Di ruangan empat kali empat meter inilah sekarang aku dan Mas Bos Duren berada. Pak Yudistira---Papanya Mas Bos sejak tadi sudah melontarkan banyak sekali pertanyaan. Kami sudah seperti pesakitan yang diadili. Mak Macan pun duduk menunduk, entah apa isi pikiran di balik rambutnya yang kali ini berwarna keunguan itu. “Jadi kamu serius dengan yang kamu sampaikan kemarin, Serlin?” Papa Yudistira menatap Mak Macan. Eh, tapi sekarang kan dia sudah baik. Jangan Macan lagi deh namanya, hihihi. Terus karena Papanya Mas Bos kan calon Papa Mertuaku, jadi manggilnya Papa saja sekalian, rebes. “Iya, Om. Maaf kalau keputusan yang kami ambil mendadak.” “Ck!” Aku, hanya menunduk sambil memainkan ujung kuku. Sesekali mencuri pandang pada lelaki yang kemarin akhirnya berhasil menyematkan cincin pada

