Hari demi hari terlewati tanpa hambatan yang berarti. Semua nampak baik-baik saja dalam pandangan mata. Tidak ada yang menimbulkan sesak menyiksa, tidak ada yang menimbulkan tetesan air mata. Hanya sebatas tubuh lelah juga pikiran yang terus memutar. Mengingatkannya pada sosok pengisi hati yang beberapa saat lalu menghilang dalam pandangan. Bahkan tanpa sempat ia aturkan ucapan selamat jalan. Ragha tidak pernah bermaksud untuk menetap di tempat yang sama kala orang lain bahkan sudah berlari ke depan untuk meraih yang dicita-citakan. Membuatnya menjadi satu-satunya yang tertinggal. Yang bahkan tidak pernah mampu melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Terbelenggu dalam angannya seorang diri. Tersiksa dalam rasa bersalah yang kian terasa jelas sampai permukaan. Mama pernah mengataka

