“Tangan lo!” geram Xella setengah mendesis saat tangan Sakha mencubit-cubit lengan atas gadis itu yang dirangkul Sakha. Sialnya Sakha memang berotak picik karena laki-laki itu memilih bangku pojok. Sengaja untuk berbuat ‘iya-iya’. “Cuma cubit. Pelit.” Xella sungguh tidak nyaman. Dia tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki bahkan dengan ayah kandungnya saja sangat jarang setelah mereka memiliki pembatas usai perceraian ayah dan ibunya. Dan kini dia berhadapan dengan predator seperti Sakha yang seenaknya sendiri. Lagi-lagi dia diam saja karena meladeni Sakha tidak ada habisnya. Film mulai diputar, mereka menonton film komedi alih-alih romance atau horor karena permintaan Lovina. Xella dan Shifkha manut. Kalau Sakha? Entah laki-laki itu tidak jelas. Main ikut saja tidak peduli dengan p

