Bab 14. Di Balik Sifat Arogan Sakha

1060 Kata
“Kita balik ke apartemen,” putus Sakha tanpa peduli dengan kesediaan Xella. Xella cukup bawa badan saja. “Shifkha di rumah nggak ada yang nemenin. Kenapa nggak nunggu Sathir siuman. Setidaknya kita bantu doa dari sini.” “Setelah mengacaukan honeymoon kakaknya apa lo pikir gue akan dengan sukarela nunggu dia melek. Kalau dia sudah melek dengan senang hati tangan ini kasih bogeman.” Xella bergidik ngeri mendengarnya. Selain arogan rupanya Sakha kejam juga. Yang baru dia ketahui keras di luar lembek di dalam, padahal semalam mengatakan sedih dengan kondisi Sathir lalu saat ini mengatakan ketidakpedulian. Sakha arogan demi menyembunyikan kepeduliannya. “Terserah lo mau ikut gue ke apartemen atau di rumah ini.” Sakha pergi begitu saja meninggalkan Xella yang masih mencerna situasi. Tersadar saat bahunya ditepuk pelan oleh Shifkha yang hendak masuk mobil. “Ikut apa kata abang. Makasih udah peduli sama gue dan Sathir, tapi jujur nggak pa-pa daripada lo berantem sama abang. Lagian di rumah nggak benar-benar sendirian, kok. Gue bisa ke rumah sakit kalau mau,” tutur Shifkha menjelaskan. Namun, terlambat karena Sakha sudah pergi dengan motornya yang entah dikirim kapan ke rumah. Meninggalkan Xella yang mendesah jengkel. Sikap Sakha ini semena-mena sekali. “Yuk, masuk! Gue anterin sampai apartemen,” ajak Shifkha menggandeng pergelangan tangan Xella yang nurut seperti anak kucing. “Abang semalam mabuk?” “Lo tahu?” tanya Xella heran. “Biasanya habis mabuk pasti sensitif. Orang lain jadi korban jengkelnya. Sabar-sabarin saja, La. Kalau susah dibilangin tinggalin aja nanti abang bakal cari lo, kok.” Xella tersenyum saja mendengar perkataan Shifkha yang sangat mustahil. Hubungannya dengan Sakha tidak seperti itu ketika yang satu pergi akan dicari. Mereka bersandiwara dengan sangat apik. “Anterin gue ke rumah nyokap mau nggak? Gue mampir ketemu mama dulu, nanti ke apartemen sekalian bawa motor.” Karena Xella tidak mungkin ke kampus bersama Sakha boncengan yang ada seantero kampus akan heboh. *** "Mama!" "Hah?! Ngapain di sini? Sama Sakha?" Xella mencebik tak suka karena respon sang ibu yang lebih perhatikan ke suaminya, apalagi Xella ditinggal sendiri di ruang tamu sedangkan wanita paruh baya itu ke luar mencari-cari sosok Sakha. "Xella sendirian, Ma. Mau ambil motor," ujarnya berlalu menuju meja makan sederhana lalu mengambil piring dan makan. Gadis itu makan dengan santai tanpa peduli akan tatapan intimidasi ibunya. Pengantin baru, izin honeymoon lewat telepon lalu tiba-tiba sudah di rumah dan sendiri bagaimana mungkin perasaan seorang ibu tidak was-was. "Kamu pulang lagi ke rumah bukan karena dicerai Sakha, 'kan?" tanya Marina ngawur, bukan sembarang ngawur. Trust issue karena perselingkuhan mantan suaminya menjadikan Marina was-was bahkan dengan pergaulan anaknya. Marina tidak menunjukkan sikap waspada kepada Sakha, tetapi diam-diam mencari tahu kelakuan menantunya. Marina mengetahui background Sakha termasuk dengan siapa saja laki-laki itu bergandengan. Waspadanya mulai aktif. "Mama nanya atau ngedoain?" sahut Xella. "Sakha lagi ada urusan. Adiknya koma, Ma. Makanya kita pulang dadakan." "Yang cewek cantik itu?" "Yang cowok, Ma," ralat Xella. "Yang aku suka, Ma. Yang seharusnya jadi menantu Mama," lanjut Xella di dalam hati. Gadis itu kembali makan seolah bukan memberitahu kabar penting. "Mumpung kamu di sini anterin Mama jenguk, La." "Sekarang, Ma?" "Kamu sudah selesai makannya?" tanya balik Marina. "Langsung kenyang," sahut Xella antusias membuat mata Marina memicing. Nengok orang sakit kok sesenang itu? Begitulah pikirnya. *** Motor Scoopy milik Xella parkir di tengah-tengah mobil mewah. Benar-benar di tengah karena Xella tidak menemukan tempat parkir lain, jadi dia mepet-mepet di tengah mobil orang. Marina datang tentu tidak dengan tangan kosong. Walau orangnya tidak bisa makan, tetap membawa buah tangan; keranjang buah. Ketika dipersilakan oleh orang-orangnya Pradana yang berjaga di depan pintu ruangan president suite mereka masuk, tercengang ketika diarahkan ke ruangan di mana Sathir berbaring nyatanya laki-laki itu sedang duduk dengan meja portabel berisi makan siang. "Hai," sapa Sathir melambaikan tangan kepada Xella lalu mengangguk dan tersenyum sopan kepada Marina yang balas menuntut sang putri. "Kamu belum tahu sudah sadar, katanya koma," bisik wanita paruh baya itu. Kemudian Xella menggeleng. "Mba Rina, duduk-duduk," ujar Merida langsung bangkit dari ranjang, mengambil alih keranjang buah di tangannya lalu mengajak duduk di sofa dengan meja bulat di tengah-tengahnya. "Repot-repot segala." "Ah nggak repot, Mba. Aku senang karena Nak Sathir sudah siuman." "30 menit yang lalu, aku ketiduran di sebelahnya. Pas bangun dipeluk sama dia, kaget banget." Cerita Merida senang. Dua ibu-ibu itu sudah berteman baik. Menjadi sangat dekat sebagaimana besan pada umumnya tanpa memandang kasta. Disaat ibu-ibu mereka sibuk gosip maka anak-anak diserang kecanggungan. Lebih tepatnya Xella yang canggung duduk di ujung ranjang. Sathir yang masih makan mendongak sehingga tatapan keduanya bertemu karena sedari tadi Xella menfokuskan pandangan pada Sathir. "Gue sampai lupa nawarin makan. Sudah makan, La?" "Udah di rumah Mama. Lanjut saja, nggak usah pedulikan gue," katanya berniat bercanda supaya tidak kentara canggung. "Gue kira lo datang bareng abang. Dia barusan keluar. Kalian nggak papasan?" Xella menggeleng polos. Dia memang tidak berpapasan dengan sosok suaminya. Lagipula tak ada urusannya karena mereka memang sedang membentengi diri masing-masing, bukan? "Nah, itu si Sakha," ucap Merida menunjuk anak pertama dan keduanya yang datang hampir bersamaan. Shifkha langsung berhamburan memeluk Sathir dengan kelegaan yang tergambar penuh di matanya. "Kirain nggak mau bangun lagi, kirain lo sudah bosan karena direcoki tugas-tugas gue," ucap Shifkha dengan suara bergetar. "Gue lega lo sudah makan tandanya sudah sehat, ya? Janji nggak akan ceroboh seperti ini lagi!" Sathir terkekeh. Mengusap pipi chubby kakak keduanya yang cemberut lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Jangan nangisin gue, Shifkha." Shifkha semakin cemberut. Saat menoleh sudah tidak ada Merida dan Marina jadi di ruangan sebesar ini hanya ada mereka berempat. Sofa yang awalnya menjadi tempat berbincang sang ibu sudah dikuasai oleh Sakha. Berbaring dengan kedua kaki terangkat dengan ponsel miring. Xella memperhatikan itu, tapi tak memiliki keberanian untuk mendekat. Gadis itu diam saja seolah mereka tidak saling mengenal, apalagi Sakha juga acuh tak acuh. Mereka sama-sama bodo amat. "By the way lo nggak ngampus?" tanya Sathir menyuapi udang ke adiknya yang mangap. "Dijemput Abang. Mana cara jemputannya maksa, narik-narik kayak sapi nggak bilang apa-apa. Gue ninggalin makanan di kantin," jelas Shifkha mencebik lalu membuka mulut saat Sathir kembali menyodorkan nasi. Kedua bersaudara itu makan bersama layaknya saudara. Beda sekali dengan Sakha yang tidak peduli dan sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Xella iri menjadi Shifkha karena dikelilingi oleh kakak dan adik yang sangat menyayangi. Ibarat kata Shifkha tak haus kasih sayang. Walaupun Sakha cuek, tapi perhatiannya tidak main-main sebagai seorang kakak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN