Ayu merenung di dalam penjara, selama beberapa hari di sana, ia tak diberi makanan dengan baik. Wanita itu tak masalah jika hanya dirinya yang kelaparan. Namun, tidak dengan anaknya, jika bisa ia sudah menerobos dinding kokoh itu dan pergi mencari suaminya. Belum lagi dingin yang semakin mencengkeram diri dan membuatnya giginya bergemeretakan. “Penjaga, tak adakah makanan untuk anakku. Sudah dari kemaren aku tak diberi makan?” tanyanya ketika seorang prajurit melintas di hadapannya. Namun, bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan hardikan, sebab tindakan penyerangan yang ia berikan pada putra makhkota membuat dirinya mendapatkan siksaan lebih keras dibandingkan tahanan lainnya. “Kapan kau akan kembali. Kau tak kasihankah dengan istri dan anakmu yang tersiksa ini?” Ayu kembali duduk da

