Possesive

1835 Kata
“Woah, estetik sekali pedangnya.” Dayu menarik senjata yang ukurannya lebih kecil dari sarungnya, dan melihat di besi tajam itu ada aksara Jawa kuno terukir di sana. “Diah Rahayu Pitaloka. Oh jadi pedang ini punya dia. Berarti punya wanita yang berkali-kali datang dalam ingatan aku. Yang disebut-sebut sebagai istrinya.” Tak ingin pikirannya pergi lagi ke mana-mana, gadis itu meletakkan kembali pedang tersebut di tempatnya. Ia pun tak menyadari dirinya yang bisa membaca aksara kuno tanpa ada yang mengajari. *** Bima terbangun ketika ia merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik. Bekas panglima perang bertubuh tinggi itu melirik jam di dinding, sudah pukul 11.00 siang. Ia memanggil istrinya beberapa kali, tetapi tak juga ada jawaban. Lelaki itu berdiri, kepalanya yang tadi malam sakit luar biasa sudah tidak terasa lagi perihnya. Ia juga menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, tak ada lagi nyeri yang tertinggal. Perutnya berbunyi ketika ia berjalan beberapa langkah. Gegas lelaki itu menuju ke dapur, tetapi sebelumnya ia membuka kamar di mana Dayu pernah menginap selama sehari. Kosong, tak ada siapa pun di sana. Bekas panglima perang itu membuka lemari tempatnya biasa menyimpan makanan. Ada aneka masakan telah terhidang di sana, dari bahan utama daging dan juga sayuran aneka warna. Ia tersenyum karena akhirnya bisa merasakan kembali makanan buatan istrinya. Dengan lahap ia menyantap habis semua makanan sembari senyum-senyum sendiri. Selesai makan dan membersihkan diri, Bima mengambil ponselnya yang hancur dan layarnya retak. Tak ingin ambil pusing mengapa benda itu tak kunjung hidup, ia membuka laci lemari bagian paling bawah, mengambil ponsel baru dan memasukkan sim cardnya di sana. [Kau di mana?] Ia mengirim pesan singkat pada Dayu. Beberapa menit menunggu tak juga ada jawaban, lagi ia mengirim pesan dan tak kunjung memperoleh kepastian. Gegas ia menelpon nomor gadis itu sebab rasa rindu mendengar suaranya meski baru beberapa jam berpisah. Panggilannya ditolak, ia menautkan dua alisnya, segera saja ia mencari di mana kunci mobilnya, tetapi sebuah pesan singkat dari Dayu datang. [Di kelas ada ulangan. Jangan berisik!] [Kenapa kau pergi tannpa memberitahuku] [Dibilang jangan berisik. Ampun deh bapak-bapak ini. Dah, bye] Tak ada balasan lagi dari Dayu, ia mencoba lagi menelepon, tetapi nomor gadis itu tidak aktif lagi. *** Dayu mengabaikan jam makan siangnya di kantin ketika waktu istirahat telah tiba, bukannya ia tak lapar, melainkan tidak ada lagi uang yang cukup di dompetnya. Tadi, sebelum pergi ke sekolah ia berbelanja bahan makanan yang harganya lumayan di supermarket terdekat, sebab ia tak berani menyentuh lagi barang-barang milik Bima tanpa izin dari yang punya. “Kerenya,” ujar Dayu ketika melihat sisa uang di dompetnya. Di kos tadi ia dimintai uang kebersihan dan juga listrik. Meski katering dibayarkan oleh Bima, tak mungkin juga baginya jika tidak membeli apa-apa. Dan tak mungkin juga untuknya meminta-minta uang dari orang lain. “Apa aku kerja sambilan aja, ya? Ah nanti aja pikirin, sekarang kita ke perpus aja, daripada lihat yang lain makan tapi kita nahan diri.” Dayu pergi ke tempat yang ia tuju. Ia membawa buku kecil dengan pena untuk mencatat hal apa saja yang bisa ia temukan. Gadis itu berdiri di rak buku dimana segala hal yang berkaitan dengan sejarah dan ilmu sosial. Netranya menangkap sebuah buku cokelat tebal dan di sampul depannya bertuliskan sejarah Majapahit baik dengan tulisan Indonesia atau pun aksara Jawa kuno. Beberapa menit membaca buku ia mencari tahu kebenaran nama wanita Diah Rahayu Pitaloka yang sering digumamkan Bima, tetapi lagi-lagi tak ada petunjuk apa pun, bahkan nama Bima Wiraja juga tidak tercatat. Hanya ada nama putra makhkota Mahaputra yang tertulis tidak pernah memerintah walau hanya sebentar saja, diduga pangeran itu moksa ke alam lain. Seseorang menepuk bahu Dayu dari belakang hingga membuat gadis itu terkejut. “Kita bukan anak sosial, kenapa baca sejarah?” tanya Arkan pada Dayu. “Oh iseng aja, sambil isi waktu.” “Dari?” “Nggak ada. Kamu ngapain di sini?” Arkan menyodorkan sebatang cokelat pada gadis itu sebab beberapa kali perut Dayu berbunyi karena rasa lapar. Dengan sedikit malu gadis itu mengambilnya. “Di perpustakaan nggak boleh makan. Mending kita ke kantin aja,” ujar Arkan. “Tapi aku belum selesai baca ini.” Tunjuk Dayu pada buku tebal itu. “Udah masa lalu, ngapain harus dipikirin. Nggak akan ada yang berubah juga walau kamu baca buku itu berkali-kali.” Gadis itu mengangguk mendengar tutur kata Arkan. Benar, tidak ada yang bisa memutar waktu kembali ke belakang apalagi sampai hampir seribu tahun. Namun, gadis itu sempat mencatat beberapa peninggalan sejarah milik Kerajaan Majapahit, ia berencana ke sana mengikuti kata hatinya. “Candi Brahu. Nanti kalau sudah ada uang aku ke sana, barangkali ada petunjuk jadi kepalaku nggak diisi hal-hal aneh terus,” gumam Dayu seorang diri saat berjalan bersama Arkan. *** Sore hari usai pulang sekolah, Dayu memasak makanan ala kadar saja khas anak kos-kosan demi mengirit biaya hidup. Meski katering yang dikirim berisikan lauk yang serba mengenyangkan, tetapi ia tetap saja menggerakan tangannya di dapur, meracik bahan demi bahan hingga kembali membangkitkan selera makannya. “Kok aku makan terus ya kerjanya?” tanya Dayu seorang diri ketika mi instan dan nasi telah tandas di piringnya, “Kayak habis nggak makan bertahun-tahun.” Dayu berjalan ke luar kosnya untuk menghilangkan rasa bosan di kepalanya. Tugas rumah yang diberikan para guru telah selesai ia kerjakan dalam waktu sekejap. Ia terus berjalan dengan niat mencari pekerjaan paruh waktu, atau ia akan berakhir seperti gembel karena tak punya uang sepeser pun di dompetnya. Gadis itu pergiseorang diri dengan hoodie yang menutupi kepalanya, hingga ia menemukan sebuah minimarket yang berjarak kira-kira 1 km dari kos-kosannya. Di pintu depan itu tertuliskan membutuhkan karyawan untuk kerja dari sore hingga malam. Ia ingin melangkah masuk ke sana, tetapi Dayu teringat dengan jam malam yang hanya sampai pukul 20.00 saja dan gerbang telah terkunci. “Ah, coba aja dulu.” Dayu meyakinkan dirinya sendiri. Setelah berbicara beberapa saat dengan orang kepercayaan pemilik mini market, Dayu diberikan pekerjaan hingga sampai jam 8 malam dengan gaji jauh di bawah standar. Gadis itu merasa senang, sebab tak bimbang lagi menggantungkan hidupnya pada siapa, hanya saja ia harus pintar-pintar menghemat keuangan jika tak ingin kekurangan setiap bulannya. Ia mulai kerja sore itu juga. Dayu sengaja tak menghidupkan ponselnya sebab ia tahu Bima pasti meneleponnya lagi, ia tak ingin diganggu, atau terjebak dalam situasi yang hanya mereka saja berdua di sana dan tak ada yang ingin mengakhirinya. Ketika mini market telah sedikit sepi sebab hari hujan, seorang pria berdiri di meja kasir tempat Dayu memasukkan barang belanjaan. Satu suara yang keluar dari bibir pria itu membuat gadis berambut hitam itu menjatuhkan bahunya dengan malas. “Ada yang bisa dibantu?” tanya Dayu sembari berpura-pura ramah dengan senyum dipaksakan. Namun, caranya bertanya mendapatkan teguran langsung dari karyawan yang lebih senior. Gadis itu diberi tahu bahwa baru saja hanya dalam hitungan jam setelah ia bekerja, kepemilikan mini market itu telah berganti dari bos yang lama pada seseorang bernama Bima. Dayu bahkan diperintahkan untuk memberi senyum semanis mungkin pada lelaki itu. “Dia wakilku di sini. Turuti semua perkataan gadis ini atau kalian saya pecat semuanya. Paham!” Suara tegas Bima membuat sang senior langsung mengerti dan paham siapa gadis di depannya. “Dan kau, ikut aku sekarang, biar mereka yang bekerja.” Bima menarik paksa tangan Dayu dan mengambil keranjang belanjaan tanpa melepas istrinya. “Aku lapar, kau belanja apa saja yang kau mau, lalu kita pulang dan masak untukku.” “Cih! Aturan dari mana?” “Dariku. Kau tak dengar tadi?” “Dengar, ya—“ “Atau aku katakan apa yang kau lakukan semalam di kamarku pada pihak sekolah dan kau pun dikeluarkan karena dianggap melakukan tindakan asusila!” ancam Bima Telunjuk Dayu turun mendengar kata sedemikian rupa. Ia dengan kasar mengambil keranjang dari tangan Bima, berjalan dari satu stand ke stand lain, mengambil bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak. Tak tanggung-tanggung, ia memenuhi tiga keranjang demi melampiaskan rasa kesalnya. ‘Apa jangan-jangan bapak ini tahu aku ngapain aja kemaren malam?’ tanya Dayu dalam hati. Malam itu ketika Bima tak juga sadarkan diri, Dayu sempat berbaring di sebelahnya, ia kembali menuruti kata hatinya, masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Bima dan terlelap walau hanya sebentar saja dalam pelukan pria itu tanpa Bima sadari. Atau bisa jadi bekas panglima perang itu tahu tapi pura-pura tak sadarkan diri. *** Kembali gadis itu berada di rumah Bima. Ia mengemas belanjaan dan mulai memotong-motong bahan untuk di masak, sementara pria itu tak menampakkan diri. Penuh emosi gadis itu memotong semuanya hingga menjadi bentuk yang sangat kecil. Ketika Dayu memasukkan semua bahan di dalam wajan, Dua buah tangan melingkar di pinggangnya. Gadis itu tersenyum sesaat, pikiran jahanamnya berkelana sebab sebuah pisau tajam masih ia pegang. Ia memutar tubuhnya dan mengarahkan pisau itu tepat ke leher Bima. “Jangan curi-curi kesempatan lagi sampai aku tahu atau ingat siapa diriku sendiri!” Dayu menekan pisau itu ke leher Bima lebih dalam. Namun, lelaki itu hanya tersenyum saja. Bima kemudian menekan ibu jari Dayu hingga pisau di tangan gadis itu terlepas dan bergantian ia memutar tubuh gadis itu ke arah depan dan kini posisi mereka telah berada sangat dekat. “Kau tak pernah menang melawanku.” Dayu menginjak kaki Bima dengan kuat dan lelaki itu akhirnya mengaduh, sembari memegang kakinya sendiri. “Rasain!” Lelaki itu meringis, ia ingin membalas perlakuan istrinya yang masih saja kekanak-kanakan. “Jangan bergerak, kalau nggak mau masakan ini gosong!” balas Dayu ketika melihat Bima ingin berpindah tempat. Tertatih Bima menuju tempat makan, ia dengan sabar menanti disana, memandang punggung itu dari belakang. Ia ingat dengan jelas walau tubuh itu berbeda kini, dulu Bima pernah menyergapnya dari belakang dan Ayu tak bisa bergerak lagi hingga hal-hal yang lebih jauh pun terjadi. Walau dulu Ayu sempat menolaknya mentah-mentah, tetapi berkat paksaan darinya, tabib itu pun tak bisa menjauh darinya. “Seharusnya aku bisa berduaan denganmu sekarang juga, setelah kau memasak, kita makan sama-sama dan ... tapi kau masih belum mengingat siapa kita, karena kau belum mau merelakan semua kejadian yang dulu terjadi.” Sepiring tongseng daging sapi dengan aroma bumbu yang sangat kuat tersaji di meja Bima, lengkap dengan nasi dan juga lauk lainnya. Rasa masakan yang begitu menggugah seleranya hingga tak memandang Dayu yang menatapnya dengan tatapan aneh. “Laper banget, ya?” Tak ada jawaban, lelaki itu hanya mengangguk saja. Dayu berlalu ingin mengambil dompetnya untuk pulang ke kos-kosan, walaupun waktu telah menunjukkan pukul 22.00 malam, setidaknya ia akan membujuk penjaga gerbang untuk membukakan kunci untuknya. Gadis itu melebarkan matanya ketika ia melihat begitu banyak lembaran rupiah berwarna merah dan biru dalam dompetnya. “Waah. Sering-sering aja kayak gini. Nggak pusing aku mikirin biaya hidup.” Namun, detik itu juga ia tersadar dan melirik Bima yang masih makan dengan lahapnya, “Ini biaya masak hari ini, makasih,” ujarnya sembari melangkah ke depan pintu. Namun, seketika itu juga pintu depan terkunci dengan sendirinya dan tak bisa dibuka, sebab ulah Bima yang tak ingin Dayu pergi lagi darinya. “Kita ulangi lagi kejadian semalam, ya. Kalau bisa lebih serius,” ucap Bima dengan santai tanpa memikirkan perasaan Dayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN