Akal yang Hilang

1855 Kata

“Selama Panglima tidak di rumah, tinggallah di griyaku. Hitung-hitung kau menjaga kandungan selirku yang lemah.” Mahaputra berkata demikian sembari memandang perut Ayu yang masih ramping. “Tidak. Terima kasih, Gusti Pangeran. Hamba bisa kembali kemari kapan saja jika dibutuhkan. Lagi pula tidak baik meninggalkan rumah yang dipercayakan seorang suami pada istrinya.” Untuk kesekian kalinya Ayu menolak sang pangeran. “Ini perintah, bukan permintaan tolong. Kau tak pernah dengar perkataan seorang anak raja itu sama pentingnya dengan raja itu sendiri?” kata Mahaputra ketika Ayu ingin berdiri dari tempatnya bersimpuh. Tak ada jawaban yang ke luar dari bibir tipis Ayu. Ia hanya mengira-ngira apa yang ada di kepala sang pangeran. Selain kenikmatan wanita entah mengapa tabib itu ingin mencuci

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN