Aku menelan saliva berulang. Kok perasaan serem, ya. Apalagi melihat wajah Mas Bos yang kayak penuh tekanan, huh. Bismillah. Moga aja hati ini sekuat baja kalau emang ada kabar yang menggemparkan. Baiklah, pejamkan mata dulu terus mungutin kekuatan bulan, bintang dan teman-temannya, huh. “Ra!” “Hmmm!” Gak tahu apa aku masih memanggil keberanian yang pada ngumpet entah ke mana. “Buka dong matanya?” Tuh kaaan, sudah minta buka-buka saja. Aku menghembuskan napas kasar sebelum akhirnya kedua mata yang sejak tadi aku pejamkan ini kubuka. Jedarr! Bener saja kayak ada petir yang menghantam. Beneran ini mah aku belum siap menghadapi kenyataan. Seketika tanganku gemetar. Ada yang teriris di dalam sana. Tipis-tipis sampai mengenai tulangnya. Shock aku, benar-benar shock melihat bebera

