E M P A T B E L A S

1008 Kata
Ardan: Kamu di mana? Salma melihat sekilas notif pesan dari Ardan kemudian memutuskan untuk membalas pesan tersebut. Salma Pangesti: Masih di kantor. Kenapa? Ardan: Nanti pulangnya aku jemput, boleh? Salma Pangesti: Oke. Ardan membalas chatnya dengan mengirim stiker yang tidak dibalas lagi oleh Salma. Dia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang tepat waktu. Jam menunjukkan pukul 17.15 ketika Salma berhasil mengerjakan setumpuk pekerjaannya hari ini. Dia merenggangkan tubuhnya yang serasa ingin remuk karena terlalu lama duduk di depan komputer. "Gue balik duluan ya, guys." Aya yang sudah siap dengan tasnya beranjak dari kubikelnya kemudian berpamitan untuk pulang. "Lo ngga pulang Ja?" Salma berbasa-basi pada Raja yang belum menunjukkan tanda-tanda menyudahi pekerjaannya. "Duluan aja. Gue masih ada kerjaan, tanggung ini dikit lagi." Salma mengangguk mengerti. Setelah itu dia membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. "Lo pulang bareng siapa Sal?" tanya Raja. Tepat saat itu notif pesan dari Ardan muncul di layar ponselnya. Pria itu mengabari kalau dia sudah ada di depan lobi. "Sama temen gue. Dia udah di depan. Gue duluan ya." "Temen apa temen?" Salma tertawa. "Selow, dia belum ada tanda-tanda mau nembak gue btw. Selama itu gue masih nganggep dia temen dan menganggap diri gue masih single, siap menerima cowok manapun." "Ilang baru tau rasa lo!" Salma menaikkan sebelah alisnya, tak kehabisan kata untuk membalas ucapan Raja. "Kalo ilang ya tinggal cari lagi, lah! Cowok di dunia ini banyak, yang siap buka celana buat gue juga ngga terhitung." Diakhiri dengan kedipan mata genitnya. "Dasar sableng!" Salma tertawa kemudian meninggalkan Raja dan turun ke lobi menemui Ardan yang sudah menunggunya di mobil. "Nunggu lama nggak?" Salma memasuki mobil Ardan kemudian memasang seatbelt. "Ngga kok. Kerjaan kamu udah selesai semua?" Ardan melajukan mobil meninggalkan lobi kantor Salma, membelah jalanan kota Jakarta yang ramai di sore hari. Ini jam nasional pulang kerja, sudah pasti jalan raya akan dipadati mobil-mobil yang menimbulkan macet. Maka dari itu, Salma terkadang suka memolorkan waktu untuk pulang ke rumah. Lebih memilih tinggal beberapa jam di kantor untuk menghindari kemacetan ini. Berhubung sekarang ada Ardan yang menawarkan untuk mengantar jemputnya, mau tidak mau dia akan mengikuti jam pulang Ardan, menerima konsekuensi terjebak macet bersama pria itu. "Udah. Hari ini kantor ngga terlalu sibuk, jadi gue bisa pulang lebih cepet. Lo tumben bisa pulang cepet." Ardan tertawa. "Nggak sih, ini khusus buat jemput kamu aja." Lagi dan lagi. Ardan selalu memprioritaskan Salma di atas segala-galanya. Bahkan saat pria itu masih memiliki pekerjaan di kantornya, Ardan lebih memilih meninggalkan pekerjaannya dan menjemput Salma, tidak peduli sepenting apa pekerjaannya. Salma yang diperlakukan seperti ini jadi merasa berada di ambang-ambang. Antara merasa senang karen dispesialkan juga merasa tidak enak karena Ardan selalu menomorsatukan dirinya dan mengabaikan hal lain. "Dan, kan gue udah bilang gue bukan anak TK yang harus di anter jemput. Lo ngga punya kewajiban buat itu. Kalo emang lo sibuk, gue bisa kok pulang sendiri, ngga perlu kayak gini. Gue jadi ngga enak, kesannya gue jadi kek beban buat hidup lo." "Ssttt, ngga papa Sal. Orang ini juga kemauanku kok, aku ngga pernah merasa terbebani dan kamu juga ngga pernah jadi beban buat aku." Salma memutar bola matanya malas. Selalu seperti itu jawaban Ardan tiap kali Salma protes atas kelakuannya. Pria itu memang benar-benar. Tak bisa ditebak arah jalan pikirannya. "Terserah lo deh. Intinya gue ngga suka lo terus-terusan kek gini. Kalo emang lo ngga bisa jemput, jangan pernah maksa buat jemput. Gue udah gede, ngga perlu dimanjain gini dan satu lagi, gue bukan kewajiban dan tanggung jawab lo. Gue cuma orang asing di hidup lo." "Iya aku tau kok. It's okay kalau kamu masih nganggep aku orang asing di hidup kamu, tapi ngga sebaliknya buat aku. Kamu adalah salah satu orang spesial di hidup aku dan aku bakal ngusahain apa pun buat kamu." "Duh, mulutnya lemes banget sih, Mas. Kursus jadi buaya gombal di mana btw?" Ardan malah tertawa menanggapi ucapan Salma. "Soon, aku bakal bikin kamu jatuh cinta sama aku." Salma menaikkan sebelah alisnya. "Yakin banget bisa bikin gue jatuh cinta? Time keeps running. Let's see." "Kamu cuma perlu nunggu, biar aku yang lari ngejar kamu." Salma memilih tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya menatap jalanan melalui jendela mobil, upaya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya agar tak terlihat oleh Ardan. Bisa gawat kalau pria itu tau Salma tersipu hanya karena kata-kata yang diucapkan oleh Ardan. Bisa-bisa pria itu besar kepala. Jam menunjukkan pukul 19.12 ketika mereka sampai di apartemen Salma. Salma membuka pintu mobil, mengucapkan terima kasih pada Ardan kemudian turun dari mobil. Baru beberapa langkah keluar dari mobil, sesuatu yang liar terlintas di benak Salma membuat perempuan itu mengurungkan niatnya masuk ke apartemen dan memutuskan berbalik menuju mobil Ardan. Ardan menaikkan sebelah alisnya bingung melihat Salma yang kembali menghampiri mobilnya alih-alih masuk ke apartemennya. "Ada barang yang tertinggal?" tanya Ardan. Salma menggeleng. "Ada, tapi bukan barang." "Lalu?" "Lo. Lo yang ketinggalan." Kebingungan tercetak jelas di wajah Ardan sekarang. "Maksudnya?" "Mau mampir dulu? Kebetulan lampu kamar mandi gue pecah. Gue ngga bisa masang sendiri dan ngga tau mau minta tolong sama siapa." Ada senyum jail yang tercetak di wajah Salma ketika meminta hal itu pada Ardan. Alih-alih menolak dan segera pergi dari tempat itu Ardan justru mengangguk, mengiyakan ajakan Salma untuk mampir ke apartemen perempuan itu. Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam lift menuju lantai kamar Salma. Tangan Ardan bergetar hanya karena memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Seumur hidup dia tidak pernah melakukan interaksi se-intens ini dengan seorang wanita. Dirinya terlalu polos dan lugu. Bahkan ketika pacaran dulu, sentuhan fiisk yang pernah dilakukan dengan mantannya hanya sebatas pegangan tangan dan cium dahi saja. Dia tidak pernah berani masuk ke dalam apartemen mantannya, bahkan ketika mantannya meminta tolong untuk mengecek pipa keran yang bocor, Ardan langsung memanggilkan tukang untuk memperbaikinya. Namun, dengan Salma semuanya seakan berbeda. Ardan tau membantu memasangkan lampu hanya sebuah alibi. Dia tau apa yang ada di pikiran Salma ketika perempuan itu mengajaknya untuk mampir ke apartemennya. Dan entah keberanian dari mana Ardan menyetujui hal tersebut, berakhir dia harus menerima segala konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN