“Oh, Reyhan? Sorry, Sorry, nomor baru, ya? Ada apa, Rey?” Aku terkejut, kenapa secepat ini sih, Reyhan nelepon. Kulirik takut-takut pada Mas Suami. Baru saja kami baikan, jangan sampai ini jadi penyakit baru. “Barusan manager purchasing kenalanku bilang, dia suka profil kamu dalam CV. Bisa datang interview gak besok?” “Duh, besok, ya?” Aku sedikit bingung. Besok kan sudah diajakin Mas Suami mau ketemu Fita. Orang yang sudah buat aku uring-uringan itu ternyata hanya seorang WO dan travel agent. Lalu, ini gimana, dong? Sudah terlanjur juga kirim lamaran, duh. Mas Suami tampak mendekat dan ikut duduk di tepi tempat tidur. Dia sedikit memiringkan kepala turut mendengarkan. “Iya, interviewnya langsung dengan user dan HRD, jadi gak bolak-balik, Ra! Nanti aku bisa jemput kalau kamu gak ta

