Bab 3. Baru Permulaan

1173 Kata
Semenjak diajak bertemu dengan keluarga Sakha mendadak Xella seperti bermain kucing-kucingan. Beruntung karena di kampus Xella tidak bertemu dengan laki-laki arogan itu. Sudah beberapa hari ini Xella berangkat pagi sekali demi menghindari Sakha, bahkan sampai ibunya heran dibuatnya. “Sekarang alasan apa lagi yang membuat kamu berangkat pagi buta. Setahu Mama hari Selasa jadwal perkuliahanmu dimulai siang, kenapa jam setengah enam sudah mau berangkat? Lagi pula satpam kampus juga belum datang, Nak.” “Takut kejebak macet, Ma. Kan sekarang aku nggak bawa motor, naik angkot jam segini juga sudah ramai, penuh malahan,” alibi Xella karena tak mau membuat Marina curiga. Memang benar beberapa hari belakang dia pulang pergi naik angkot, kadangkala diantar oleh Lovina. “Motor kamu baik-baik saja kenapa nggak pakai motor saja kalau begitu. Kamu kayak sedang menghindari sesuatu, Nak. Mama salah praduga, ‘kan? Kamu tidak sedang dalam masalah, ‘kan?” tanya Marina karena tingkah laku sang anak yang terlihat seperti dikejar penagih utang. Namun, di dalam hatinya dia cemas karena anaknya belum terima dirinya cerai bahkan dulu-dulu Xella sering membuat kerusuhan di rumah istri baru ayahnya berujung terseret kantor polisi. “Ma,” panggil Xella mendekat, meninggalkan meja rias sederhana dengan perlengkapan make-up seadanya. Karena pada dasarnya dia juga jarang merias diri, bukan berarti tidak bisa, tapi karena tidak ada bahannya. “Aku nggak ada masalah apa pun di kampus. Ya udah biar menyakinkan Mama pagi ini aku sarapan, ya. Aku ke kampus bawa motor.” “Kamu tidak terpaksa, ‘kan?” Marina memicingkan matanya. Masih saja curiga karena tindak-tanduk anaknya sejak kemarin. “Tidak sama sekali. Masa perintah Mamaku ini harus terpaksa, sih. Ya udah, yuk, kita sarapan bareng. Sebelum jam makin nambah. Aku bisa telat.” Xella menggiring jalan Marina untuk keluar dari kamarnya. Dia hela napas, ibunya ini sangat perasa. Sekecil apa pun perubahan pada dirinya pasti bakalan langsung dijadikan pertanyaan oleh wanita itu. *** Kesialan entah mengapa selalu menimpa Xella. Rasanya ingin membanting helm ke jalanan kalau perlu bakar saja motornya. Memang dia juga yang salah karena motor sudah tidak dipakai berhari-hari malah sekali pakai tidak dipanasi. Beginilah jadinya mogok di tengah jalan. Begitu melirik jam tangan sudah hampir telat. Bukan telat pada mata kuliahan, telat masuk ke perpustakaan. Tolong digaris bawahi karena Xella datang ke sana menumpang tidur. Kalau malam sering lembur membantu ibunya menyetrika baju yang siangnya dikirim ke pelanggan. Xella mana tega membiarkan sang ibu mengerjakan segalanya seorang diri. Apalagi sang ibu bekerja sangat keras untuk menjadikan dirinya sarjana. “Aduh, bengkel masih seratus kilo lagi. Gue nggak mungkin dorong sampai sana, ‘kan? Yang ada bermandikan keringat, datang ke kampus malah bau.” Kadang sering ngeluh kalau berada di situasi seperti ini. Royal princess yang sesungguhnya kini sudah menjadi puteri abu. Ah, terlalu berlebihan Xella ini. Di saat sedang menyeka keringat, memeluk helm di depan d**a justru mobil yang sangat familiar berhenti tepat di dekat mobilnya. Sosok yang sangat dibenci oleh Xella memunculkan kepalanya di jendela tanpa perlu repot-repot membuka pintunya. “Ayah, mau dikasih tumpangan, nggak?” Berbeda dengan seorang gadis yang memanggil ayahnya kini sosok pria paruh baya keluar dari mobil mewahnya. Menyetir sendiri biasanya bersama supir. “Motor kamu kenapa, Nak?” Xella menahan diri supaya tangannya tidak naik untuk memegang d**a. Desiran hangat itu masih sama rasanya, hanya saja sudah tak begitu menenangkan perasaan Xella. “Masuk mobil, biar motornya Ayah yang bawa ke bengkel,” ujar pria bernama lengkap Pandora Kuncoro. Pria itu menatap manik mata sang anak dengan lekat. Jika hubungan keduanya dekat ingin sekali menyeka bulir keringat di kening sang anak. “Nggak perlu repot-repot,” tolak Xella tanpa menatap lawan bicaranya. Pandora tersenyum kecut mendapatkan respon penolakan oleh anaknya sendiri. Bahkan tidak ada sapaan seorang ayah yang tersemat. “Halah sombong banget. Atau lo mau jalan kaki sampai kampus, Kak?” tanya seorang gadis yang satu universitas dengan Xella. Adik tirinya yang membuat Xella sangat membenci ayahnya. “Gue nggak sudi berbagi udara sama lo.” “Sudahlah, jangan bertengkar di pinggir jalan. Kalau memang tidak mau Ayah antar tolong jangan menolak kalau Ayah pesankan taksi,” sela Pandora menengahi karena sudah hafal sekali kedua anaknya ini tidak bisa akur. Xella yang diam saja dianggap setuju dengan usulnya. Namun, sebuah mobil lain dengan atap terbuka ikut berhenti di dekat mereka. Sosok laki-laki keluar dari mobilnya dengan kacamata hitam yang melekat di hidung bangirnya. Xella tidak salah dengan tindakan memutar kedua bola matanya ketika Zoey yang tadinya malas keluar kini malah menerjang matahari. Demi seorang Sakha? “Oh my good! Nggak nyangka bisa ketemu Kak Sakha setelah sekian lama di London.” Gadis itu memekik membuat Xella makin jengah. Padahal sama sekali tidak dihiraukan oleh Sakha karena laki-laki itu memfokuskan tatapannya kepada Xella. Sirine berbahaya berbunyi pada benak Xella. Dia melihat seringai Sakha yang jujur saja tidak bagus untuk ketenangan dia kedepannya nanti. “Mampus. Gue berusaha menghindari malah dipertemukan di sini. Situasinya sama sekali nggak tepat,” batin Xella. “Kebetulan kita satu kampus, jadi biar Xella sama saya saja, Om.” Ucapan pertama kali. Dengan sok sopannya menyalami Pandora yang bingung karena laki-laki ini dikenal oleh dua puterinya. “Loh?! Kenapa Kak Xella, bukan aku, Kak?” Gaya centil Zoey mendekati Sakha bahkan sengaja lengannya yang putih mulus menempel di lengan kekar laki-laki itu yang saat ini mengenakan kaos tanpa lengan, bahkan keteknya ke mana-mana. “Sorry, tapi urusan gue sama Xella. Bukan sama lo, Zoy.” Wajah Zoey cemberut. “Ayah …,” adunya dengan manja. Berbeda dengan Zoey yang merengek kepada Pandora, kesempatan itu diambil alih oleh Sakha dengan menarik tangan Xella. Sukses hal itu membuat Xella tersentak. Tersadar sudah digiring masuk ke mobil laki-laki itu. Bahkan tidak peduli diizinkan atau tidaknya oleh ayah gadis itu. “Sabuk pengaman.” Xella tidak nurut. “Bahkan gue belum iyain mau ikut mobil lo atau tidak.” Dengan keras kepalanya Xella tidak peduli. “Dengan lo duduk manis di sini artinya lo setuju ikut sama gue.” Tanpa kata langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi. "Sengaja menghindari gue." Tak siap pada akhirnya Xella nggak mau ngeyel. Dia langsung memakai sabuk pengaman, bahkan kedua matanya tertutup rapat karena takut melihat jalan raya di depannya. Sakha membawa mobil secara ugal-ugalan. Tidak sampai memakan waktu lama begitu tersadar mobilnya sudah berhenti di kawasan parkiran siswa. “Bodoh! Biasanya lo nggak parkir di sini. Sengaja ke sini hah?” “Turun!” “Huh?” Respon lambat Xella. “Atau mau gue gendong?” Tanpa aba-aba turun dan membanting pintu mobil laki-laki itu. Rasanya akan lebih memalukan kalau ancaman Sakha memang tidak main-main. Namun, Xella kembali menyesal begitu keluar dari mobil tatapan ingin tahu dari orang-orang membuatnya ciut. “Sialan kenapa hidup gue jadi nggak nyaman begini, sih.” Xella bergumam kesal. Lebih kesal lagi saat bahunya dirangkul laki-laki itu. Spontan lengan rampingnya bergerak menyikut pinggang Sakha, tapi tidak menimbulkan efek apa pun juga. Jadinya Xella kesal sendiri, deh. “Ini baru permulaan, Sayang. Salam perkenalan,” bisik Sakha di dekat daun telinga Xella lalu diakhir dengan kecupan singkat pada kening mulusnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN