"Ada bunga buat lo." Aya menunjuk kubikel Salma yang pagi ini dihiasi sebuket mawar merah tanpa nama.
Salma mengerutkan dahi, mendekat ke arah mejanya dengan rasa penasaran yang sampai saat ini belum terjawab. Siapa sebenarnya pengirim bunga ini? Yang juga merupakan orang yang sama yang mengirimkan bunga padanya semalam.
Awalnya Salma mengira bunga itu dari Ardan, yang merupakan upaya pria itu untuk mengambil hatinya. Salma bahkan sudah senyum-senyum tidak jelas ketika menerima buket itu semalam, tidak menyangka bahwa Ardan bisa seromantis ini. Namun, ketika mengkonfirmasi pada pria itu semalam dan Ardan mengatakan bahwa bukan dirinya yang mengirimkan bunga itu membuat kebingungan dalam otak Salma muncul. Jika bukan Ardan, lalu siapa yang mengirim bunga ini padanya?
Pertanyaannya itu terus berputar di kepala Salma semalam, hingga pagi ini dia menerima lagi buket bunga dari orang yang sama. Salma penasaran. Tak ada tanda-tanda yang bisa dijadikan clue untuk menjawab rasa penasarannya.
"Wihh, siapa nih, pagi-pagi udah dapet bunga? Elo Sal? Romantis banget pacar lo kali ini segala ngasih bunga."
Raja yang baru datang langsung mengomentari buket bunga yang diterima Salma.
"Gue juga ngga tau dari siapa. Ngga ada namanya di sini, masa sih ada orang asing yang iseng ngasih ginian ke gue."
"Tanpa lo tebak juga udah tau kali siapa yang ngirim. Pasti pacar lo yang kemarin itu lah, emang siapa lagi!"
Salma menggeleng. "Bukan. Bukan dari dia. Semalem gue juga dapet bunga. Gue bilang ke dia katanya bukan dia yang ngirim. Gue yakin pengirimnya sama kayak orang yang ngirim gue bunga semalem."
"Terus, kalo bukan pacar lo, siapa dong?" Raja dan Aya jadi ikut penasaran dan menebak-nebak.
"Lo tadi pagi liat ngga siapa yang naruh bunga ini di sini Ay?" Salma bertanya pada Aya yang sampai kantor pertama kali.
Aya menggeleng. "Gue dateng-dateng itu bunga udah nangkring di situ. Gue ngga tau siapa yang naruh."
"Kenapa sih, keknya pada serius amat ngobrolnya."
Mbak Ana yang baru datang langsung bergabung dengan obrolan.
"Ini si Salma dapet bunga dari orang yang ngga dikenal."
"Kok bisa? Dari pacar lo kali, coba tanyain."
Salma menggeleng. "Udah, gue udah tanya ke dia, katanya dia ngga ngirim apa-apa ke gue."
"Lah terus dari siapa dong?"
"Kalau gue tau juga gue ngga bakal pusing-pusing mikir, Mbak," ucap Salma gemas.
"Gue jadi penasaran deh, masa iya lo punya secret admirer gitu, Sal."
"Muka lo kok kek meremehkan gitu ya, Ja. Emang kenapa kalo bener gue punya secret admirer? Iri lo?"
"Anti banget gue iri sama lo. Maksud gue tuh gini. Lo kan selama ini terkenal sebagai penakluk para pria sekaligus master pematah hati, jadi kalaupun lo punya secret admirer gitu, kemungkinannya 0,1% karena ngga ada orang yang fine-fine aja ketika disakiti. Kalo ada orang yang neror lo lah baru gue percaya."
"Heh omongan lo sembarangan!" Salma otomatis melempar bolpoin ke arah Raja yang refleks ditangkap pria itu sehingga tidak mengenai wajahnya.
Raja tertawa melihat raut muka Salma yang berubah gara-gara perkataannya tadi. "Canda elah, Sal. Serius banget lo."
"Bercandaan lo nggak lucu tau?"
"Ya maaf." Raja hanya cengengesan.
"Salma, sini kamu, masuk ke ruangan saya," intruksi Pak Arga.
Mereka berempat dengan sigap langsung mengambil posisi masing-masing, berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya agar tak terlihat sibuk ngerumpi di kantor.
Salma berdecih melihat drama teman-temannya. Dia memilih bangkit dari kursi kerjanya kemudian menuju ruangan bos-nya.
Dalam hati Salma bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan bosnya. Dia sedikit was-was jika dirinya dipanggil karena melakukan kesalahan. Situasi seperti ini wajar bagi karyawan. Ketika atasan memanggil pada dua kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup, satu kemungkinan buruk dan satu lagi kemungkinan baik.
Kemungkinan baik itu hanya terjadi 0,01% di dunia ini. Kenyataannya kalau sudah berhubungan dengan bos di ruangannya, pasti ada saja yang membuat Salma merasa frustasi. Entah karena revisi, perintah lembur, atau pekerjaan tambahan yang membuat pusing tujuh keliling karena kerjaan utama saja sudah menumpuk harus ditambah lagi dengan pekerjaan tambahan. Tambah double pusingnya.
Salma mengetuk pintu ruangan bos-nya. Hening beberapa kali hingga Salma memutuskan melongok dari luar, menyembulkan kepalanya di pintu ruangan bos-nya.
"Permisi, Pak. Bapak manggil saya?"
"Hm. Masuk Sal."
Buset! Auranya ngga enak banget nih.
Siapkan mental Anda, Sal! Siapkan!
"Ada apa ya, Pak?"
Bosnya menatap Salma lama, membuat Salma yang ditatap intens seperti itu jadi ketar-ketir sendiri.
"Pak?" Salma menegur Pak Arga yang tak bersuara dari 10 menit yang lalu. Bosnya hanya menatapnya kemudian kembali menatap kertas yang ada di depannya, kembali lagi menatap dirinya lalu kertas lagi. Begitu seterusnya berulang-ulang, membuat Salma jadi heran plus bingung sendiri.
Kini bosnya menghela napas panjang. Menyugar rambutnya ke belakang. Dilihat dari segi manapun Pak Arga sekarang seperti sedang gelisah karena sesuatu, tetapi Salma tak tau apa.
"Pak, ada yang bisa saya bantu?" Sekali lagi Salma mencoba memastikan, dia juga tidak mungkin terus berada di sini hanya untuk melihat bosnya yang seperti orang linglung dan tak berkata apa-apa padanya. Pekerjaannya yang bergunung-gunung itu sedang menunggu sekarang, melambai-lambai tak sabar ingin membuat kepala Salma pening.
"Ngga jadi, kamu kembali saja ke kubikel."
HAH?!!!!!
Salma hampir dibuat menganga dengan perkataan bosnya. Ini maksudnya bagaimana ya? Bahkan bosnya belum mengatakan apapun semenjak Salma duduk di depannya selain persetujuan dirinya untuk masuk ke ruangan dan kata terakhir yang mengisyaratkan bahwa Salma di suruh keluar dari ruangan bos-nya.
"Pak, t-tapi kenapa bapak manggil saya kalau ngga ada yang mau bapak bicarain."
Pak Arga melambaikan tangannya, menyuruh Salma untuk segera hengkang dan tidak membahas persoalan itu lagi.
"Sudah-sudah, kamu kembali saja ke meja kerja kamu sekarang. Ngga usah banyak tanya."
"T-tapi pak ...."
"Saya bilang kembali, Salma. Apa kamu tidak dengar?!"
Merasa dirinya diusir, akhirnya Salma menuruti perintah atasannya dan keluar dari ruangan pria itu dengan misuh-misuh.
Bagaimana tidak? Bosnya itu plin-plan sekali. Sudah memanggilnya masuk ke ruangan, eh setelah masuk malah di suruh keluar lagi. Dasar aneh!
Salma duduk di kubikelnya, menyalakan komputer dan memulai pekerjaan yang sudah menunggunya untuk cepat diselesaikan hari ini.
Persetan dengan Pak Arga! Dia tidak mau memikirkan pria itu dan akan fokus bekerja saja hari ini.
Oke, Sal, fokus! Fokus! Fokus!
***