakak akan baik-baik saja. Ingat, segera lari dan kembali ke rumah! Jangan berani menoleh ke belakang, pastikan untuk mengunci pintu, kakak akan memanggilmu jika kakak sudah kembali, mengerti??"
Lilith dengan gemetar mengangguk, ia ingin Lily - Kakaknya - berada bersamanya. Tapi dirinya terlalu takut sampai tidak bisa bersuara sama sekali.
"Bagus. Tunggu aku, ya." Lily membuka sedikit pintu, memastikan keadaan, ia lalu keluar dan menutup pintu. Lalu berlari ke arah kiri.
Hanya dalam beberapa detik, suara langkah kaki yang banyak dan cepat terdengar dari kanan. Lilith segera menutup mulutnya dan menahan napas saat suara langkah disertai geraman itu melewati lemari tempatnya bersembunyi dan bergerak ke arah kiri.
Setelah beberapa saat dalam kesunyian, Lilith baru memberanikan diri membuka pintu. Ia perlahan keluar dan menatap lorong yang benar-benar sepi, namun dengan bekas darah di lantai dan dinding.
Lilith segera berlari ke kanan, ia berlari secepat mungkin agar bisa kembali ke apartemennya.
Ketika berbelok di lorong, Lilith terdiam membeku. Beberapa langkah di depannya ada seorang zombie dengan tubuh besar dan sepertinya sedang memakan sesuatu, suara geraman di antara suara kunyahan membuat Lilith ngeri. Zombie itu duduk membelakanginya, sehingga belum sadar dengan keberadaan Lilith.
Lilith dengan perlahan bergerak mundur, ia berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun. Perlahan-lahan, Lilith terus mundur sambil memperhatikan zombie itu dengan teliti, memastikannya tidak menoleh.
Lilith perlahan bernapas lega, ia akhirnya terbebas dari zombie itu. Namun saat berbalik, Lilith terdiam mematung di tempat.
Zombie yang lebih besar berdiri tepat di belakangnya, menatapnya dengan mata merah dan terdengar suara geraman darinya, di tangan kanan Zombie itu memegang sebuah kepala manusia, dan tangan kirinya memegang lengan yang sudah tergigit.
Lilith berdiri gemetar, ia tidak tahu harus pergi ke arah mana. Di belakangnya ada zombie yang masih tidak menyadari keberadaannya, dan di depannya berdiri zombie yang lebih besar. Apalagi saat melihat kepala dan darah di mulut zombie dan yang menetes di lantai membuat Lilith hampir mual. Ketakutan yang intens membuat kakinya kehilangan kekuatan, ia terduduk di lantai dan menatap zombie yang berjalan ke arahnya dengan air mata yang mengaliri pipinya.
Suara langkah kaki yang berat dari zombie tampaknya memancing zombie lain yang berada di lorong. Bersamaan dengan suara geraman dan langkah kaki yang semakin banyak. Bau busuk tercium semakin pekat di indera penciuman Lilith.
Ia menatap ketakutan zombie yang hanya berdiri beberapa langkah darinya, mata makhluk itu menatapnya tajam. Dan kepala di tangan zombie itu jatuh dan menggelinding, berhenti tepat di samping Lilith yang hampir pingsan karena rasa takut.
'A-apa aku akan mati?' Lilith merasakan sesak di dadanya bersamaan dengan air matanya yang mengalir semakin banyak, tubuhnya bergetar dan suara isak tangisnya tidak bisa ditahan lagi.
Ia berusaha untuk bangun, tetapi tubuhnya terasa begitu berat, seolah semua kekuatan telah lenyap. Kakinya gemetar tanpa daya, dan Lilith hanya bisa menatap zombie yang perlahan mendekatinya. Ia ingin melarikan diri, namun tubuhnya seakan tak lagi miliknya.
'A-aku … ma-mati …' batinnya bergetar. Perlahan, ia memejamkan matanya, menyerah pada ketakutan yang begitu menguasainya. Air matanya terus mengalir, sementara dadanya terasa sesak, membuat setiap tarikan napas terasa menyakitkan. '… Maaf, Kakak … maaf. A-aku … aku tidak kuat lagi.'
Di antara isak tangis yang tertahan, samar-samar ia mendengar suara tebasan yang menusuk daging, tajam namun jauh. Lilith memejamkan matanya semakin erat saat suara benda berat terjatuh ke lantai menggema di telinganya, diikuti keheningan yang terasa mengancam.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Tidak seperti langkah berat dan berisik milik zombie, suara ini terdengar tenang, hampir tanpa beban. Namun, hal itu justru membuat ketegangan di hati Lilith semakin memuncak.
Sebuah sentuhan ringan di bahunya membuat tubuhnya kaku, nyaris membuatnya kehilangan kesadaran karena ketakutan. Dengan ragu, ia membuka matanya, dan langsung bertemu pandang dengan sepasang mata cerah berwarna kecokelatan.
Saat itu, dunia terasa hening. Pria di hadapannya tidak berkata apa-apa, hanya menatapnya dengan intens. Lilith sendiri tidak mampu berpaling, meskipun rasa takut masih mencengkeramnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah hendak melompat keluar dari dadanya.
Pria itu menyentuh leher Lilith dengan lembut, jarinya mengusap kulitnya saat Lilith masih tenggelam dalam ketakutan. Suaranya tenang, namun mengandung ketegasan.
"Apa kamu sudah digigit?"
Lilith menatapnya dengan kebingungan, kata-kata itu terasa asing dan membingungkannya. Baru saja ia menyadari tangan pria itu yang masih berada di lehernya, tanpa pikir panjang, ia membelalakkan mata dan langsung menamparnya secara refleks.
Pria itu menarik tangannya dengan tenang dan memegang pipinya yang sedikit memerah akibat tamparan Lilith. Meski demikian, ia tak mengeluarkan suara kesakitan ataupun marah. Sebaliknya, ia menatap Lilith dengan tatapan yang lebih intens dan penuh perhatian.
"A-apa yang kau sentuh!" Lilith berteriak, memeluk tubuhnya seolah ingin menjauh dari pria itu, namun tatapannya tetap tajam dan penuh ketakutan.
"Aku hanya memeriksa apakah kamu memiliki bekas gigitan," jawab pria itu dengan suara tenang, tanpa sedikit pun terganggu oleh tamparannya. "Sepertinya kamu baik-baik saja."
Pria itu kembali mengusap pipinya yang perih, namun ekspresinya tetap datar dan tak menunjukkan emosi.
"Gi-gigitan?" Lilith terkejut, suaranya bergetar.
"Liam."
Langkah kaki cepat dan suara seorang wanita menginterupsi kedua orang itu. Dari kejauhan, seorang wanita dengan pedang panjang di tangannya berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa.
Wanita itu mengenakan pakaian ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya namun tetap cukup tertutup. Rambutnya diikat kuda, dan ada bercak hitam di wajahnya.
"Aku sudah membereskan semua zombie yang ditemukan di apartemen ini," wanita itu berkata sambil berdiri di samping pria yang menolong Lilith. "Hampir tidak ada satupun penyintas yang selamat…"
Mendengar ucapan itu, Lilith merasa seperti diterjang batu besar. Hatinya dipenuhi dengan tekanan yang tak terlukiskan. Ia menatap wanita itu dengan mata sembab, perasaan ketidakpercayaan yang mendalam terpantul jelas di wajahnya.