Adara sudah merasa ada yang tidak baik-baik saja saat Ragha menjemputnya di kantor siang ini. Ragha juga menemui Vigo untuk menyampaikan izin atas nama Adara, dengan alasan yang tidak Adara ketahui. Selama perjalanan pun, Ragha tidak banyak bicara. Hanya terus fokus mengemudi sembari menggenggam sebelah tangan Adara erat. Raut cemas, gugup, bingung, juga sedih. Adara bisa menangkap gelagat Ragha yang seolah menyembunyikan sesuatu darinya, dan sebentar lagi sesuatu yang tersembunyi itu harus segera Adara ketahui. Kebingungan itu kian terasa jelas begitu mobil Ragha berhenti di sebuah parkiran rumah sakit. Adara tidak sempat menanyakan banyak hal karena Ragha seolah melarangnya untuk bertanya. Ragha hanya mengusap pipinya pelan sembari menatapnya dalam. Yang tentu saja tidak Adara ketahui

