“Selamat pagi, Hay Meera! Saya Fita!” Suara itu membuatku mendongakkan kepala. Fita sudah berdiri tak jauh dari tempat kami berada. Dia berdiri dan mengulurkan tangan padaku. “Hai, saya Meera.” Kusambut uluran tangannya. Kami berjabat tangan lalu dia memperkenalkan seseorang yang berdiri di sampingnya. “Ini Andini, assisten saya!” “Hai, Saya Meera!” ‘Andini!” Dua perempuan dengan model pakaian hampir serupa itu pun menyalami Mas David. Lalu kami duduk kembali dan rupanya Fita orangnya supel dan cepat akrab. “Pram dari kemarin cerita terus tentang kamu loh, Meera! Bucin akut dia tuh. Beda banget sama waktu Safitri dulu, mesra sih, tapi gak sebucin ini. Eh sorry ya saya panggil nama, soalnya usia kamu jauh di bawah saya. Sama Pram saja yang sudah tuaan, saya manggil nama.” Dia

