15. Jodoh Cerminan Dirimu

1808 Kata
Kabar bahagia dari Jordan Harvey tentang pernikahan Fidelya Jovanka Harvey membuat kepala panti asuhan yang disambangi ayah dan anak itu tersenyum bahagia mendengarkan Fidelya akhirnya merasakan kehidupan seperti halnya para wanita seumurannya. Tsania selalu mengharapkan Fidelya dapat hidup bebas, bagaikan merpati dilepaskan dari sangkarnya. Jika dahulu batasan tidak tampak karena kesehatan tubuhnya, maka saat ini ketika Fidelya sudah mendapatkan kesembuhannya, Tsania berharap anak gadis teman baiknya dapat hidup lebih baik lagi dari sebelumnya. Fidelya merupakan wanita yang sangat baik, penyayang, berhati lembut, dan juga peduli akan orang-orang di sekitarnya. Bahagia memanglah pantas didapatkan olehnya. Paras cantik jelita, sorot mata teduh, pun jua bibir ranumnya tidak dapat terelakkan dari pesona seorang Fidelya. Sayangnya, wanita itu sudah terlalu menutup diri dari dunia percintaan. Jordan, Fidelya, dan Ibu Tsania berada di ruang tengah. Ibu Tsania membuatkan s**u coklat panas untuk Fidelya. Wanita paruh baya itu sangat tahu Fidelya sangat menyukai s**u coklat panas, karena dulu mama Fidelya sering membuatkan Fidelya s**u coklat panas untuknya. Mereka bertiga tampak berbincang dengan hangat. "Jordan, apa benar yang kamu katakan tadi, bahwa putri cantik kamu ini sudah akan menikah dengan seseorang? Kenapa aku tidak pernah tahu, bukannya putri kamu ini tidak pernah terlihat dekat dengan seseorang?" Ibu Tsania melihat ke arah Fidelya dengan tatapan tidak percayanya, karena setahu Ibu Tsania, Fidelya akan selalu bercerita pada dirinya jika dia sedang dekat dengan seseorang, seperti waktu dia dekat dengan lelaki kebangsaan Italia, Fabio. Meski hubungan sangat singkat karena perasaan tidak percaya diri Fidelya menjalin hubungan bersama lawan jenisnya. "Dia anak dari seorang pengusaha terkenal di Las Vegas, dia lelaki yang baik dan dari keluarga yang baik-baik, Tsania.” Jordan sambil menyeruput minumannya. "Kamu tidak pernah bercerita tentang kekasih kamu yang ini, Fidelya? Ibu Tsania jadi penasaran dengan calon suami kamu, Nak,” ujat Tsania menatap Fidelya menelisik. Fidelya hanya diam terpaku, bagaimana cara dia memberitahu Tsania bahwa dirinya akan menikah dengan seseorang kalau dirinya saja baru mengetahui rencana tersebut satu hari sebelum kedatangannya ke panti asuhan. Fidelya sama-sama tidak tahu bahwa jalan hidupnya akan berujung seperti ini. Menikahi lelaki yang sudah pasti masih mencintai mendiang istrinya? Menjadi istri pengganti karena jantung Zwetta Gizele bersemayam di dalam tubuhnya? Sungguh, peliknya keputusan ini bukan pilihan Fidelya sendiri. “Nanti di hari pernikahan Fidelya, aku akan mengundang kamu dan para pengurus panti di sini. Kamu doakan saja supaya pernikahan Fidelya berjalan dengan baik dan lancar,” pungkas Jordan. “Pasti, Jordan. Aku sangat bahagia mendengar Fidelya akan segera menikah, anak-anak di sini juga pasti akan ikut senang dan mendoakan pernikahan Fidelya. Dan tadi apa kamu bilang? Dia berasal dari Las Vegas? Kamu tahu Mam Elizabeth juga memiliki panti di sana, kalau kamu tinggal di sana, kamu bisa berkunjung ke sana, Fidelya,” kata Tsania panjang lebar saking antusiasnya mendengar kabar baik tersebut. “Iya, aku juga sudah lama tidak bertemu Mam Elizabeth sejak beliau di sana. Fidelya pasti mengunjunginya, kalau … pernikahan ini memang terjadi,” jelas Fidelya menatap nanar pada ayahnya. Lelaki tua itu memberikan senyum manisnya pada putri cantik sematawayangnya. “Tidak ada yang perlu kamu risaukan, Fidelya. Segalanya pasti baik-baik saja,” ucap Jordan meyakinkan. “Tapi rasanya Fidelya tidak rela meninggalkan ayah sendirian di kota ini,” pungkas Fidelya manyun. “Lagipula jarak Las Vegas dan San Fransisco tidak terlalu jauh. Artinya kamu masih bisa mengunjungi ayah kamu jika kamu nanti rindu sama ayah kamu,” seloroh Ibu Tsania. “Oh iya, ya! Ibu Tsania, apa aku bisa bertemu dengan anak-anak? Aku sangat merindukan mereka selama aku tidak bisa datang ke mari.” Fidelya menunjuk banyak sekali kantong belanjaan. Senyuman Fidelya merekah membayangkan bahwa anak-anak asuhnya akan tersenyum bahagia saat melihat Fidelya datang ke sana setelah sekian lama sambari membawa buah tangan untuk mereka. “Aku juga sudah membawa banyak hadiah buat mereka, senyum mereka salah satu obat bagiku dan kebahagiaan buatku.” Fidelya beranjak dari tempat duduknya. “Kalian duluan saja, Daddy mau menelepon sebentar, Fidelya,” ujar Jordan dijawab anggukan mengerti dari putri sematawayangnya. Ibu Tsania mengajak Fidelya ke taman belakang karena anak-anak sedang bekerja sama membersihkan halaman belakang. Suara tawa mulai terdengar di indera pendengaran Fidelya. Tampak lalu lalang hysteria para anak-anak panti saling bahu-membahu satu sama lain. Rupanya mereka juga sedang menanam tumbuhan di halaman belakang. “Ceritakan sama Ibu Tsania, apa lelaki itu mencintai kamu, Fidelya, dan bagaimana perlakuan dia sama kamu?” tanya Tsania memecah senyuman di wajah Fidelya. Fidelya menatap Ibu Tsania sejenak. Bagaimana cara lelaki itu memperlakukan Fidelya? Apakah lelaki itu mencintainya? Fidelya tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan dari Ibu Tsania karena memang Fidelya tidak mengerti dan tidak memahami karakter seorang Raymond Mattew Gilbert. “Aku belum pernah bertemu dengan dia, Ibu Tsania,” tutur Fidelya dengan raut wajahnya masam. “Maksud kamu, Nak?” tanya Ibu Tsania dengan raut wajah bingung. “Daddy yang membuat kesepakatan dengan lelaki itu, Bu. Fidelya baru tahu hari kemaren,” kata Fidelya. Terlihat raut wajah terkejut dari Ibu Tsania saat mendengar penuturan Fidelya. Sepertinya Jordan bukan ayah yang suka menjodoh-jodohkan anaknya di era modernisasi seperti sekarang ini. Terlebih negara mereka adalah negara kapitalis, ta perjodohan adalah hal tak masuk akal terjadi di benua Amerika. “Apa? Dijodohkan daddymu begitu? Lalu apa kamu mencintai lelaki itu?” tanya Ibu Tsania, Ibu Tsania menghela napasnya panjang. “Kenapa Jordan harus memaksa kamu menikah dengan lelaki yang bahkan kau sendiri tidak pernah mengenalnya?” “Ceritanya panjang, Ibu Tsania, ini tentang donor jantung yang kini bersemayam di dalam tubuhku,” ujar Fidelya. Mereka sudah sampai di halaman belakang, dan anak-anak terlihat senang melihat sosok wanita cantik yang mereka kenali sebagai Kakak Fidelya yang sangat baik dan bersahabat dengan mereka. Anak-anak itu meletakkan peralatan berkebun dan bersih-bersihnya, kemudian berlari mengerumuni Fidelya yang berdiri di samping Ibu Tsania dengan tangan membawa beberapa kantong belanjaan berisi beberapa barang yang Fidelya beli khusus untuk anak-anak di sana. “Kak Fidelya, kami sangat merindukan kakak Fidelya!” seru bahagia salah seorang gadis kecil di sana. “Kakak juga sangat merindukan kalian.” Fidelya memeluk satu persatu anak-anak di sana. “Apa kalian baik-baik saja? Bagaimana dengan sekolah kalian? Kalian masih rajin belajar, Kan?” berondong Fidelya kepada anak-anak panti saking rindunya. “Tentu saja, Kak. Kami rajin belajar karena kami ingin menjadi orang sukses kelak, bisa membahagiakan Ibu Tsania dan membanggakan buat kakak Juga.” Panti sosial yang semula didirikan oleh Tsania bersama teman-temannya, termasuk pula ibunda Fidelya—Sarah Harvey. Namun satu persatu temannya silih berganti pergi meninggalkan kota, dan juga ada yang sudah lebih dahulu menghadap sang pencipta. Demi mempertahankan jerih payah istrinya, Jordan rutin sekali mengadakan galang dana sosial demi jalannya panti asuhan tersebut. Beruntunglah Tsania memiliki kepandaian dan juga kehebatan dalam mengembangkan panti, serta menjalin banyak kerjasama yang mendatangkan donasi untuk panti tempatnya merawat anak-anak kurang beruntung. “Kalian anak-anak yang hebat.” Senyum mereka terlukis di bibir Fidelya. “Kak Fidelya, apa kesehatan Kakak sudah membaik? Kami waktu itu mendengar bahwa Kakak Fidelya sempat drop, kami di sini sangat khawatir dengan keadaan Kak Fidelya.” “Keadaan Kakak sangat baik, bahkan Kakak sudah sangat sehat, karena Kakak mendapat donor jantung dari seorang malaikat yang sangat baik,” jelas Fidelya. “Benarkah?” jawab seorang gadis yang jika dilihat usianya, dia sudah terlihat dewasa. “Kami akan mendoakan orang yang sudah sangat baik mau menyumbangkan jantungnya untuk Kakak. Semoga Tuhan menerima dia di sisi-Nya dan mendapat tempat terbaik di surga.” Dan semua yang di sana mengaamin’i doa gadis itu. “Terima kasih ya, Sayang. Oh ya! Kakak membawa beberapa hadiah untuk kalian, dibagi dengan rata, ya? Jangan berebut.” Fidelya dan Ibu Tsania memberikan kantong bawaan itu kepada anak-anak dan mereka menerimanya dengan sangat senang. “Terima kasih, Kak,” jawab mereka serentak. “Kalian istirahat saja dulu, kalian bisa menyelesaikannya nanti,” tukas Ibu Tsania hangat. Mereka berkumpul di teras rumah yang cukup luas dengan ada karpet yang tertata rapi. Di sana mereka biasa menggunakan waktu untuk berkumpul bersama-sama, kadang mereka juga belajar bersama dengan nyaman dan tenang, “Fidelya, apa kamu mau Ibu Sania berbicara dengan ayah kamu tentang hal pernikahan itu? Aku sangat mengenal ayah kamu, dia tidak akan memaksakan kehendaknya pada seseorang apalagi dengan putrinya.” “Tidak perlu, Ibu Tsania, aku tidak dipaksa oleh Daddy tentang pernikahan ini. Fidelya menerimanya dengan sangat senang. Lagipula aku tidak mau membuat Daddy bingung dan mendapatkan masalah karena penolakan dariku,” jelas Fidelya. “Memangnya ada apa?” kedua alis wanita paruh baya itu berkerut bingung. Fidelya terdiam sejenak dan menatap sayu pada Ibu Tsania, selama ini Fidelya tidak punya teman berbicara selain daddy dan Ibu Tsania yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri karena memang Ibu Tsania adalah teman baik mendiang ibundanya. “Katakan ada apa?” Tangan lembut itu menyentuh pucuk kepala Fidelya. “Sebenarnya lelaki yang akan menikah denganku adalah suami dari wanita yang sudah mendonorkan jantungnya untuk Fidelya,” jelas Fidelya. “Apa?” pekik Ibu Tsania terkejut. “Sebagai suami, dia tidak akan rela memberikan jantung istrinya yang saat itu meninggal dalam kecelakaan, walaupun mendiang Zwetta Gizele sendiri sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor. Raymond namanya, dia meminta syarat yang sama beratnya dengan keputusannya,” kata Fidelya menghela napasnya panjang. “Lalu?” Kening Ibu Tsania terangkat. “Entah apa yang membuat dia akhirnya menyetujui, dan mau mendonorkan jantung istrinya untukku , tapi kemudian aku tahu jika dia memberikan syarat pada Daddy. Raymond akan menyetujui donor jantung itu, asal aku mau menikah dengan dirinya,” cetus Fidelya menjawab sudah rasa penasaran dari Ibu Tsania. “Tapi kalian tidak pernah berkenalan, bertemu pun kalian tidak pernah. Bagaimana nanti dengan kehidupan pernikahan kalian?” Apa yang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu sama dengan pemikiran Fidelya saat mengetahui kenyataan dirinya akan menikahi lelaki berstatus sebagai duda dari wanita yang jantungnya berdetak di da-da Fidelya. “Aku akan berusaha agar pernikahan kami kelak baik-baik saja dan bahagia. Semoga saja dengan berjalannya waktu nanti aku pasti bisa menerima dia dan mencintai dia, Ibu Tsania,” yakin Fidelya positif thinking. “Banyak memang kejadian seperti itu, cinta akan tumbuh saat kedua pasangan itu sering bersama,” sahut Ibu Tsania. Ibu Tsania menyentuh telapak tangan Fidelya, mengelus punggung tangan wanita itu dengan senyuman hangat meyakinkan. Cinta akan tumbuh selama keduanya berusaha menghadirkannya. Kebersamaan, melewati waktu berdua, adalah pupuk agar cinta mulai bersemi. “Tapi aku yakin, ayah kamu pasti benar dalam mengambil keputusan, dan kamu memang anak yang sangat baik, Sayang. Wanita baik seperti kamu, Ibu Tsania yakin akan mendapat pasangan sama baiknya juga.” Tangan Ibu Sania mengusap lembut pipi Fidelya. “Ibu Doakan saja pernikahan Fidelya dan lelaki itu akan berjalan dengan baik dan kita berdua bisa hidup berdampingan tanpa ada masalah,” kata Fidelya. “Semoga saja, bahagia kan kau dapati, Nak.” Ibu Tsania hanya mampu mendoakan segala yang terbaik untuk Fidelya. Wanita itu yakin, pribadi sebaik Fidelya pasti mendapatkan sosok lelaki sama baiknya dengannya. Jodoh adalah cerminan dirimu sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN