“Sam keadaan kamu gimana sekarang?” aku menutup pintu kamar Samuel, meletatakan beberapa kantung belanjaan di atas meja dekat dapur.
Sekarang aku merasa seperti tuan rumah di sini, hampir satu minggu aku datang bolak-balik dari rumah ke tempat Samuel hanya sekedar mengecek kondisinya udah membaik atau belum. Lagian 1 bulan Samuel harus rehat total, gak bisa melakukan kegiatan berat yang bisa jadi membuat racun yang sempat tersebar kembali pecah sebelum membeku sepenuhnya.
“Seperti yang kamu liat sekarang,” sahut Samuel dengan acuh, “aku bosen Al kalau di sini terus.”
“Kondisi kamu belom sepenuhnya sembuh, masih harus istirahat sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan ini. Lagian ya, obat yang kemarin masih sering bereaksi kan? Jadi ya bersabar aja.”
Samuel mendesah pasrah, menarik buku yang sekarang menutupi sepertiga wajahnya. Aku hanya bisa mengangkat bahu, beranjak menuju dapur untuk meletakan makanan yang aku bawa, kulkas Samuel udah kosong total sekarang.
“Makan malam ini aku buat ayam tepung sama tumis sayur aja ya,” ucapku yang menaikan beberapa oktaf suara, jarak antara dapur dengan ruang istirahat cukup jauh.
“Aku bosen makan itu!” teriak Samuel tak kalah kencang, “ganti sama menu yang lain kalau bisa!”
“Ih.. udah dimasakin juga masih aja banyak permintaan, gak bisa apa bersyukur dikit sama apa yang dikasih! Gak tau terimakasih! Dia yang teledor, aku yang harus kena imbasnya!”
Setelah perdebatan panjang dengan Samuel, akhirnya aku memilih memasak ayam rica-rica dengan saus asam manis yang baru aku liat resepnya di buku rahasia, ya buku jaman dulu.
“Jadi kamu mau neliti lagi? Bukannya ilmuwan yang kamu tarik, udah banyak yang mengundurkan diri karena penyergapan waktu itu kan? Terus sekarang pergerakannya gimana?” komentar Samuel.
Aku meletakan sendok dan garpu, menatap Samuel yang lahap memakan semua masakan yang aku buat tanpa jeda sebentar, “Emang bakalan ribet sih, soalnya 2/3 ilmuwan muda ngundurin diri.”
“Iya aku tau, ada 2/3 ilmuwan muda yang kamu tarik, teruse sekarang kamu gerak sendiri gitu?”
“Ya enggak lah, kalau kayak gitu sama aja kayak aku nyerahin diri sendiri ke petinggi, nyari mati. Karena aku gak mau nyari mati, aku nyari lah orang yang pendiriannya kokoh buat melakukan hal gila bersama dengan aku,” ucapku pelan, “kamu harus tau, bukan ilmuwan muda yang masih baru yang masuk ke tim aku, tapi mereka yang jauh udah berpengalaman yang bakal bantu.”
“Maksud kamu?” Samuel berhenti mengunyah, “bukannya hampir seluruh ilmuwan itu pro sama pemerintah ya? Kalau pun ada yang pro ke kamu, itu gak banyak dan terlalu banyak neko.”
“Iya sih emang banyak orang yang neko, terus akhirnya memilih keluar, tapi yang sekarang namanya keajaiban dong, setelah aku ngerasa semua yang udah aku susun bakalan gagal, ternyata salah total! Aku masih dikasih kesempatan buat memperbarui semua, aku masih ada waktu buat buktiin ke banyak orang kalau banyak petinggi yang sebenernya gak pro sama warganya.”
“Terserah kamu deh, jangan terlalu percaya dulu sama mereka. Kita gak tau, sebenernya mereka pro ke kita atau engga, atau bisa jadi mereka tuh mata-mata yang dikirim sama pemerintah buat ngegagalin rencana kamu. Sebelum kamu akhirnya kecewa, stop dari sekarang.”
“Sam, aku tau kalau kamu itu terlalu khawatir, tapi sekarang kita gak punya banyak waktu. Kalau kita gak gerak dari sekarang, dalam waktu dekat ini bakal ada perpecahan lebih besar. Kamu tau sendiri, bekas dari perang dunia 3 sampai sekarang belum sembuh total, banyak loh hewan sama tumbuhan yang bermutasi, harusnya gak berbahaya, ternyata sekarang? Berbahaya banget buat kita dan kamu tau kan, butuh puluhan tahun lagi biar kita tau cara untuk nanganin semua tumbuhan berbahaya itu.
“Jadi gak ada waktu buat berpikir rehat sejenak, atau berpikir berhenti sedangkan banyak nyawa yang akan menjadi taruhannya untuk sekarang. Kamu inget kan sama proyek terbaru pemerintah?”
“Proyek terbaru yang mana? Proyek mutasi manusia? Atau proyek penyeimbangan bumi karena sekarang manusia udah terlalu banyak di muka bumi ini, dan hanya ada satu cara yaitu pemberantasan manusia yang dirasa akan membuat bumi gak seimbang.”
“Proyek kedua Sam, proyek pembasmian manusia layaknya hewan. Inget gak kejadian di perbatasan negara Barat sama negara Timur? Satu desa udah dibantai sama pemerintah secara brutal lewat kelompok tanpa nama, dan desa-desa yang ada di dekatnya dibungkam untuk bersuara. Proyek mereka satu persatu mulai diluncurkan, manusia yang dirasa gak berguna bakalan mati.”
“Nyawa gak penting, nyawa dari orang-orang yang gak memberikan sumbangan langsung untuk negara akan dibunuh, dan mereka yang kuat akan menjadi penguasa di negeri ini. Kurang lebih itu tujuan proyek besar ini, dan semua rencana mereka ada di map hitam tiap negara.”
Aku mengangguk, bukan menjadi rahasia lagi kalau proyek besar semua negara ada di map hitam yang entah ada di mana. Sekarang itu tujuanya, mencari tau dimana letak map hitam.
“Jadi Sam, kita butuh menyusun rencana untuk ini!” seruku dengan semangat, “rencana aku sih nunggu sampai Zack kembali, tapi aneh gak sih, Zack terlalu lama di negara lain sampai sekarang Zack masih belum kembali dari negara lain, entah dia milih menyusuri negara lain atau hal terburuknya dia sekarang terjebak di negara Selatan.”
“Kalau terjebak di negara Selatan sih, engga mungkin Al, dia tuh punya 1001 taktik untuk keluar dari satu negara dan berpindah-pindah kayak dulu,” komentar Samuel yang kembali fokus ke makanan.
“Itu kan dulu, sebelum setiap negara makin mengeratkan penjagaan mereka. Kayak negara Timur yang ada penjaga berlapis kalau kita milih mau keluar dari kota dan pergi ke desa atau sekedar ke hutannya deh. Aku udah beberapa kali ngeliat ada patroli yang semakin sering dari dulu Sam.”
“Iya sih, itu jadi tugas baru buat kita, gimana caranya kita melemahkan pertahanan itu,” ucapnya mengangguk, lengannya masih sibuk memisahkan antara kulit, daging dan tulang ayam!
Aku mengusap mulut dengan tisu, “Aku udah selesai makan, nanti kamu taro di tempat cuci piring aja, besok aku cuciin. Oh iya, makan pagi sama makan siang ada di kulkas, nanti kamu tinggal angetin lagi aja sebelum makan ya,” ucapku yang diangguki.
“Udah ini kamu ada rencana lain? Mau kemana gitu?”
“Aku harus ke rumah oma, kondisinya makin buruk, aku gak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk ke oma. Ya seengaknya, aku selalu ada buat oma kan?”
“Jangan berpura-pura kuat Al, kalau mau nangis, kamu tinggal nangis aja. Gak ada yang larang kamu, malah kalau kamu nahan terus tangis kamu, rasanya bakal jauh lebih sakit daripada nangis.”
“Iya-iya bawel, aku pulang dulu ya, hati-hati di sini oke?”
Aku berdiri di depan pagar rumah, menunggu Joe yang janji bakal jemput aku ke rumah oma. Kembali menatap sekilas ke arah jam tangan, udah 10 menit lebih dan Joe masih belum datang!
“Maaf telat, tadi ada tugas tambahan dari kantor pusat,” Joe membuka kaca helmnya, menyerahkan satu helm berwarna putih ke arahku, “ayo kita berangkat sebelum makin larut.”
“Bentar,” ucapku pelan, mencoba untuk menaiki motor yang terlalu tinggi buat aku.
“Pendek,” komentar Joe, mengulurkan tangannya ke arahku untuk menjadi pegangan, “pegangan ke tangan aku, nanti jatoh lagi kayak waktu itu, kan gak lucu malah di rawat lagi di rumah oma.”
“Gak usah diungkit-ungkit lagi deh Joe, bukan mau aku,” aku mencebikkan mulut.
Joe hanya tertawa renyah sebelum melajukan motornya di tengah kota, beberapa kali menyelip kendaran roda empat yang berjalan lambat. Mungkin karena dua hari ke depan adalah hari libur, makin banyak orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk rehat.
“Makin rame ya, bukan sepi,” komentar Joe yang berusaha menyelip kembali, “bakalan larut nih nyampenya kalau kayak gini, gak apa-apa kan?”
“Gak apa-apa, gak usah ngebut nanti..” aku langsung mengeratkan pelukan di pinggang Joe saat Joe mengerem motornya secara mendadak, tanpa ada aba-aba, “hati-hati Joe.”
“Bentar Al, gak apa-apa turun?” Joe mematikan motornya, “kayaknya ada kecelakaan di depan, aku mau periksa dulu, gak apa-apa buat nunggu sebentar lagi?”
Aku mengangguk, “Gak apa-apa kok, sekalian aku nyari minuman, lumayan haus ini.”
Aku turun dari motor Joe, melepas helm dan menjinjing ke salah satu rumah makan yang masih buka, bahkan pelanggannya gak sedikit, cukup ramai.
“Maaf kak, bisa beli air minum botolnya dua?” tanyaku ke salah satu pelayan.
“Oh boleh boleh, mau dingin atau biasa ya kak?”
“Biasa aja, gak usah dingin, kalau ada roti, mau sekalian juga ya kak. Rotinya 4, rasanya campur.”
“Baik kak, tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu. Kakaknya bisa tunggu di kursi aja, biar gak pegel.”
“Emang bener ada konspirasi, tapi gak tau sih konspirasi kayak gimana. Cuman udah ke endus ke masyarakat kayak kita kan?” ucap perempuan berbaju merah di samping kursiku.
“Kalau emang bener, jadi selama ini kita orang-orang yang beruntung dong? Bisa hidup bebas dan gak perlu takut kayak orang-orang di luar kota? Kayak di desa-desa.”
“Nah bener banget, bahkan katanya ada pembunuhan berantai gitu, entah itu kabar palsu atau kabar beneran, tapi kalau itu beneran serem banget dong. Masalahnya ini urusan sama nyawa manusia loh, bukan hewan yang bisa diperlakuin kayak gitu.”
“Nah bener banget, serem-serem sekarang, jadi gak tenang mau ngelakuin apa-apa juga. Apa lagi dapet kabar kalau kita melakukan pelanggaran bisa dibawa ke pulau terpencil yang kemungkinan kamu selamat itu bakalan kecil banget, kamu bisa kembali dari pulau itu dalam keadaan hidup adalah sebuah keajaiban yang perlu kamu syukuri banget,” balas perempuan berponi.
“Entah ini pilihan yang tepat atau engga dari pemerintah, tapi kita sama sekali gak bisa memberikan komentar apa-apa sekalian melakukan sesuai keinginan pemerintah, gak ada kuasa kita itu.”