AJ#35 Satu misi!

1647 Kata
“Kondisi Samuel gimana sekarang?” tanya kak Anya saat berpapasan di depan laboratorium di gedung kesehatan, “kemarin kamu bilang kalau Samuel sempet hilang kesadaran setelah di suntik obat pencegah racun, tapi racun itu udah terdeteksi kan?” “Iya sempet kak, soalnya gak langsung ditangani waktu kena racun itu, jadi aku harus naikin dosis obat dan aku harus nutup luka pake kain steril, untung di Samuel ada kak.” “Tapi kenapa bisa sampai kena sih? Maksudnya kan, racun itu gak sembarang orang tau dan itu gak bisa digunain kalau buat pelumpuhan orang Al. Misalnya kalau emang karena tumbuhan, dia bukan salah satu tumbuhan yang sensitive, baru mengeluarkan racun kalau dalam kondisi terancam.” “Ceritanya panjang banget kak, intinya sekarang kita harus bener-bener gerak cepat kak. Aku rasa kita harus berhenti di dunia penelitian di negara Timur, kita harus fokus nyusun strategi.” Kak Anya berhenti berjalan, “Separah itu Al? Gak ada harapan lain?” “Engga kak, banyak nyawa yang harus kita bantu untuk tetap hidup. Sekarang mungkin dua negara yang berseteru, tapi gak menjamin kalau negara lain gak ikut berseteru juga.” “Kalian bukannya masuk, malah ngobrol terus di depan!” tegur laki-laki jangkung yang ada di depanku sekarang, “masuk sekarang, profesor Ningas udah ada dari tadi!” “Ma-maaf kak Bayu, tadi ada kendala buat masuk ke sini. Kita permisi dulu,” aku membungkuk. Aku bergidik ngeri kalau harus berurusan sama Bimantya Razka, salah satu tangan kanan dari profesor Ningas dalam penelitian yang berhubungan dengan senjata, penjagaan dan obat pelumpuhan terhadap tawanan dan buronan di negara Timur. “Maaf profesor, kami terlambat sampai ke sininya,” ucapku dengan takut-takut. Perempuan paruh baya itu melepaskan kacamatanya, “Gak masalah, saya juga baru sampai di sini. Jadi bagaimana buat obat bius dalam pelumpuhan senjata? Udah aman? Apa ada masalah?” “Sejauh ini obat bius yang kita rancang udah dalam tahap melihat dampak ke penggunanya Prof, mungkin 1 atau 2 bulan lagi kita bisa rilis,” jelas kak Anya dengan singkat. “Oke kalau kayak gitu, oh iya gimana sama Dimas? Kalian satu tim kan?” “Kak Dimas melakukan penelitian di laboratorium alat Prof, harus ada uji kualitas alat untuk obat bius itu, memudahkan para penjaga perbatasan untuk menggunakannya.” “Emang gak salah apa yang diucapin sama profesor Hangga, kalian emang kombinasi yang pas untuk melakukan penelitian sebesar ini. Saya bangga sama tim ini, cuman ada 6 orang tapi kalian luar biasa, terutama kamu Alya, kamu masih muda dan udah melakukan terjun langsung di penelitian yang gak bisa saya sebut mudah. Salah satunya di penelitian dan perancangan alat kayak gini.” “Saya gak ada apa-apanya prof, saya masih perlu banyak bimbingan. Di sini aja saya selalu dibantu sama kak Dimas, kak Anya, kak Setyo, kak Azria, sama Sindra.” Aku menolak untuk ucapan yang terlalu berlebihan, aku gak sehebat seperti yang diucapin sama profesor Ningas. Kak Anya langsung merangkul aku, “Prof dia itu gak bakalan nerima ucapan prof, dia rendah hati dan gak suka di puji, dia bakalan berkarir meskipun kita gak liat prosesnya.” “Kamu benar Anya, dia merendah dan menutupi semua keberhasilannya.” “Selamat siang semuanya!” suara melengking khas milik Sindra mengalun di dalam ruangan, “wah udah pada ngumpul-ngumpul aja, aku kelewatan banyak dong. Aku baru aja keluar dari ruangan rawat, pasien yang kemarin kita jadiin korban obat bius itu ada dalam keadaan gak baik-baik aja. Jadi akhirnya aku sama kak Setyo melakukan penelitian literatur tentang pengurangan dampak dari obat bius kita, dan ternyata harus ada beberapa penambahan.” “Emang dampaknya bener-bener hebat banget Sin?” tanyaku yang diangguki oleh Sindra. “Banget Al, soalnya peredaran sempat beberapa kali berhenti sebelum ada pembengkakam di daerah yang terkena suntikan obat bius kita. Itu adalah orang yang detik itu langsung ditangani, kebayangkan kalau korbannya gak langsung ditangani, bisa jadi nyawa mereka melayang.” “Aku tambahin Sin,” kak Setyo menginterupsi, “zat yang kemarin kita kira gak berbahaya, ternyata bisa berbahaya dengan campuran larutan organik itu. Reaksi yang seharusnya gak terjadi, malah terjadi karena ada pemicu dari reaksi berbahaya itu.” “Kalau kayak gitu, lebih baik kita ganti beberapa komposisi dan mengurangi zat Arziannya, biar gak terlalu berbahaya buat nyawa manusia. Sebelumnya prof, aku mau nanya. Kenapa kita harus melakukan penelitian kayak gini, maksud aku, kita emang udah punya obat bius sebelumnya.” “Alya kamu terlalu polos, obat bius kita itu gak terlalu efektif untuk sekarang, kerja reaksi zat yang berbahaya itu gak bisa langsung berjalan, mungkin butuh 1-3 jam sampai akhirnya bereaksi penuh.” “Kak Azira bener Al,” setuju kak Anya, “obat bius kita harus diperbarui biar bisa maksimal dalam membantu penjaga yang ada di sini terutama yang ada di perbatasan, mereka cukup riskan.” “Apa jawaban dari kakak-kakak ilmuwan kamu udah cukup menjawab? Atau saya harus bantu menjawab dari pertanyaan kamu? Gimana?” Aku menggeleng dengan cepat, ya kali aku mau dengerin penjelasan yang panjang banget dari profesor Ningas. Masalahnya profesor Ningas pasti bakalan melebar kemana-mana penjelasannya dan gak cukup hanya 1 atau dua jam mendengarkannya. “Cukup Prof, udah sangat cukup. Mungkin sekarang kita harus mencari beberapa bahan untuk meminimalisir dampak obat bius kita, berarti harus ada tambahan zat untuk mencegah reaksi berbahaya itu masuk ke tubuh kita, iya kan?” “Tenang semuanya,” kak Anya tersenyum simpul, zat Azrian udah pernah aku teliti, ada kandungan yang gak bereaksi di larutan Azrian itu, kandungan itu yang bisa menekan dan mencegah adanya reaksi yang gak diinginkan. Kalau kemarin aku gak tau, larutan apa yang bisa meningkatkan reaksi berbahaya itu, karena sekarang udah tau, aku fikir kita bisa nambahin obat Ziria.” “Obat untuk menghilangkan kesadaran? Sejenis sama obat bius dong?” “Iya, bener banget. Obat ziria itu sejenis sama obat bius tapi obat Ziria bisa meningkatkan reaksi kandungan pencegah di zat Azrian, aku pernah nyoba nyampur kandungan obat Ziria ke zat Zirian yang hasilnya sesuai dengan aku harapin,” jelas kak Anya mengeluarkan tabletnya. “Nah ini buktinya, tapi untuk obat Ziria, kita perlu melarutkan dalam kondisi asam, memecah beberapa kandungannya dan mengambil kandungan Astranya.” “Kayak simpel banget, kalau kayak gitu, ya udah sekarang kita gerak aja.” Aku gak setuju dengan ajakan Sindra, masalahnya perlarutan dalam kondisi asam ini gak gampang, dan pemecahan kandungannya pasti ribet. “Boleh banget Sin, aku juga mikir langsung aja gerak.” “Bentar deh,” interupsi, “gak semudah itu dong kak, maksudnya itu kalau ada larutan anorganik itu, ditambah sama kandungan Astra dan zat Ziria, apa gak beresiko ke kematian. Cek deh jurnal yang ada di laman penelitian, kandungan Astra gak bisa sembarang dicampurkan, bisa bereaksi parah dan menyebabkan kegagalan jantung jika salah penanganan.” Kak Setyo yang ada di depanku mengangguk, “Bener kata Anya, gak semudah itu kita langsung campuran dua zat yang cukup berbahaya. Profesor Ningas, kita perlu waktu meninjau lagi untuk obat bius biar aman digunakan, ini masalahnya menyangkut nyawa orang.” “Satu lagi, saya mau kalau ini gak disalah gunakan dan gak diperjual belikan dengan bebas kayak obat bius lainnya, ini bisa berbahaya kalau orang awam memakainya,” tambah kak Azria. “Tapi kan ----“ “Cuman ada dua pilihan buat Profesor saat ini,” ucapku dengan rendah, “penelitian ini berlanjut atau selesai sampai sini aja, kita berenam pamit gak lanjut.” “Kalian?” kami yang ada di ruangan langsung mengangguk, “baik, penelitian ini harus berlanjut.” Aku sekarang ngerasa gak enak sama Sindra, kak Setyo sama kak Azria. Masalahnya aku malah ngajak-ngajak mereka buat mogok penelitian tanpa ada briefing. “Woy.. mikirin apaan sih?” Sindra menyerahkan satu kaleng minuman bersoda, “mikirin tadi ya?” Aku mengangguk, “Gak enak sama kalian, tapi lucu, kalian malah iya-iya aja.” “Masalahnya kita emang setuju sama ucapan kamu, gak boleh sembarang orang make obat bius ini.” “Kak Dimas gak tau apa-apa juga,” gerutuku, “gak tau aja tadi, suasana mencekam.” Kak Azira menahan tawa, dia mengusap puncak kepalaku, membuat aku bisa jauh lebih tenang daripada tadi. Aku menatap sekeliling sebelum terfokus ke kak Anya yang terlihat santai. “Menurut aku, diantara Profesor yang ada di negara Timur, cuman beberapa orang yang pasti nurut atau mengayomi kemauan kita, kayak tadi itu loh, kan itu ada hak kita, mempublish ke masyarakat atau engga, itu hak kita loh. Nah, profesor Ningas itu salah satunya, beliau gak menempatkan dirinya sebagai orang yang ‘wow’ atau yang paling serba bisa, beliau lebih ke nerima pendapat orang dan memikirkan jangka panjangnya bakalan kayak gimana.” “Tuh dengerin kata Azira, dia udah 3 tahun lebih ada di bawah naungan Profesor Ningas, dua penelitiannya gak dipublish ke masyarakat, hanya petinggi doang yang tau karena bakalan berbahaya kalau masyarakat umum sampai tau,” ucap kak Dimas setuju. “Jadi yang tadi itu gak masalah kan kak?” tanyaku memastikan lagi. “Enggak lah, jadi santai aja. Daripada mikirin hal yang gak pasti, mending sekarang kita santai-santai dikit, udah 1 bulan lebih kita kerja paksa buat nyelesaian satu obat doang, tidur gak nyenyak karena mikirin obatnya bakalan berhasil atau engga.” “Dih kamu Dim, kayak yang kerja aja, kalau bukan Azira yang ngomelin, mana mau kamu kerja.” “Permisi nih ya,” kak Anya mengangkat lengannya, “ini kalian mau debat, ngomong terus sampai lupa buat mesen makanan atau gimana nih? Kita kan rencana ke caffe ini bukan buat debat, buat rehat dan makan malam bareng kan? Aku dari tadi nahan laper nih!” “Nya dari dulu sikap kamu masih aja sama, blak-blakan sama apa yang dipikirin.” “Kak Anya udah deket sama kakak semua?” “Lah iya udah lah, kita juga tau rencana pemindahan alat ke desa Awan. Kita ikut!” “Hah?!” aku melongo kaget, terus ngapain selama ini aku canggung sama mereka! Satu misi!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN