Menghela napas keras sekali sampai-sampai yang berjalan dengannya ikut menoleh. Hanya tatapan sinis orang itu yang merasa terusik, setelahnya mereka berpisah di tikungan. Xella yang hendak menaiki tangga tersentak saat lengannya ditarik sehingga kakinya mundur dan hampir saja jatuh andai pinggangnya tidak direngkuh.
"Lo!"
"Ikut gue!"
Tarikan paksa membuat Xella pasrah ketika digiring entah ke mana. Begitu sampai di tempat parkir khusus petinggi gadis itu memberontak. Mengetahui akan dibawa ke mana dengan mobil mewah milik Sakha.
"Lepasin gue! Gue nggak mau ikut lo!" Xella mencoba melepaskan cekalan tangan Sakha di lengannya.
Sakha bergeming. Mendorong paksa Xella sampai terduduk di jok penumpang. Setelah memastikan gadis itu sudah duduk dengan aman barulah Sakha berjalan cepat memasuki mobil.
"Lo gila, ya?! Dengan perbuatan lo ini justru semakin menyakinkan rumor mengenai kita, Sakha."
"Bagus, dong." Respon laki-laki itu, membuka topi berwarna hitam dengan ukiran namanya. Rambut brokolinya mengembang karena terbebas dari topi yang membungkusnya.
Jujur, dalam sepersekian detik Xella tidak juga memalingkan wajahnya. Terhipnotis sejenak.
"Hei!" tegur Sakha keras. "Ngapain ngeliatin gue kayak gitu hah?"
Wajah tengil Sakha membuat Xella memutar kedua bola matanya dengan jengah. Bisa-bisanya sempat memuji di dalam hati.
Sialan.
Duduknya lurus ke depan, bersedekap d**a tak lagi menoleh ke arah sebelah kanannya. Dia menurut mau dibawa ke mana, pasrah saja. Percuma juga meminta penjelasan Sakha.
"Bunda ngajak kita ketemu di butik."
Kepala Xella langsung menoleh mendengar perkataan Sakha yang menandakan mereka tidak akan pergi nggak jelas, ada tujuannya walaupun setelah ini Xella bingung bagaimana harus memperkenalkan diri di hadapan orang tua Sakha.
"Punya nyokap," lanjut Sakha memperjelas disaat mata Xella sudah melotot begitu tajam. "Berharap kita mau ngapain emang?"
"Gue nggak tahu punya salah apa sampai lo melibatkan gue begini, Sakha. Bisa udahin aja nggak? Gue capek dengan tatapan orang-orang yang menganggap gue buruk. Hidup gue terlanjur damai rasanya tidak nyaman jika diusik, Sakha."
"Gue nggak peduli. Lo membawa keuntungan buat gue, Xella. Lo cukup bermain peran, jangan banyak protes."
"Termasuk jadi istri lo?" tebak Xella tepat sasaran karena kedatangan Sakha di awal memang mengajaknya menikah. Well, Sakha yang sering gonta-ganti pasangan tiba-tiba ngajak gadis random menikah. Lantas apakah Xella akan dengan senang hati menerimanya? Gadis itu menolak mentah-mentah yang berujung dijebak.
"Ya." Mantap sekali perkataan Sakha.
"Gue bukan partner yang baik. Lebih baik lo cari cewek lain aja, Sakha," tolak Xella halus. Di harus menahan diri tidak mencak-mencak supaya bisa membujuk laki-laki itu.
"Gue maunya lo."
Xella menahan napas. Agaknya Sakha tidak semudah itu dirayu dengan kata-kata. Jadi, lebih baik sekarang ini diam dan turuti apa maunya. Dia nggak mungkin bisa kabur karena Sakha memiliki mata lebih dari dua. Jadi, percuma saja!
Mobil memasuki area butik ternama yang cabangnya sudah tersebar. Xella bukan tidak mengerti, dulu ketika kehidupan mewah dia rasakan dengan begitu mudahnya membeli baju tinggal tunjuk, termasuk di butik ini.
"Kenapa malah bengong, ayo!" ajak Sakha mematikan mesin mobil tanpa mencabut mobilnya.
"Belum pernah ke sini?" Sinis Sakha dengan muka meledek khasnya.
"Sok tahu! Gue bahkan sering ke sini, borong baju-baju di sini. Tapi ... itu dulu. Gue nggak pernah ketemu pemiliknya."
"Pertemuan pertama, hem?" ledek Sakha. Dia keluar lebih dulu, lalu menunggu Xella berdiri di depan kap mobil. Jangan berharap kalau Sakha akan membukakan pintu untuk Xella. Dia mana mau memperlakukan cewek dengan lembut kecuali kepada sang ibu dan adik perempuannya.
Sadar kalau Xella sudah berdiri di depan pintu laki-laki itu pun berjalan. Lagi dan lagi Xella ditinggalkan.
Bisa saja dia kabur mumpung Sakha udah masuk, tapi dia yakin nggak akan mungkin bisa. "Okay, kita lihat permainan apa yang akan dilakukan cowok sinting itu."
Berjalan memasuki butik mata Xella dimanjakan dengan berbagai pakaian yang harganya diluar kemampuan dia. Bahkan saat tidak sengaja melintasi patung mata Xella terbelalak melihat bandrol dress seharga mobil baru.
"Hallo, Cantik!"
"Ke sini, Sayang!"
Dua kali seruan dari seorang wanita dengan dress pendek berlengan panjang membuat Xella tersentak, lantas menunduk malu karena beberapa pengunjung dan pegawai menatap dirinya ingin tahu. Apalagi sosok wanita cantik itu berjalan dengan hells setinggi 7 cm. Berdiri di depannya. Mungkin yang lain bertanya-tanya mengapa dirinya kenal dengan pemilik butik ini. Apalagi dengan penampilan Xella yang terbilang biasa saja dan sederhana. Celana jeans setengah pudar dipadukan dengan hoodie kebesaran yang lengannya digulung.
"H-hallo, Bu," sapa Xella kikuk. Dia bingung panggilan apa yang pantas disuarakan. Mengingat wanita di depannya adalah pemilik butik makanya Xella memanggilnya 'Bu'.
"Ternyata benar kata Sathir. Kamu ini lucu, Bunda jadi nggak sabar mau dandanin kamu pakai baju-baju di sini," kata wanita itu dengan antusias. "Ayo, ikut Bunda. Sakha sama ayahnya udah di dalam ruangan. Kami menunggu kamu, loh."
Tangan Xella yang ditarik oleh Merida terasa dingin, sedikit bergetar saat mendengar ayahnya Sakha menunggu dirinya. Semua orang tahu kepala keluarga Pratama memiliki jam terbang yang sangat tinggi pasti sibuk, tetapi rela meluangkan waktu untuk bertemu dengan dirinya. Xella tersanjung dibuatnya.
"B-bu," panggil Xella terbata-bata.
"Panggil Bunda, dong. Gimana, sih, Sakha. Masa calonnya nggak diajarin panggil Bunda." Merida cemberut. Dia menggandeng dan menyakinkan Xella supaya masuk ke dalam ruangan yang mirip seperti apartemen. Semuanya lengkap dengan fasilitas yang tersedia.
"Abang gimana, sih, masa calonnya ditinggal di depan!" Merida marah, mencak-mencak berkacak pinggang.
"Dia nggak mungkin hilang, Bun," balas Sakha acuh. Malah bermain ponsel dengan posisi miring.
"Ayah, jangan natap calon mantu Bunda begitu. Xella jadi ketakutan," sentak Merida kepada suaminya. Memang wajahnya selalu datar, tapi Merida paham betul tatapan sang suami mengintimidasi sedang memindai saat ini.
"Ayo, Sayang. Duduknya sama Bunda saja. Biarkan dua mereka ini sibuk sama urusannya masing-masing."
Sakha yang sejatinya masih mendengarkan mencibir di dalam hati. Dia tidak khawatir sama sekali ketika kedua orangtuanya memintanya membawa Xella ke sini setelah perkuliahan selesai.
Mungkin sedikit terusik karena sejak datang, ayahnya ini makin cuek. Tidak peduli. Mungkin kalau bukan keinginan istrinya mana mau Pradana di sini.
"Jadi?" Suara Pradana memecah keheningan Sakha. Dua perempuan berbeda generasi sudah sibuk dengan buku katalog. Merida yang cerewet disatukan dengan Xella yang kalem.
"Aku akan menikahinya."
"Apa yang kamu rencanakan, Sakha?"
Sakha tidak menjawab.
Pradana menghela napas, anak pertamanya kalau sudah memutuskan sesuatu memang suka sat-set-sat-set. Tidak peduli dengan saran orang tua.
"Bunda!" Teriakan dengan suara cempreng diikuti juga memeluk leher Merida membuat wanita itu kaget bukan main.
"Kakak, suka banget ngagetin Bunda, deh."
Shifkha terkekeh. "Hai, La," ujarnya menyapa Xella dengan ramah. Mereka bukan tidak kenal, hanya kurang akrab mengingat jarang bertemu. Namun, bukan berarti Shifkha sombong.
Xella mengangguk tersenyum kecil. Tidak lama kemudian derap langkah kaki menyusul semakin dekat dan duduk di sebelahnya. Sedangkan Shifkha duduk di lengan sofa, memeluk Merida dengan manja.
Sosok yang duduk di sebelah Xella membuatnya gusar. Tidak ada sapaan apa pun, tapi berada di dekatnya sukses membuat Xella menahan napas.
"Kalian datang nggak bilang-bilang," kata Merida. "Bunda pikir cuma Abang."
Sathir menyahut. "Abang yang minta kita berdua datang juga, Bun."
Suaranya Sathir membuat Xella menahan napas. Kenapa terasa seperti tatapan Sathir mengintimidasi dirinya. Atau memang perasaan dia saja, sih! Xella juga tidak berani menoleh ke samping.
"Okay, karena sudah lengkap," kata Sakha setelah menyimpan ponselnya. Laki-laki itu duduk dengan tubuh tegak, tidak lagi bersandar.
"Abang berencana akan menikah dalam waktu dekat."
Semua orang terdiam.
"Besok sore Ayah sama Bunda antar Abang ke rumah Xella. Melamar," lanjut Sakha seakan tidak menerima protes apa pun.
Xella yang hendak membuka suara seketika urung karena lemparan lontaran Sakha.
"Iya, 'kan, Sayang?"
Senyum devil sialan itu! Ingin sekali Xella maju dan menjambak rambut brokoli Sakha.
Kurang ajar!
Kedua tangan Xella saling menggenggam disertai dengan senyum sopan lalu berkata, "Maaf, Pak, Bu. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Saya dan Sakha tidak ada hubungan apa pun. Yang terjadi kemarin hanyalah salah paham saja. Saya rasa tidak perlu sampai menikah."