"Sakha," panggil Xella ketika menyusul sang suami keluar dari ruangan Sathir. Gadis itu berhasil mencekal lengan Sakha, masih dengan posisi yang sama tanpa berniat menoleh.
"Kita ada masalah? Lo marah karena gue ...." Ucapan Xella mengambang begitu saja ketika sosok Pradana mendekat dengan anak buahnya. Masuk ke ruangan Sathir tanpa menyapa anak dan menantunya.
Sakha sudah biasa dan santai berbeda sekali dengan Xella yang diam menahan napasnya saat Pradana lewat di depannya.
Tidak lama kemudian giliran Xella yang digandeng, serupa menyeret membuat gadis itu kaget. Namun, tak berani membuka suara, memilih nurut dibawa oleh Sakha.
"Kenapa ke sini?" Xella harap-harap cemas karena mereka berada di atap—lantai tertinggi gedung rumah sakit ini. Tanpa sengaja matanya melirik ke bawah membuatnya langsung menarik diri, berdiri di belakang tubuh jangkung laki-laki itu. "Ayo pulang aja, Ka."
"Gue mau ngerokok. Lagian kenapa lo minta ikut. Sana pulang sendiri," katanya acuh mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantiknya.
"Sudah makan?" tanya Sakha begitu Xella ikut duduk ngemper di sebelahnya, bersandar di pembatas besi.
"Gue makan di rumah mama."
"Oh." Respon alami Sakha, tak lama dari itu terdengar bunyi perutnya membuat Xella tak dapat menahan tawanya.
"Sorry-sorry," katanya buru-buru menutup mulut. "Gue nggak tahu lo belum makan. Ngebakso mau? Tadi di depan rumah sakit ada warung bakso, ya nggak higienis, sih, tapi ramai. Barangkali enak."
Sakha berdiri, mengulurkan tangan tanpa menjawab kesediaannya. Namun, dengan aksinya ini cukup membuat Xella yakin bahwa laki-laki itu tak masalah makan bakso di pinggir jalan.
"Gue bukan Sathir yang harus makan higienis. Kita bahkan pernah makan nasi goreng di tenda, La. Lo lupa?"
Xella menggeleng mengulum senyum, menerima uluran tangan Sakha. Mereka turun tanpa ada pembicaraan apa pun.
***
"Mau makan bakso atau makan cabai?! Lo terlalu banyak sambal, La. Perut lo bisa meledak bolak-balik WC." Peringatan sarkas Sakha tidak dipedulikan oleh Xella. Gadis itu kembali menuang satu sendok sambal padahal kuahnya sudah berwarna merah. Berbeda dengan Sakha yang hanya pakai kecap saja.
Walaupun perawakan sangar nyatanya Sakha tidak bisa makan pedas. Dia memiliki riwayat lambung akut jadi tidak berani. Kalaupun makan pedas karena siap resiko dan ingin.
"Gue suka ngebakso yang pedes begini. Selera orang kan beda-beda," bantah Xella.
Sakha mengendikkan bahunya acuh. Menusuk bakso dengan garpu ogah-ogahan. Laki-laki itu melirik Xella di sebelahnya, lebih tepatnya Xella berulang kali menyampirkan rambut sampai-sampai masuk ke kuah bakso.
Sakha berdecak, rambut gadis itu tidak panjang-panjang amat, tetapi karena cara makan Xella yang merendahkan badan hampir menyentuh mangkuk membuat rambutnya ikut masuk.
"Mata gue risih ngeliat rambut lo kibar-kibar," alibi Sakha saat tubuh Xella menegang begitu sentuhan dirasakan di tengkuknya saat tak sengaja bersentuhan ketika Sakha mengikat rambutnya dengan gelang hitam laki-laki itu.
"Sama-sama," sarkas Sakha melihat rambut Xella sudah terikat asal-asalan. Terkesan berantakan, tetapi justru membuat gadis itu kelihatan cantik.
"Tadi Lo ke sini, Ka? Kenapa nggak ngajak gue?"
Sakha enggan memberikan jawaban pasti. "Mau ngedeketin Sathir?"
"Emangnya kalau jenguk dia udah pasti ngedeketin? Gue sama dia kenal lebih dulu, tapi sama sekali nggak ada niatan main api di belakang lo. Gue sadar diri kalian siapa dan gue siapa."
Mendadak nafsu makan Sakha menjadi hilang. Mendengar nada kalimat merendah gadis yang makin lahap menghabiskan semangkuk bakso.
"Begitu gue setuju menikah sama lo kita berdua memutus komunikasi dengan sadar diri, Ka. Yang kemarin adalah pertama kali setelah status gue menjadi istri lo. Itu pun karena tidak sengaja, gue mau telepon Lovina malah kepencet nomor dia." Xella menjeda kalimatnya saat tersedak kuah, buru-buru Sakha menyodorkan teh manis gadis itu. "Makasih," katanya menandaskan isi gelasnya.
Xella melihat dengan jelas raut terkejut Sakha mendengar pernyataannya. "Semalam lo mabuk."
"Hem." Sakha berdeham. Merokok tanpa peduli dengan pelanggan lain, lagipula warung ini terbuka, asapnya langsung terbang. "Gue lakuin ngapain lo semalam?"
Sakha tidak ingat, alangkah baiknya Xella tidak perlu memberitahu kejadian semalam. Dia hanya mengendikkan bahunya dan Sakha nampak tidak peduli.
***
"Duluan," ujar Sakha mengaitkan helm. Marina menunggu di dekat motor putrinya sedangkan Xella mendekat ke Sakha. "Gue di belakang lo."
Xella mengangguk lalu menghampiri sang ibu, dengan sigap Marina mengulurkan helm ke Xella yang diterima. Sakha datang dengan motor besarnya ketika Marina sudah duduk di motor Xella.
"Nak Sakha ngikutin, La?"
"Iya," jawab Xella sekenanya. Gadis itu fokus membawa motor saat sudah masuk ke jalan raya, di belakangnya Sakha membuntuti, memastikan istri dan mertuanya selamat sampai tujuan. Bukankah suami dan menantu yang baik hati terlepas dengan kebenaran pernikahan keduanya sikap Sakha sangat bertanggung jawab.
Disaat tengah berkendara sebagaimana mestinya mata Sakha menyipit dengan bibir berdecak di balik helm full face-nya saat mendapati tiga motor di belakang mereka yang seolah mengincarnya.
Sakha menaikkan laju motornya mendahului Xella yang kaget ketika motor Sakha tiba-tiba melaju kencang diikuti oleh tiga motor asing. Xella sempat menoleh saat bahunya ditepuk oleh Marina.
"Aku antar Mama pulang dulu, nunggu Sakha di rumah Mama."
Walaupun Marina khawatir dia tak bodoh dengan mencelakai mereka berdua. Marina mengunci rapat bibirnya.
Berkendara hampir 1 jam motor parkir di teras rumah minimalis Marina. Xella turun setelah membantu sang ibu turun, membantu melepaskan helm-nya.
"Suami kamu belum sampai, La."
"Paling mampir beli es tebu," celetuk Xella asal.
Marina berdecak padahal dia sedang khawatir, tetapi respon Xella membuatnya kesal. "Itu es kesukaan kamu. Aneh-aneh saja. Mama masuk dulu, kalau suamimu sudah sampai ajak masuk sekalian."
Xella mengangguk saja. Seharusnya Xella ikut masuk bukan berdiri di depan gerbang usang rumahnya menunggu Sakha harap-harap cemas. Gadis itu juga tak tahu dengan respon tubuhnya yang gelisah.
"Masuk aja, deh. Nanti juga balik sendiri. Dia kan memang begitu. Pergi tiba-tiba datang juga begitu." Monolog Xella melenggang masuk ke kamar lalu merebahkan badannya yang terasa lelah sampai kantuk datang memburunya.
Sedangkan di tempatnya Sakha sedang ngopi santai di bengkel sambil merokok. Pelipisnya luka, tapi tidak parah.
"Ngajak balapan, tapi liar di jalanan. Bocah gila, Bos. Lo terima tawarannya?"
"Motor lagi?" sahut yang satunya.
"Bos bisa beli motor begituan tanpa menang balapan kali. Tapi ini harga diri, Bro!"
"Gue belum tahu," ujar Sakha tiba-tiba berdiri membuat teman-temannya mendongak meminta penjelasan. "Tapi gue nggak nolak HA-HA."
Setelahnya Sakha terbahak-bahak membuat yang lainnya saling pandang. Sakha bertingkah seperti orang bodoh. "Gue berharap mereka nggak paham kalau motor di depan gue itu Xella sama nyokapnya."
"Lo nggak mau melibatkan mereka, Bos?"