Di Griya Mahaputra sang guru tinggal di bagian belakang. Lelaki yang doyan mengisap opium itu sering mencuri-curi pandang pada pelayan dan selir milik muridnya. Hanya saja ia tak mudah tertarik, sebab yang ia temui di alam gaib jauh lebih cantik dari milik sang pangeran. “Tapi untuk penghangat ranjang, ya, bisa dibilang cukup,” seringainya ketika tak sengaja memandang betis salah satu selir Mahaputra yang tersingkap karena angin. Mahaputra melanggar aturan penting, ia membawa masuk lelaki lain ke dalam griyanya. Padahal tempat itu terlarang. Bahkan Bima saja hanya sampai di depan kolam ikan, begitu pula dengan Gusti Prabu. Namun, kali ini putra makhkota telah kelewat batas demi keberlangsungan takhtanya. “Orang lain saja bisa berlaku lebih kejam dariku. Mengapa aku tidak?” ujar Mahapu

