Waktu terus berjalan, dan Aira masih saja tak mengerti dengan jalan pikiran Thada. Sahabatnya dulu. Lelaki itu masih saja bersandiwara di depan Maya, menunjukkan jika dirinya adalah seorang korban dari ketidak pedulian Maya. Bodo amat lah, yang penting Derren tak seperti Thada. Pikir Aira yang terus memikirkan masalah yang bukan masalahnya. Thada, Salma dan Maya juga sepertinya sama saja. Kalau di lihat dari masalah yang mereka hadapi. Maya yang memilih diam, terlihat sangat tak peduli dengan apa yang sudah Thada lakukan pada dirinya. Tetapi kalau di pikir lagi sih, memang diam adalah cara yang tepat untuk menghadapi lelaki macam Thada ini. Tetapi, pasrah dengan prahara yang menyerang rumah tangganya seperti ini, apa baik? Huft Aira membuang napas kasar. “Kenapa? Ca

