Kiriman

1269 Kata

Ayu terbangun dengan napas terengah. Ia kemudian menoleh ke kiri dan kanan lalu melihat tubuhnya sendiri. Tak ada tanda-tanda bekas air siraman lumpur. “Untung hanya mimpi.” Gadis itu memegang daadanya yang berdegup kencang. Ia melihat teman-temannya yang lain masih terlelap. Beberapaa saat termenung, Ayu memegang betisnya yang terasa pedih. Bekas cambukan rotan dari Bima memerah bahkan berdarah di sana. Menodai kulit kuningnya yang bersih. “Kenapa juga aku tolong dirimu. Harusnya aku biarkan kau menderita karena lukamu saja.” Ayu memijit kakinya yang belum sempat ia obati. Sebagai seorang tabib ia memang sering mengabaikan dirinya sendiri. *** Kentungan telah dibunyikan. Semua pasukan di bawah pimpinan Bima berlalu-lalang mempersiapkan diri. Kecuali Ayu yang tak bisa terlelap dar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN