Putra Makhkota

1736 Kata
B Dayu membuka pintu secara paksa berulang kali. Gadis itu benar-benar takut dengan ucapan Bima sebelumnya. Ia hanya tak ingin dicap benar-benar sugar baby jika sampai jatuh lagi dalam rayuan lelaki itu. “Aku cuma bercanda.” Bima tersenyum usai menyelesaikan makannya di meja. “Nggak lucu!” “Terserah. Asal aku bahagia.” “Cih! Bapak-bapak kegatelan!” “Masuk ke kamarmu sekarang, atau aku berbuat nekat dan hentikan semua ocehanmu. Kau benar-benar kehilangan tata krama bagaimana cara berbicara dengan suami sendiri.” Bima membanting sendok di meja hingga air di dalam gelas bergetar, sembari menahan senyum di wajahnya. Ia sengaja berkata seperti itu agar gadis itu tak pergi lagi dari rumah mereka. Melihat lelaki itu benar-benar marah, Dayu berlari masuk ke dalam kamar belakang yang disediakan oleh Bima. Ia mengunci pintu dan menggeser meja sebagai beban tambahan agar lelaki itu tak menerobos ke dalam kamarnya. Gadis itu melirik jam di dinding, sudah pukul 24.00 malam, cepat saja ia merebahkan diri di ranjang, sebab rasa kantuk yang melanda. Namun, sebelum itu ia membuka laci meja, mencari benda untuk berjaga-jaga apabila Bima bertindak nekat padanya. Dapat, ia temukan sebuah belati dengan warna kuning keemasan dan terpahat gambar burung elang di gagangnya. Ia lalu menyimpannya di bawah bantal dan terlelap begitu saja. *** Bima masuk secara tiba-tiba ke dalam kamar Dayu tanpa menyentuh atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia memang memiliki kesaktian mampu berpindah tempat hanya dalam sekejap mata, ilmu yang ia peroleh akibat pengorbanan Ayu di zaman dahulu. Lelaki itu membuka selimut yang menutup seluruh tubuh Dayu, ia mulai menempatkan tangannya di setiap inchi kulit gadis itu. Bahkan perlahan-lahan bekas panglima perang itu mulai menghidu wangi rambut Dayu, leher dan juga bibirnya. Merasakan ada yang aneh, gadis itu membuka matanya dan menahan pergerakan tangan Bima yang kini telah ada di perutnya. Satu tangan Dayu meraba di balik bantalnya. Ia mengambil belati tajam demi mempertahankan diri. “Serahkan dirimu padaku malam ini. Aku suamimu, aku berhak atas hidupmu,” ucap Bima dengan mata yang mulai berembun. Lelaki itu membalikkan tubuh Dayu hingga kini telah berada dalam kuasanya. “Jangan mimpi!” Cepat gadis itu menikam belati di perut Bima tanpa diduga oleh lelaki itu. Bima memandang istrinya dengan tatapan tak percaya, ia melihat perutnya kini bersimbah darah. Bekas panglima perang tersebut mencabut pisau itu dan darahnya kembali mengalir membasahi sprei di kamar Dayu. “Kau ke-kejam.” Bima menatap Dayu yang masih melihatnya sembari menggelengkan kepala. Lelaki itu kemudian terjatuh dan tubuhnya menghilang bagaikan debu yang tertiup angin. Dayu berusaha mengumpulkan debu itu meski tak mungkin karena tangannya tak kuasa menggenngam semuanya. “Jangan!” jerit Dayu sembari menarik napas panjang. Gadis itu terbangun dari mimpinya yang menyeramkan. Tak ada siapa pun di kamar itu, hanya ia seorang tanpa ada Bima yang menerobos masuk. Ia kemudian melihat di balik bantal, belati itu tak ada lagi di sana. Aneh baginya, sebab pintu yang ia palang sedemikian rupa tak rusak sama sekali. “Untung cuma mimpi.” Dayu mengelus hatinya sendiri, andai benar Bima ia bunuh entah apa yang akan terjadi berikutnya. Gadis itu melirik ke meja kecil di sebelah ranjangnya. Ada dua botol air mineral di sana, padahal tadi ia tak membawa apa pun saat masuk. “Pasti kerjaan Bapak ganjen itu. Baru inget aku dia bisa menghilang seperti waktu itu pas kecelakaan.” Tak bisa tidur lagi, gadis itu membongkar apa saja yang ada di kamarnya. Di dalam laci tempat aneka perhiasan tersimpan, ada sebuah jepit rambut yang menyita perhatian Dayu. Jepit rambut panjang dengan warna kuning keemasan dan ada ukiran bunga nan rumit sebagai hiasannya. “Sepertinya nggak asing benda ini.” Ia kemudian meletakkan lagi benda itu di tempatnya. Netranya tertarik ketika ia menemukan sebuah album foto di dalam laci. Gadis itu mengambil dan membukanya, seketika ia disajikan dengan foto-foto pria dari satu macam gaya ke gaya lainnya. “Batavia 1930,” ujar Dayu ketika melihat pakaian Bima begitu rapi bersama lelaki lain sembari menenteng senapan panjang. “Djakarta, 1960,” lanjutnya lagi ketika Bima menggunakan pakaian serba putih dengan stetoskop bersama rekan lainnya. “Kok bisa, ya, ada orang hidup sampai sepanjang ini umurnya. Nggak tua-tua lagi.” Ia kembali membuka lembaran berikutnya. “Australia, 1990.” Dayu melihat foto Bima bersama beberapa atlet sedang bersiap menunggang kuda. “Penyamaran yang sempurna, semua foto-foto ini seperti beneran. Halah, paling juga cuci cetak sendiri. Biar aku percaya kalau dia benar-benar orang dari zaman Majapahit.” “Kau salah. Itu semua memang fotoku di zaman tahun yang tertera di tulisan itu. Aku benar-benar melewati waktu demi waktu untuk menunggumu.” Bima berada di belakang Dayu secara tiba-tiba hingga membuat gadis itu terlonjak kaget. “Masuk dari mana?” tanya Dayu heran, sebab pintu kamarnya tak bergeming walau hanya sedikit. “Lewat pikiranmu. Selagi kau sedang memikirkanku, aku bisa datang di mana saja kau berada.” Lelaki itu mengambil album foto dari tangan Dayu, ia tergerak untuk menjelaskan satu demi satu semua bukti bahwa ia memang berasal dari masa lalu. “Ini foto waktu aku bersama-sama dengan yang lain mengusir penjajah. Semua profesi sudah aku jalani. Dokter, pengacara, atlet, abdi negara, model, gu—“ “Astronot?” “Tak berminat. Aku takut tak bisa kembali ke bumi lalu kau tak menemukanku ketika kembali hidup.” Bima memandang istrinya lekat-lekat meski gadis itu berpaling darinya. “Hidup sekian tahun berganti identitas dari satu nama ke nama lainnya, pasti udah banyak kekayaan yang disimpan.” Dayu menopang dagunya dengan tangan, ia ingin mengetahui lebih jauh tentang lelaki dewasa di hadapannya. Ia mulai tertarik sebagaimana seorang wanita menyukai lelaki. “Ya, kau benar. Harta kekayaanku ada di Indonesia atau pun luar negeri. Di Bank Swiis dan juga Singapore. Ada ragam investasi, seperti emas, properti, saham. Bahkan aku punya gedung-gedung tinggi yang disewakan dan beberapa mall besar yang tak asing lagi namanya.” Dayu hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Bima, ia tanpa sadar mulai memandang Bima dengan penuh harap. Bukan karena jumlah kekayaan yang dimiliki bekas panglima perang itu, melainkan cara bicaranya yang tegas dan rasa aneh yang mulai muncul dari dalam hatinya. “Kenapa, kau mulai tertarik denganku?” Bima mendekatkan wajahnya pada gadis itu, hingga Dayu secara alami jatuh dari tempat duduknya. “Baru juga mulai tertarik, udah bikin illfeel.” Gadis itu berdiri dan mendengkus kesal. Bima menarik tangan Dayu yang terlihat ingin menghindar darinya. Ia meminta penjelasan tentang perkataan tertarik barusan, bukan meminta, melainkan menuntut. “Jelaskan tertarik itu. Apa kau mulai mengingat semuanya?” Dayu tak menjelaskan apa yang ditanyakan Bima, melainkan ia hanya menatam bola mata hitam sekelam malam itu lekat-lekat tanpa berkedip. “Bicaralah, kenapa diam membisu?” Jemari Bima mulai naik menyentuh pipi Dayu. Namun, dengan cepat gadis itu menjauhkan diri dan membuat Bima kembali memejamkan mata demi menahan hasrat di dalam dirinya. “Kalau Bapak mau. Bisa nggak kita mulai pelan-pelan supaya hubungan kita berjalan natural satu sama lain seperti orang-orang, gitu.” “Pelan-pelan katamu? Coba kau hitung sudah berapa kali bermesraan hanya berdua, meski belum sampai ke hal yang lebih intim.” “Baru dua kali juga.” “Lebih. Jangan kau kira aku tak tahu kau memelukku semalam, mencuri kesempatan ketika aku tak berdaya. Aku tahu, tapi tak bisa bergerak hanya karena masih lemah. Jika saja waktu itu aku ... sudah habis kau menangis dan merintih dalam pelukanku.” Dayu mengerjap cepat. Dugaannya salah ketika mengira lelaki itu tak tahu dirinya sedang dipeluk erat. Ia hanya beruntung saja sebab Bima sedang tak berdaya. “Kalau mau tawaran tadi, kalau nggak ya udah, aku cari cowok lain aja,” ujar Dayu santai sembari mengendikkan bahunya. “Jangan berpikir kau bisa pergi dariku lagi. Kau tahu hampir seribu tahun lamanya aku menunggumu.” Bima menarik Dayu hingga kini jarak mereka hanya dibatasi oleh helaian baju yang menempel di tubuh mereka, “Hanya aku yang boleh sedekat ini denganmu.” Dayu ingin lepas dari cengkeraman Bima, tetapi tangan itu begitu kokoh mengurungnya. Perlahan jemari bekas panglima perang itu mulai bermain di wajahnya yang putih, lalu turun ke hidung Dayu dan mancung dan berhenti di bibirnya yang berwarna merah alami. “Aku tak pernah puas mengecup ini, selalu saja merasa kekurangan.” Bima mendekatkan wajahnya, Dayu meragu antara menjauh atau diam saja di tempat. Ia pun sama, tak pernah puas mengecup bibir lelaki itu yang begitu hangat. Ada kepuasan tersendiri di hatinya ketika mereka begitu dekat. Dan akhirnya, dua wajah itu benar-benar tanpa jarak lagi untuk yang kesekian kalinya. Tangan Bima melingkar di pinggang Dayu. Begitu juga gadis itu yang mulai menyentuh pundaknya demi mencari penopang. Begitu lama mereka bermesraan, sampai Dayu benar-benar menyerah ketika ia hampir kehabisan napas. “Cukup. Aku nggak mau terlalu jauh.” Gadis itu mendorong Bima yang kesadarannya belum terkumpul semua. Lelaki itu menarik napas panjang, meredam kembali naluri lelakinya yang menyeruak memenuhi kepalanya. “Baik. Istirahatlah, besok aku antar ke sekolah.” Dengan kekuatannya, Bima tanpa menyentuh apa pun menggeser semua penghalang di pintu agar ia bisa ke luar dari sana. “Oh, iya, Pak, tadi aku ada baca buku sejarah Majapahit,” ujar Dayu hingga membuat Bima berhenti di tempatnya. Ada sekeping pengkhianatan yang kembali merasuki hatinya. “Lalu?” “Nggak ada nama Diah Rahayu Pitaloka. Tapi dari tahun yang bapak sebutkan, ada ketemu nama Mahaputra. Bapak kenal?” “Tak usah mencari tahu. Ada kalanya kau tak perlu mengingat masa lalu yang menyakitkan.” Bima menutup pintu dengan kuat hingga terdengar suara bantingan di telinga Dayu. Gadis itu menautkan dua keningnya. Jawaban lelaki itu sama dengan Arkan tadi siang. “Ya. Kalau gitu kapan-kapan aku coba jalan ke Candi Brahu aja, siapa tahu ada petunjuk lain di sana.” *** Arkan kembali menerobos kamar Dayu ketika gadis itu tak ada lagi di kamarnya. Ia sama dengan Bima, memiliki kesaktian yang tak bisa dibilang main-main. Moksa yang dijalani oleh Mahaputra mengakibtakan putra mahkota itu hidup abadi dan bisa merasuki tubuh siapa saja untuk kepentingannya. “Tak ada lagi di tempat. Kau pasti pergi ke tempat k*****t Bima itu untuk kembali menemaninya.” Arkan menggengam tangannya sendiri dengan kuat. “Meskipun hampir seribu tahun lamanya. Tak akan semudah itu cinta kalian bersatu. Aku akan memisahkan kalian lagi seperti dulu. Walau harus bersimbah darah lagi dan banjir air mata di kakiku sendiri." Dari telapak tangan Arkan, muncul sebuah bayangan peristiwa masa lalu di mana Bima dan Ayu dipisahkan. Bima terjatuh ke dalam jurang, sedangkan Ayu wanita yang begitu Mahaputra inginkan hanya menangis di dalam penjara saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN