Dayu berdiri perlahan-lahan sembari memegang kepalanya yang terasa pusing luar biasa. Tak ia hiraukan lagi di mana keberadaan Arkan, ia terus berjalan tanpa arah sembari sekuat tenaga tak memikirkan tentang Bima. Ia kembali mengikuti kata hatinya menuju rimbunan pepohonan lebat yang sebenarnya tak pernah ada di wilayah sekitar Candi Brahu.
Pangeran Mahaputra yang masih melayang di sekitar sana, gegas menyusul langkah Dayu. Ia mengembalikan Arkan ke tempat lelaki itu tinggal. Hanya tinggal putra makhkota itu dan Ayu sekarang, ia bebas bertindak apa pun yang tak pernah ia lakukan dulu semasa masih hidup sebagai manusia biasa.
Dayu terus berjalan sembari memegang daadanya yang terasa nyeri juga. Ada kupu-kupu biru yang menuntunnya untuk terus maju. Serangga cantik itu kemudian membelah diri menjadi puluhan lalu ratusan dan berputar di suatu pohon. Tanpa berkedip Dayu memandangnya, ratusan kupu-kupu itu kemudian menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik, berpakaian layaknya seorang dewi dari kahyangan dengan kain halus dan perhiasan yang menghiasi seluruh tubuhnya.
Dewi nan cantik jelita itu tersenyum ke arah Dayu dan menyusun sepuluh jari di hadapan gadis bermata indah itu. Dayu membalas, dewi itu tersenyum tetapi bukan untuknya, sosok Ayu dalam wujud masa lalu datang dan memberinya sembah sujud tanda hormat.
Ratusan kupu-kupu suruhan sang dewi mengitari tubuh Ayu, seketika tubuh Dayu serasa tertarik ke dimensi masa lalu. Namun, Mahaputra tak membiarkannya terjadi, ia mencabut keris yang ada di pinggangnya. Melemparnya hingga menancap di tubuh sang dewi lalu bayangan masa lalu yang nyaris menarik tubuh Dayu hilang menjadi debu begitu saja.
Istri masa lalu Bima itu menoleh ke belakang. Ia berputar ke sana kemari mencari siapa pemilik keris itu. Lalu tanpa gadis tersebut sadari, bayangan sang pangeran culas melayang dengan cepat menuju kenarahnya. Dayu terperangah, ia tak bisa bertindak cepat, pikirannya kemudian tertuju pada Bima, tetapi pada saat itu juga Mahaputra telah begitu dekat dengannya. Tangan kanan pangeran itu mencekik leher Dayu, hingga tubuh mereka berdua terus menerobos rimbunan pepohonan dan gadis itu mulai sesak napas.
“Kalau kau mati dalam wujud manusia fana seperti ini. Berakhir sudah dendamku dan penantian panjang k*****t itu. Inilah keadilan, tak satu pun dari kami yang memilikimu. Tidak aku tidak juga dia.” Mahaputra semakin mengeratkan cekikannya pada Dayu, tubuh gadis itu telah naik beberapa jarak dari tanah, kakinya menggelepar kuat. Ia berusaha sekuat tenaga memikirkan Bima, tetapi Mahaputra berhasil masuk ke dalam pikirannya dan menghalangi pertalian batin di antara mereka.
“Ka-kamu, si-siapa?” tanya Dayu sembari matanya berair.
“Bagian dari masa lalumu.” Mahaputra melepaskan cekikannya dan Dayu terjatuh di tanah sembari batuk kuat.
“Apa kamu kenal dengan Bima.” Gadis itu menepuk daadanya sendiri, sebab kesulitan bernapas.
“Kau masih tak ingat juga siapa kami. Kematian seperti ini terlalu mudah bagimu. Kau harus merasakan apa yang panglima perang itu rasakan saat tubuhnya kubuang dari jurang yang begitu tinggi.”
Kembali Mahaputra mengangkat tubuh Dayu walau tanpa menyentuhnya. Gadis itu tak bisa bergerak juga berpikir. Hanya kedipan matanya saja yang menjadi pertanda bahwa ia masih hidup. Mahaputra membawanya ke tempat lain. Tepi jurang tinggi dan dalam tempat di mana dulu dirinya melempar Bima. Tangan Dayu berusaha terulur memohon pada sang pangeran. Namun, hanya seringai yang gadis itu dapatkan.
“Matilah kau, terkubur bersama masa lalumu.” Mahaputra menggiring tubuh Dayu ke tengah jurang.
Gadis itu masih berputar-putar di bekas wilayah Kerajaan Majapahit, hingga pada tawa terakhir sang pangeran, barulah tubuh itu terhempas perlahan menuju dasar jurang. Sang pangeran kemudian pergi dengan kepuasan di hatinya.
Tanpa disadari Dayu dan Mahaputra, ratusan kupu-kupu biru datang menggapai gadis itu, hingga tubuh Dayu hanya melayang dan tak terhempas ke bawah jurang. Salah satu serangga itu hinggap tepat di dahinya, seketika gadis itu bisa untuk berpikir, dan ia pun bergegas mengingat Bima, kemudian semuanya menjadi gelap, sembari tubuhnya terus merosot ke dasar jurang.
***
Bima memandang Dayu yang masih berbaring di ranjang. Beruntung tadi ia datang tepat waktu sebelum gadis itu sedikit lagi tubuhnya menghantam bebatuan di dekat air terjun. Bekas panglima itu heran, mengapa istrinya bisa berada di sana tanpa memberitahunya sedikit pun. Yang lebih membuatnya heran, siapa yang berani melempar Dayu dari jurang?
Bima tak memiliki kemampuan untuk menembus alam gaib sesuka hati layaknya Mahaputra, kesaktian yang ia miliki merupakan pemberian dari Ayu, ia hanya hidup abadi dan tak menua saja, selebihnya ia sama seperti manusia lainnya.
Hampir dua belas jam gadis itu tertidur, tetesan keringat membasahi dahi Dayu. Gadis itu terlihat gelisah sembari bibirnya bergerak berusaha menyebut satu nama. Tak ada yang bisa lelaki itu lakukan, di bawa ke rumah sakit pun, penyakit itu bukanlah hal yang berkaitan dengan medis. Ia hanya bisa menunggu sampai istrinya sadar.
Bima menyentuh tangan Dayu yang terasa dingin. Ia menebak bahwa gadis itu sedang berjuang untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Namun, di masa lalu saja jika Ayu terluka, Ayu tak bisa berbuat banyak, bahkan tetap meminta bantuan orang lain, lalu bagaimana dengan sekarang yang ingatannya tak kunjung kembali? Baru ditinggal sebentar saja istrinya telah berada dalam bahanya. Malangnya lagi, Bima tak bisa mencari tahu siapa orang yang membawanya ke tepi jurang.
“Sadarlah, aku berjanji setelah ini tak akan meninggalkanmu lagi.” Lelaki itu menyentuh pipi Dayu dengan ibu jarinya.
Perlahan-lahan mata Dayu terbuka ketika ia merasakan ada yang membelai puncak kepalanya. Gadis itu langsung duduk dan memandang sekeliling. Dalam pikirannya ia bingung, apa sudah mati atau masih hidup?
Spontan gadis itu memeluk Bima ketika ia langsung mengenali di mana dirinya berada. Kamar yang masih menebarkan aroma kerinduan yang begitu menyeruak. Tak ada untaian kata yang keluar dari bibir dua orang itu, hanya pelukan erat seolah-olah tak ingin terpisahkan lagi.
“Bagaimana caranya kau bisa ada di sana?” Usai berhasil menenangkan Dayu, Bima memberinya segelas air.
“Ehm ... lupa,” jawab Dayu sembari mengingat-ingat deretan peristiwa menyeramkan yang baru saja ia lewati.
“Dengan siapa kau pergi ke sana, tak ingat juga?” Lelaki itu bertanya sembari menghapus keringat di dahi Dayu yang masih menetes.
Istri Bima itu berusaha keras mengingat semuanya, tetapi tak ada bayangan apa pun yang melintas. Ia hanya melihat bayangan tubuhnya dilempar ke dalam jurang oleh seseorang yang mengenakan pakaian khas zaman dahulu lengkap dengan makhkota di kepalanya.
“Makhkota? Kau yakin?” tanya kembali Bima dan dijawab anggukan oleh Dayu.
Lelaki itu menjelaskan pada Dayu, bahwa tempat dirinya terjatuh dahulu merupakan wilayah kekuasaan Majapahit yang begitu luas, curug di antara ngarai yang begitu tinggi dan sungai yang dalam. Nekat terjun dari atas ngarai sudah dipastikan nyawa melayang, sebab tempat itu tak tersentuh oleh perkembangan zaman, karena susahnya medan yang harus dilewati.
“Cuma lelaki yang melemparku ke jurang bilang. Matilah kau, terkubur bersama masa lalumu.” Satu perkataan yang berhasil diingat Dayu.
“Ya, sudah, sebaiknya kau istirahat saja lagi. Aku akan di sini menjagamu, sampai istriku merasa baikan.”
“Istri? Belum sah, jadi jangan macam-macam!”
Bima mengusap dengan lembut kepala Dayu hingga wanita yang terperangkap dalam wujud gadis berusia belasan tahun itu terlelap kembali. Ketika bekas panglima perang itu menutup tubuh istrinya dengan selimut tebal, ia bergegas menuju kamarnya sendiri. Ada sebuah benda lama yang ingin ia ambil.
Bima membuka laci mejanya, sebuah buku kuno dan tebal di mana di dalamnya bukanlah terbuat dari kertas, melainkan dari lembaran kain dan kulit kayu yang hampir rapuh masih lelaki itu simpan. Aksara jawa kuno terukir di sana, sebagian besar menggunakan darah, sebab zaman dahulu tinta tak mudah untuk didapatkan. Ada sebuah mantra yang bisa membuat dirinya menembus alam gaib, meski perbedaan waktu yang begitu kentara pun harus ia lewati juga. Satu jam di alam gaib, satu hari di dunia nyata. Namun, demi mencari tahu siapa yang berniat mencelakai Dayu, ia pun terpaksa harus melakoninya.
Terlebih dahulu, Bima mengunci semua pintu dan jendela agar semuanya aman. Tak lupa pula ia memberikan pagar gaib rumahnya dengan tenaga dalam dari ilmu yang ia peroleh semasa menjadi panglima perang dulu. Semua demi memastikan agar Dayu selamat, dan tak lupa pula ia meninggalkan pesan pada secarik kertas di dekat istrinya terlelap. Setelahnya lelaki itu membuka bajunya bagian atas, mematikan lampu lalu merapal mantra berbekal cahaya dari seberkas lilis. Mantra sakti itu ia baca berulang-ulang sembari duduk bersila dan menarik napas panjang. Ia agak sedikit sesak napas dan merasa panas, sebab telah lama tak mencoba jalan pintas tersebut. Memang banyak orang-orang zaman dahulu yang suka memasuki alam gaib, tetapi ia bukanlah salah satunya. Kesibukannya sebagai panglilma perang membuatnya tak punya banyak waktu melakukan hal-hal seperti itu.
Bima menarik napas panjang ketika sukmanya berhasil keluar dari raga kasarnya. Lelaki itu secara gaib pula telah memakai pakaian kebesarannya saat menjadi panglima perang, lengkap dengan pedang yang telah menemaninya di banyak peperangan.
“Aku tak punya banyak waktu. Aku harus segera mencari tahu siapa yang berani mencelakai istriku.”
Bima memejamkan matanya, ia memasuki dimensi waktu di mana Dayu memakai pakaian lengkap dengan topi hitam ketika Bima ada urusan lain. Lelaki itu melihat Arkan yang beberapa waktu silam sempat beradu pandang dengannya, menawarkan diri sebagai teman Dayu pergi ke Candi Brahu. Waktu terus berlalu dengan cepat, hingga ia melihat Dayu tertidur di bahu Arkan. Bekas panglima perang itu tahu ada yang tak beres dengan teman sekelas istrinya.
Ketika sampai di Candi, Bima melihat sendiri bagaimana sukma Pangeran Mahaputra ke luar dari tubuh Arkan. Dahulu, ia memang mendengar berita bahwa calon raja itu lebih memilih moksa daripada meneruskan kerajaan ayahnya. Namun, keduanya belum pernah bertemu lagi usai peristiwa memilukan Ayu dan Bima terjadi. Bima tak ingin mencari tahu, sedangkan Mahaputra hanya mengawasi dari jauh saja.
“Sudah dua jam kau ada di alam gaib. Kau tak takutkah istrimu aku culik tiba-tiba?” Sukma Mahaputra yang ada dalam perputaran waktu menoleh ke arah Bima, sontak bekas panglima itu terkejut dengan teguran dari orang yang ia hormati dulu.
“Aku tak meninggalkannya begitu saja. Lagi pula dia bukan gadis yang lemah,” sahut Bima tanpa menundukkan kepala sedikit pun.
“Kau tak menunjukkan tata krama padaku barang seujung kukumu. Kau tau aku siapa bukan? Darah biru masih mengalir deras di tubuhku.”
Mendengar basa-basi dari Pangeran Mahaputra membuat Bima membungkukkan sedikit kepalanya. Kemudian dengan cepat ia menarik pedang panjangnya, menggoreskan senjatanya pada lengan bagian atas Mahaputra hingga tubuh itu robek dan mengalirkan darah berwarna hitam.
“Darahmu tak lagi merah atau biru. Kau merusak dan mencoreng trahmu sendiri, Pangeran. Kau hina dan kotor!” Bima masih menegakkan pedangnya pada bekas pimpinannya.
Mahaputra tak ambil pusing dengan lukanya, lagi pula lelaki itu tak bisa mati, ia abadi. Lalu sang pangeran pun menarik keris pusakanya sendiri. Keris yang ditempa selama tujuh purnama oleh seorang Rsi sakti yang telah melewati banyak pertapaan.
Dua senjata tajam itu beradu di dekat jurang tempat Dayu hampir jatuh. Mereka sama kuat dan sakti. Tak ada yang bergerak mundur dari tempatnya berpijak. Saling tatap dengan pandangan sepanas api tersirat dari mata masing-masing.
“Aku tak rela melihat kalian bersatu seperti dulu.” Mahaputra menekan kerisnya hingga pedang Bima sedikit lagi melukai wajahnya sendiri.
“Aku juga sama. Tak akan mengulangi kesalahan yang dulu sampai mengorbankan nyawa istriku. Kau bukan lagi tuanku. Aku tak punya kewajiban untuk mendengarkan perintahmu. Kau pangeran culas yang tak pernah cukup meski telah banyak wanita yang kau tiduri!” Bima berhasil memberikan dorongan pada tubuh Mahaputra hingga mereka berdua saling menjauh beberapa jenak.
Dua orang sakti di zaman Majapahit itu kembali mengangkat pedang dan keris, pertarungan yang seharusnya terjadi ratusan tahun lalu, untuk pertama kalinya dicetuskan di masa kini.