Dua hari setelahnya. Adara sempat memperlambat langkahnya karena dirasa ada sesuatu yang berat, yang menahannya untuk tetap berdiri diam di posisinya tanpa pernah melakukan pergerakan. Menunggu sesuatu yang menahannya sampai hadir dan memunculkan wajah tepat di depan matanya. Agar setidaknya langkah ke depan yang akan ia tapaki tidak akan mengalami sesi perlambatan karena cerita yang belum usai. Lembaran demi lembaran buku berhasil ia selesaikan dengan keterpaksaan. Menjalani hari tidak lagi seindah dulu. Ah ralat. Adara tidak pernah menjalani hari yang indah sejak dulu. Hanya saja, saat Ragha masih berada di ceritanya dan berperan sebagai pemeran utama, hal-hal berat yang menghadang dengan raungan mengerikan itu seolah tersingkir dengan mudah. Mungkin hatinya terluka. Jauh-jauh lebih pa

