"Kat!" Suara Mang Omoy membuat wajah Mas Bos yang sudah semakin menunduk berhenti. Sudah kayak sutradara saja pakai kat segala. Dikira lagi syuting, hadeuhhh. Sepasang mata Mang Omoy rupanya mengerling ke arah kami. Kidung yang dinyanyikan pun sudah selesai. Sebetulnya terasa menyayat dan mengiris hati, alunan suara Mang Omoy juga bukan main-main masih terdengar sangat merdu. “Udahan ya, Mang?” Aku menggaruk kepala yang terbungkus kerudung meski tak gatal. Salah tingkah karena kepergok malah mesra-mesraan. “Sudahan atuh, Ra. Uangnya juga sudah habis. Tuh … kosong … seperti hati Mamang yang kosong melompong …,” tukasnya seraya menunjukkan baskom yang tadi dipenuhi uang logam dan dicampur beras, kunyit dan juga perman untuk saweran. Konon katanya uang logam dan beras itu melambangkan

