Bima menunda perjalanan masa lalu mereka berdua selama tiga hari. Ia masih belum siap kehilangan Dayu lagi. Dan selama itu pula mereka hanya tinggal di kamar hotel lalu sesekali pula berjalan-jalan, mereka senantiasa menghabiskan waktu-waktu yang ada hanya dengan berbagi rasa dan peluh bersama. Bima sadar dirinya egois dan keterlaluan, sebab ketika mereka telah tanpa jarak dan batasan sedikit pun, Dayu seolah-olah seperti patung saja, karena ingatan masa lalu kembali menghantuinya. “Yakin jadi, ya. Jangan ditunda lagi?” Dayu bertanya sekali lagi ketika melihat suaminya mengenakan celana jeans, baju kaus dan juga sepatu khusus. “Kalau kau tunda pun tak masalah bagiku,” sahut Bima ketika membalur tubuhnya dengan parfum beraroma maskulin, “Kalau hubungan kita normal aja nggak masalah. I

