Ilusi

1154 Kata
Dua kilatan cahaya beradu di langit tanpa ada satu pun makhluk yang menyadari. Kekuatan mereka imbang, tak ada yang lebih lemah tak ada yang lebih kuat. Saling melayangkan senjata tajam dan terluka selama beberapa waktu tanpa ada jeda membuat pakaian Bima dan Mahaputra koyak di sana sini. “Kau tak sadarkah sudah berapa lama meninggalkan istrimu?” Seringai Mahaputra pada Bima. Bekas panglima perang itu tersentak ketika menyadari telah hampir berjam-jam lamanya ia berada di alam gaib. Ia tak berniat meneruskan pertarungan, lelaki itu ingin kembali pada istrinya yang telah beberapa hari ia tinggalkan di dunia manusia. “Aku punya banyak siluman di bawah perintahku. Dengan mudah aku bisa menculik Ayu, seperti yagn dilakukan Rahwana pada Sinta. Dan kau tak punya punggawa satu pun untuk menolongnya.” Mahaputra memejamkan matanya, seketika tangan Bima ditahan oleh makhluk tak kasat mata di bawah perintah sang pangeran. “Lepas!” teriak Bima ketika ia menghantam dengan siku makhluk yang hanya ia rasakan wujudnya saja. Bekas panglima perang itu kembali melayangkan pedangnya. Beberapa kali ia menebas tubuh makhluk gaib yang mencoba menghalanginya. Ia mengejar Mahaputra yang sedikit lagi menghilang dan menembus tempat di mana Dayu berada. Ia menarik kain panjang sang pangeran culas. Bima membanting Mahaputra dengan kuat hingga tubuh sang pangeran menembus gunung dan bukit yang amat jauh. Dan dalam kesempatan itu pula Bima merapal mantra untuk kembali ke alam manusia. *** Lelaki itu kembali ke dalam kamar dan masuk ke dalam tubuh kasarnya. Luka-luka di tubuhnya telah menghilang dan tak terlihat bekas pertarungan sama sekali, begitu juga dengan pedangnya yang raib. Ia memakai baju kaus dan bergegas keluar dari kamar, mencari keberadaan istrinya. Namun, gadis itu tak ada di manapun. Terlebih lagi hari sebentar lagi akan malam. Bima mulai berpikir bahwa Dayu telah diculik oleh Mahaputra. Ia pun mengambil ponselnya, mencoba menelepon, tersambung tetapi tidak ada jawaban. Hatinya jadi semakin resah. Bima menutup mata, mencoba mencari di mana Dayu berada. Melalui pikiran gadis itu ia bisa masuk dan menemuinya. Namun, sekali lagi tak ada tanda-tanda yang teraba. Bekas panglima perang itu lalu mengambil kunci mobilnya ingin mencari istrinya melalui aplikasi yang menghubungkan nomor mereka. Akan tetapi, ketika pintu rumah terbuka. Ia melihat Dayu yang masih memakai sergam sekolah sedang membuka gerbang rumahnya. Lelaki itu tersenyum sebab gadis itu masih utuh tanpa kekurangan suatu apa pun. Dayu berlari ke arah Bima sembari merentangkan kedua tangannya. Lima hari tak berjumpa dan hanya meninggalkan sebuah surat membuat gadis itu pikirannya melayang ke sana kemari tak tentu arah. Sembari memanggil nama kekasihnya ia terus berlari dan ketika jarak mereka sudah sangat dekat, tanpa rasa malu lagi, Dayu memeluk Bima dengan sangat erah, bahkan Bima sampai mundur beberapa langkah ke belakang karena dorongan tenaga dari istrinya. Kaki Dayu sampai bergantungan tak menyentuh tanah ketika ia memeluknya dengan sangat erat. Tak ada yang mengganggu kebersamaan mereka berdua, kecuali suara tukang sampah yang tiba-tiba lewat dengan klakson yang memekakkan telinga. “Kita ke dalam.” Bima menarik tangan Dayu dan mengunci pintu. “Eits, mau ngapain, ha?” Dayu mendorong Bima yang kembali ingin memeluknya. Gadis itu baru sadar tadi ia terlalu berlebihan dalam mengungkapkan rasa rindu. “Kau tadi memelukku, lalu aku tak boleh memelukmu?” tanya Bima heran. “Udah selesai yang tadi, nggak ada siaran ulang. Udah, lagian aku mau pulang. Capek tadi habis dikejar-kejar orang nggak dikenal,” ucap Dayu sembari membalikkan diri, ia ingin pulang ke kos-kosannya. “Maksudmu, orang-orang tak dikenal itu seperti apa?” Bima mulai memperhitungkan ucapan Mahaputra yang akan menculik Dayu. “Oh itu. Tadi ke sini naik ojek online. Terus tiba-tiba bannya kempes. Yaudah lanjut jalan kaki. Entah dari mana aja muncul belasan orang nggak dikenal lari, ngejar aku, ya udah lari terus sampai ke sini.” “Kalau begitu jangan pergi. Tinggal di sini sampai semuanya aman!” Lelaki itu kembali mengunci pintu rumahnya, ia menelisik keadaan sekeliling. Tidak ada tanda-tanda kemunculan orang-orang yang dimaksud Dayu, “Masuk kamar. Sekarang!” perintahnya pada istrinya. Gegas gadis itu masuk dan mengunci kamarnya, ia membersihkan diri dan mengganti baju sebab ia tahu Bima pasti tak mengizinkannya pulang. Waktu terus berlalu, Bima masih duduk di depan pintu dengan memegang stik bola kasti demi berjaga-jaga. Tak ada kegiatan lain, Dayu lebih memilih memasak makanan untuk mereka berdua. “Pak, ehm lima hari menghilang ke mana?” tanya Dayu memecahkan kesunyian, sebab pandangan Bima tak lepas dari jendela. “Urusan dengan bekas majikan dulu.” “Ha, majikan? Katanya orang kaya, kok punya majikan?” gumam Dayu seorang diri. “Dia berasal dari zaman yang sama dengan kita, hampir seribu tahun juga usianya. Orang yang sama, yang mendorongmu ke jurang.” Dayu terdiam di depan kompor. Sungguh semua misteri yang membelitnya membuat gadis itu ingin muntah. Ia belum bisa mengingat apa pun sama sekali. Gadis bermata indah itu hanya menyiapkan makanan di meja dan menarik paksa Bima agar makan bersamanya. Dua orang itu seolah-olah enggan untuk menghabiskan hidangan. Semuanya sibuk dengan isi kepala masing-masing. Dan tanpa mereka sadari, sukma Mahaputra telah duduk di antara mereka sembari tersenyum penuh kelicikan. Malam semakin larut, dan tak ada yang memulai perbincangan. Bima duduk di sofa dengan tetap memegang pemukul kasti, dan Dayu mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu. Tidak ada lagi kata-kata mesra yang dilontarkan, juga tidak ada rencana masa depan yang kerap kali dibicarakan Dayu dan Bima hanya menjadi pendengar yang baik saja, semuanya terasa hampa. Vas bunga di dalam rumah pecah. Pangeran Mahaputra menghantamnya dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia tak senang dua orang itu hidup tenang. Sontak, Bima dan Dayu menoleh ke arah suara, saling bertanya ulah siapa. “Masuk ke kamar dan pergi tidur!” Dayu bergegas menuruti kata lelaki itu. Namun, pintu kamar tertutup dan terkunci begitu saja ketika gadis itu telah sampai di dalam. Istri ribuan tahun Bima itu lantas menggedornya berulang kali meminta pertolongan sebab hawa di dalam kamarnya mendadak menjadi dingin seperti es. “Menjauh dari pintu!” Dayu mundur beberapa langkah. Bima kemudian menendangnya hingga pintu itu terbuka. Sayangnya, istri masa lalunya telah tak ada di tempat. Ia mencari sampai ke kamar mandi, dalam lemari bahkan belakang pintu, tetapi Dayu tak juga terlihat. Sebuah sentuhan di bahu Bima membuat lelaki bertubuh tinggi itu menoleh. “Kenapa? Kok, tiba-tiba tendang pintu dan panik?” tanya Dayu. “Kau di sini, lalu tadi yang di dalam siapa?” Bima menyentuh pipi Dayu, memastikan gadis itu benar-benar nyata dan bukan tipuan seperti tadi. “Pak Bima capek ini, tidur dulu, ya. Aku takut kenapa-kenapa habis menghilang lima hari, please.” Dayu menyentuh dua tangan Bima, secara bersamaan hawa yang hangat mengalir dari tangan gadis itu. Hawa yang mengalirkan ketenangan di hati kekasihnya. “Iya, mungkin. Aku bertarung sampai hampir mati tadi.” Dayu menarik tangan Bima ke dalam kamar lelaki itu. Namun, hanya dalam hitungan detik saja, wujud gadis itu telah berubah menjadi Mahaputra. Sang pangeran culas itu langsung melempar Bima hingga tubuhnya menabrak kaca lemari dan beberapa pecahan kaca tertancap di punggungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN