“Alya, kamu kemana aja? Kakak khawatir sama kamu? 1 minggu lebih kakak selalu datang ke rumah kamu, hasilnya selalu sama. Kamu gak ada dan gak ada kabar apapun yang kakak terima Alya!”
“Aku ke rumah temen kak,” aku mencoba menghindari lengan kak Fincent yang bergerak ke atas kepalaku, “aku capek abis perjalanan jauh, mau istirahat dulu kak.”
Aku bergeser sedikit ke kanan dari kak Fincent, membuka pintu rumah yang udah 1 minggu lebih gak aku tempati. Debu-debu halus langsung menyapa indra penciumanku, lumayan akan menguras waktu untuk aku bersihkan dari atas sampai bawah rumah.
“Oma nyariin kamu, kita semua khawatir sama kamu,” bisik kak Fincent, nafasnya membuat bulu romaku langsung berdiri, terlalu dekat!
Aku meronta dalam kukungan kak Fincent, “Kak lepas, aku harus ke kamar. Untuk oma, aku bakal jenguk oma dalam waktu dekat. Masih banyak hal yang harus aku lakuin sekarang.”
“Kamu berubah Al!” suara pintu terbanting membuat aku bergetar pelan, takut dan bingung harus melakukan apa sekarang.
“Kalau di dunia ini ada yang lebih berkuasa dari pada manusia, aku pengen tau. Seenggaknya, ada tempat untuk aku memohon dengan pasti, bukan memohon dan berakhir kecewa.”
“Jadi gimana sama desa Awan itu? Bagus? Semua alat kita bisa dibawa ke sana?”
“Bisa sih kak Anya, cuman aku gak yakin kapan kita bisa bawa semua alat itu keluar dari tempat ini. Kakak tau kan, seberapa ketat penjagaan sekarang?” ucapku dengan pelan, mengaduk minuman kopi yang dari setengah jam lalu hanya aku aduk-aduk.
Aku mencoba menerawang untuk pergerakan aku dalam waktu dekat ini, tapi semakin aku coba semakin runyam semuanya. Semua gak semudah yang aku bayangkan, kabar-kabar yang dulu aku dapatin untuk semua aksi aku juga sekarang semakin sulit, seperti ada tembok untuk aku bergerak, menjeda semua hal yang akan aku lakukan.
“Alya.. Alya..” aku mengerjap dengan cepat, “kamu kenapa? Banyak pikiran ya buat sekarang? Apa pertemuan kita ditunda aja? Kamu lebih baik istirahat. Apalagi kemarin kamu baru ketemu sama orang-orang di desa Awan, pasti itu melelahkan.”
“Gak kok kak, aku cuman mikirin gimana caranya biar kita bisa mindahin alat-alat yang kita punya ke desa Awan dalam waktu dekat, cuman semakin aku pikirin, semakin sulit rasanya kak. Oh iya kak, kak Arya apa kabarnya? Terakhir itu kan..” aku menjeda kalimat yang menggantung di lidahku, rasanya terlalu kelu untuk aku ucapkan, “suara bom dan akhirnya hilang kabar dari kak Arya.”
“Hei!” kak Anya menyentuh jemariku, “Arya pasti masih hidup kok Al, firasat aku bilang kayak gitu dan jarang meleset firasat dari anak kembar ini. Meski pun aku gak tau sih sebenernya Arya baik-baik aja atau engga sekarang, tapi aku yakin dia bakalan tetep hidup, ngeliat kamu berjuang sehebat ini.”
“Kak, gak usah mencoba ngehibur aku kak. Di sini yang lemah, bukan cuman aku, ada kakak juga.”
“Engga kok, aku gak ngehibur siapapun di sini, tapi aku bilang sesuai fakta yang ada. Kamu tau, meski pun dulu aku sama Arya sempet kepisah sama jarak yang lumayan jauh, bahkan kita gak pernah ketemu sama sekali sebelumnya, tapi kalau misalnya ada di antara kita yang sakit atau terluka, kita berdua sama-sama ngerasain Al. Bahkan pernah waktu itu, Arya deman karena kehujanan dan ternyata aku langsung deman juga Al. Lucu dan kadang aku mikir itu gak logis bisa sampe terjadi, tapi mungkin itu keajaiban dari anak kembar, saling bisa merasakan.”
“Lucu banget kak, oh iya kak Anya. Ada penemuan baru yang aku harus langsung neliti, obat biru dari tabung pertumbuhan embrio itu masih aman di tangan kakak kan?”
Kak Anya mengerutkan dahi tapi mengangguk, “Ada dan masih aman kok, kenapa? Kamu mau neliti apa emangnya? Obat biru itu bahaya banget kalau kamu asal pake, dan gak bisa kita racik dalam waktu dekat ini Al, jadi kamu harus hati-hati.”
“Jadi di desa awan aku nemu hal lumayan riskan buat penelitian kita, maksudnya alat-alat yang bakal kita taro di sana, ada dua hal yang harus aku cari tau penyebabnya. Pertama ada air yang cukup aneh, dia gak berbau tapi anehnya dia berwarna ijo kadang bisa berubah jadi bening juga kak, orang-orang di sana bilang itu air dewa kematian, aneh banget kan kak?”
“Hah? Perubahannya itu karena apa? Orang di sana make air itu? Keknya aku pernah baca tentang akibat perang dunia tiga deh, salah satunya ada tanah yang akhirnya menjadi tandus karena bahan kimia yang dulu sempat tumpah ruah. Prediksi awal aku sekarang, itu juga bisa jadi akibat dari kimia yang dulu tumpah ruah, akibatnya ada beberapa makhluk hidup seperti bakteri dan yang lain terkontaminasi, menyebabkan perubahan warna kayak gitu.”
“Itu airnya gak sembarang orang bisa make sih kak, kemarin aku cuman bisa liat dan katanya bisa menyembuhkan tapi kebanyakan orang yang make itu malah mati. Nah, makanya aku pengen nyelidikin pake obat biru yang bikin embrio dari hewan bisa tumbuh berkembang kak.”
“Bisa sih pake obat biru, tapi aku gak menjamin itu bakal bisa berhasil. Reaksi obat biru itu belum sepenuhnya kita tau loh Al, masih mengambang untuk kegunaannya selain dilarutkan dalam cairan dalam tumbuhan Zyniana yang sulit buat kita cari sekarang.”
Rasanya otak aku ingin pecah sekarang, tumbuhan langka yang gak sengaja kita gunakan dan sekarang permasalahannya adalah kerja obat biru yang sukses bikin semua peneliti muda tercengang gak bakalan maksimal, lagian tumbuhan Zyniana gak bisa sembarang orang bisa ambil di negara timur.
“Kak Anya, ada kemungkinan kan kalau tumbuhan Zyniana ada di negara lain? Dan bisa jadi itu melimpah ruah di negara lain. Kita bisa manfaatin Samuel buat nyari informasi, selama internet kita dibekukan sekarang. Samuel itu sumber informasi kita kak!”
“Bentar deh,” kak Anya tersenyum tertahan, satu garis bibirnya ingin melengkung, “sejak kapan kalian jadi akur? Biasanya ribut terus deh kalau ketemu. Entah dari kerja Samuel yang menurut kamu gak bener, sampe tingkah dia yang emang abstrak banget.”
“Em.. kalau itu sih panjang ceritanya, dia salah satu informan yang bisa aku andalin dari beberapa bulan lalu, salah satunya tentang negara Utara kak, tempat keluarga aku.”
“Hebat meskipun tampilannya selama ini urakan ya.”
“Ya namanya juga Samuel, entah berapa banyak dia melakukan kesalahan dan bikin aku dipanggil sama profesor bahkan petinggi di negara Timur kak!”
“Aku jamin ya, kalau Arya ada di sini, dia bakalan bete dengerin cerita kamu. Mau tau sesuatu dari Arya gak? Ini nyangkut sama kamu loh, alasan Arya kenapa jadi terbuka dan manis perilakunya.”
“Kak Anya, itu yang selama ini bikin aku penasaran loh kak, soalnya beda banget sama sikapnya dulu ke aku, dulu kan dikit-dikit suka sewot ke aku, terus kalau ngomong ke aku pasti jutek.”
Aku berjalan menuju ruangan baru, tanganku membawa jinjingan berwarna dengan senyum yang merekah. Uji coba untuk eksperimen di wajah Samuel sebentar lagi akan terlaksana, aku gak sabar lihat wajah Samuel yang beringas berubah menjadi cantik dan lucu, ah.. itu pasti bakalan seru.
“Samuel!!” aku mengetuk pintu sembari meneriaki namanya, “buka pintunya, aku bawa makanan.”
“Gak!” sahut suara dari dalam, “Al, gak lucu ya kalau kamu beneran mau melakukan eksperimen di muka aku! Aku cowok heh!”
“Gak ada yang bilang kamu itu cewek? Sejak kapan kamu berubah bentuk jadi cewek? Gak ada kan?”
“Sebentar lagi kalau aku buka pintu, hitungan menit, muka aku pasti bakalan berubah!”
“Aku mau merawat muka kamu yang kotor, menjijikan, dekil dan gak keurus Samuel! Percaya aja sama aku, muka kamu bakalan bersih dan lucu, gak sangar kayak sekarang gini!”
“Gak! Kamu doang yang berani perlakuin aku kayak gini, gak ada bagus-bagusnya.”
Aku meletakan tas jinjing di lantai, mengetuk jemariku di dagu, berpikir bagaimana caranya membujuk Samuel buat buka pintu. Kalau gak buka, gimana aku bisa melakukan eksperimen gila-gilaan di wajah sangarnya yang gak ada kebaikan itu.
“Gini deh, aku bakal buatin makan siang selama seminggu buat kamu kalau kamu mau aku dandanin wajahnya Sam, gimana?” tawarku setelah berpikir bermenit-menit.
“Al, jangan otak-atik muka aku deh, mana pake tawaran kayak gitu.”
“Mau gak aku buatin makanan? Katanya udah lama gak nyobain makanan aku, apalagi minggu kemarin aku gak ada karena sibuk di luar, beneran nih bakalan ngelewatin penawaran bagus?”
Pintu kamar Samuel langsung terbuka, muka memberenggut Samuel yang pertama kali aku lihat, lucu! Apalagi kalau misalnya aku dandanin pakai beragam macam warna yang ada di tas.
“Al, cuman cewek yang dandan. Mana ada cowok kayak gitu hey! Kamu kira aku ini apaan? Boneka yang bisa kamu seenaknya ganti-ganti wajahnya sesuai keinginan kamu gitu?” ucap Samuel dengan muka di tekuk, dia menggeser tempatnya, memberi jarak untuk aku masuk.
“Ide bagus tuh Al, nanti aku bakal foto terus aku tempelin di album eksperimen aku.”
“Alya! Itu bukan ide bagus dan aku sama sekali gak nyoba buat ngasih ide itu!”
“Hahaha, udah udah sekarang kamu itu pasien yang bakal aku rawat mukanya,” aku mengambil satu wadah air hangat, meletakkannya di atas meja, menepuk tempat di samping, “sini aku rawat mukanya, sekalian aku kompres bekas luka baru kamu di bahu.”
Samuel langsung kaku di tempat sebelum menguasai diri, “Darimana kamu tau?”
“Darahnya masih nembus di baju kamu, kalau udah tau ada perban di tangan kanan, gak usah banyak gerak dulu, nanti bisa lepas jaitan dari dokternya. Kamu kira kamu itu robot yang gak bakalan luka gitu? Sekarang mau cerita alasan luka di bahu kamu? Atau aku yang harus cari tau sendiri.”
“Fine! Aku bakal cerita!”