Aku langsung membenarkan posisi duduk, siap dalam mode menyimak semua cerita Samuel. Mataku sedikit jelalatan di ruangan Sam, terfokus di beberapa titik seperti ruangan yang Samuel sengaja buat untuk peletakan alat persenjataan yang diam-diam dia bawa dari negara barat, dan satu ruangan lain yang membuat aku betah berlama-lama di rumah Sam, ruangan kenangan perang dunia 3 kemarin, banyak barang yang gak pernah aku lihat ada di ruangan itu.
“Negara barat ada perseteruan sama negara Selatan, aku kemarin pulang ke negara Barat dan berakhir kena tembak dari pasukan Selatan,” jelas Samuel menghela napas, “tapi aku rasa Al, negara Selatan ada bahan berbahaya untuk warga mereka.”
“Maksud kamu, bahan berbahaya kayak gimana?”
“Tau sungai yang pernah aku sama Zack bawa, aku pernah bilang bukan kalau sungai itu mengalir sampai ke negara Selatan, jadi salah satu sumber mata air yang di dewakan oleh mereka.”
Aku mengangguk pelan, “Terus kenapa Sam? Sungai di kita ada masalah atau..” aku mencoba menebak kemungkinan terburuk, “mereka nambahin zat yang mematikan ke sungai, setau aku sungai itu juga sampai ke negara Barat, dan banyak dimanfaatkan sama warga kan?”
“Itu dia titik permasalahannya Al, negara Selatan gak mau mengakui kalau mereka ngasih racun ke sungai, dan menyalahkan negara Barat yang gak bisa menjaga warganya.”
“Kamu tau darimana kalau negara Selatan yang ngasih zat berbahaya itu? Bisa aja orang asing dari negara kamu kan Sam? Ada buktinya kalau itu negara Selatan?”
“Ada Alya, aku gak bakalan sembarangan nuduh negara lain, aku kemarin sama Ryo langsung liat sungai itu, dan setelah diam-diam kita ngecek masalahnya. Negara Selatan melanggar perjanjian yang udah kita buat Al, mereka buat laboratorium yang limbahnya langsung dibuang ke sungai!”
Aku tercekat, gak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Masalah besar kalau sampai negara lain tau, bisa jadi perang dunia 4 muncul. Itu bakal lebih berbahaya, kalau semua negara secara diam-diam punya alat berbahaya dan melakukan penelitian zat racun kayak negara Selatan.
“Sam, ini cuman negara Barat doang yang tau atau gimana? Kalau sampai negara lain yang tau, kemungkinan bombardir ke negara Selatan atau lebih berbahaya lagi, perang yang gak kita inginkan malah kembali muncul Sam,” ucapku dengan hati-hati.
Sam menghela napas panjang, “Aku gak tau Al, negara aku aja taunya sebatas perasaan mereka karena negara Barat sekarang diblokir akses untuk masuk ke negara Selatan.”
“Kenapa jadi serumit ini? Dan kenapa kejadian penyebab perang dunia yang lalu, kembali muncul?”
“Manusia itu ambisius, mereka bakal gak puas sama apa yang mereka punya Al, mereka akan mencari apa yang kurang dari yang mereka miliki, apapun bakal mereka lakukan kan?”
“Masalahnya banyak nyawa yang jadi taruhannya, perang dunia ketiga itu masih belum banyak zat-zat berbahaya seperti sekarang Sam. Contoh aja pistol yang dimiliki petugas penjaga, zat yang dipake itu hanya 2% dari zat berbahaya dari tumbuhan Arkalia, itu 2% yang bisa melumpuhkan otot.”
Samuel langsung menangkup pipiku sampai bibir aku mempout, “Mereka gak akan peduli Alya, selagi ambisi mereka belum mereka dapati, mereka bakal lakuin terus. Nyawa orang lain itu gak ada artinya, nyawa mereka yang berarti untuk mereka sendiri.”
“Mereka tamak, mereka gak pantes ada di muka bumi ini!”
“Meskipun sekarang kamu basmi, bakal muncul lagi orang yang sama kayak mereka Al. Udah jadi hukum alam kalau akan terus ada manusia yang haus dengan kekuasaan.”
Aku menghela napas, gak bisa lagi berkata-kata sekarang. Ucapan Samuel ada benernya, mau sekarang mereka di basmi pun, tetep aja bakalan ada manusia yang serupa kayak mereka. Melelahkan tapi mau gimana lagi, mungkin udah jadi hukum alam.
“Daripada mikirin kayak gitu, kamu mending bersihin dulu luka di bahu aku, sekarang kerasa nyeri.”
Aku mengangguk, mengambil satu bantal untuk menjadi tempat kepala Sam, “Sini aku cek dulu luka kamu, kemarin udah sempet dijaitkan atau cuman kamu tutupin kayak biasanya.”
“Seperti biasa, aku cuman nutupin, kalau gak bakalan bahaya kalau sampai ada yang tau Al.”
Aku lagi-lagi mengangguk, “Tapi Sam, kalau kamu kayak gini terus, bisa berbahaya buat lengan kamu. Ini bisa jadi ada infeksi dan kalau gak ditangani dengan cepet, tangan kamu harus diamputasi biar gak menyebar ke yang lainnya. Kamu mau kayak gitu?”
“Gak bakalan terjadi Al, aku punya kamu yang bakalan ngobatin aku. Lagian kamu gak bakalan tega ngeliat aku luka sampai separah kayak gini, sebuah keuntungan bukan buat aku?”
“Dih..” aku langsung menekan luka Samuel, “rasain!”
“Ish.. aw.. sakit Alya, aku lagi luka loh!” ringis Sam, lengannya berusaha menjauhkan lenganku yang ada di atas bahunya sekarang, “kalau gak niat ngobatin, bilang aja.”
“Tadi perasaan kayak baik-baik aja sebelum aku ngeliat kamu ada luka, kebiasaan banget pasti bakalan kayak bocah kalau udah diobatin,” gerutuku dengan pelan.
“Ya udah maaf, sini aku obatin lagi.”
Setengah jam lebih aku harus membersihkan luka Samuel yang ternyata jauh lebih parah dari dugaanku, darah yang aku kira hanya dari satu luka ternyata ada 3 luka yang berkumpul di bahu Samuel. Bahkan ada yang lebih parah dari itu, 3 titik luka itu membuat urat-uratnya berwarna hijau bahkan ada yang berwarna ungu dan biru.
“Sam, kayaknya kamu harus ke rumah sakit deh. Aku gak yakin bisa ngobatin luka kamu yang sekarang, jauh lebih parah dari dugaan aku loh. Luka kamu memunculkan beberapa urat seperti orang yang terkena setrum dari pihak penjaga, bisa jadi ini dari obat berbahaya.”
“Tapi Al, ini bakal berbahaya buat aku, maksudnya ini bakalan buat orang curiga.”
“Itu biar aku yang ngurus,” ucapku menenangkan, “sekarang ayo kita siap-siap ke rumah sakit.”
Aku langsung berdiri, mengambil tas selempang dan meletakkannya di bahu, membawa beberapa kapas dan kain kasa untuk menutupi luka. Samuel mencoba duduk, lengan kirinnya yang bebas memegang kepala, menggelengkan kepala dan meringis pelan.
“Kamu gak apa-apa kan Sam?” tanyaku cemas, “dahi kamu panas, kayaknya reaksi dari luka kamu. Sekarang tidur lagi aja, aku bakalan berusaha sebisa aku.”
Aku menggigit jari, sedikit bingung harus melakukan apa sekarang, semua yang ada di pikiran aku langsung melayang. Samuel yang ada di sofa meringis beberapa kali, membuat aku semakin panik! Panik harus melakukan apa sekarang?!
“Ah iya, scan zat!” aku berseru senang, mengeluarkan scan zat yang selalu aku bawa kemana-mana, mengambil contoh cairan yang ada di luka Samuel, berharap scan ini dapat berjalan.
“Kamu tunggu ya, aku kompres lagi lukanya, kamu tahan sebentar,” aku meletakan kain basah yang cukup hangat untuk luka, melihat scan yang masih berkedip beberapa kali sebelum berbunyi nging yang cukup panjang, bukti kalau hasilnya sudah keluar.
“Zat ini bukannya dari tumbuhan Scilio di negara timur, tumbuhan yang cukup berbahaya dari bagian sari bunga, mematikan kalau tubuh kita langsung terkena zat tersebut. Pantes ada urat yang menonjol, reaksi zat Scilio yang langsung mengenai kulit, kalau kayak gitu, cuman ada satu cara.”
“Sam, kamu ada jarum suntik sama alkohol dan larutan biru yang waktu itu pernah aku kasih?” tanyaku di sela ringisan Sam, lengan Sam mengarah ke ruangan senjata di sebelah timur.
Aku mengangguk, berjalan memasuki ruangan senjata, mengobrak-abrik sampai aku menemukan satu kotak putih yang dulu pernah aku kasih ke Samuel sebagai jaga-jaga.
“Kamu tahan sebentar ya,” ucapku yang memegang lengan kanan Sam, warna sebagian kulit Samuel udah berubah jadi biru, menandakan zat racunnya udah masuk ke peredaran darah, “agak sedikit sakit, jadi aku taro kain di mulut kamu ya.”
“Jadi ada masalah baru ya?” tanya Zack saat aku berkunjung ke hutan.
“Bener banget Zack, aku juga gak nyangka kita bakalan dapet masalah baru yang entah kita bisa membantu atau engga, soalnya ini permasalahan dua negara bukan satu negara yang bisa kita ikut bantu kayak biasanya,” jelasku yang mengambil satu gelas coklat panas yang masih panas.
“Kalau kayak gitu, aku juga bingung. Lusa aku harus ke negara Selatan berarti, aku ada teman di sana, mungkin aku bisa cari tau ada masalah apa di sana. Kamu di sini hati-hati ya,” lengan Zack mengusap puncak kepalaku, dia tersenyum tipis, benar-benar tipis.
“Kamu juga, jangan membuat ulah kayak Samuel. Datang-datang membawa luka bukan kabar bahagia,” dengusku yang membuat tawa dia langsung pecah, “aku gak ngelawak!”
“Aku usahain bakal pulang dalam keadaan baik-baik aja, ada yang khawatir ternyata.”
“Wajar dong kalau aku khawatir, kamu kan temen aku, kalau kamu bukan temen aku, baru aku gak bakalan khawatir. Eh tapi engga juga sih, kamu manusia dan setiap manusia harus punya rasa simpati, bukan acuh dan cuman jadi beban doang, iya kan?”
Dia menggelengkan kepala pelan, seperti gak menyangka kalau aku bakalan ngomong kayak gitu. Aku juga ngerasa aneh, kenapa aku bisa ngomong kayak gitu, kenapa ya?
“Kamu belajar ngomong kayak gitu sama siapa? Ngerasa aneh kamu ngomong gitu.”
“Rasa kemanusiaan mungkin, soalnya ngeliat banyak orang dalam kesusahan, tapi ternyata banyak orang yang acuh dan gak peduli ya kan? Jadi mungkin aku simpati sama mereka apalagi kalau ngeliat anak kecil yang jadi korban, kayak gimana ya. Aku mikir, kenapa sampai kayak gitu?”
“Aku gak bakalan bosen bilang, kekuasaan dan harta jadi alasan utamanya Al. Gak masalah kalau itu bukan nyawa mereka atau orang yang berarti buat mereka Al. Jadi kamu harus biasain ya.”
“Masih sulit untuk membiasakan hal yang terlalu sadis kayak gitu Zack, aku jadi kepikiran sama Arya, kabar Arya gimana ya sekarang? Aku sama sekali gak dapat kabar tentang dia selama 3 bulan lebih ini. Dia baik-baik aja atau engga ya? Aku takut Zack.”
“Dia pasti baik-baik aja, dia bakal balik dengan kondisi yang kita harapin.”
“Makasih,” aku menengok ke arah Zack, “makasih ya Zack udah mau temenan sama aku, meskipun aku sering banget ngerepotin kamu.”
“Untuk kamu, apa sih yang engga bakal aku lakuin.”