Manisnya bulan madu sudah usai, kini aku pulang dengan kelelahan. Mas Bos menggamit jemariku tanpa melepaskannya mulai sejak keluar dari pesawat, hingga kini sudah masuk ke dalam mobil dan Pak Isman mengemudikannya. “Capek banget, ya?” tanyanya seraya mengecup punggung tanganku. Aku hanya mencebik dan memutar bola mata ke atas. Ya pastinya, capek. Gak usah nanya pula, orang sehari bisa minta berkali-kali, hadeuh. “Kok diem, sih?” bisiknya lagi seraya sedikit menengok ke arahku. Namun kepalanya terhalang oleh kepalaku yang bersandar pada d**a bidangnya. “Terus harus nari-nari gitu?” tanyaku asal. Dia terkekeh, satu tangannya usil, menjawil ujung hidungku. “Nanti malem saja nari-nari lagi, hmmm?” bisiknya. Aku mencubit perutnya hingga dia menjerit. Ini saja lelahnya masih terasa,

