Semua ucapan Zack terbukti benar, aku yang memang sengaja mengenakan pakaian yang sederhana bahkan terlihat lusuh dapat dengan mudah mendapat sapaan dari warga desa. Mereka jelas-jelas orang yang ramah dan murah tersenyum, gak memandang semua dari harta. Sampai akhirnya langkah kakiku terhenti di depan rumah yang jauh lebih besar dan penuh dengan orang-orang yang keluar masuk dari dalam rumah, sebelum salah satu penjaga mengangguk hormat.
“Nona Alya dan tuan Zack, ini tempat kepala suku kami tinggal, paman Nico yang akan membawa kalian menemui kepala suku” ujar perempuan yang menjadi penuntun aku sampai di depan rumah.
“Terimakasih nona, hati-hati di jalan.”
“Ah nona Alya memang seramah yang orang-orang bicarakan, saya pergi dulu nona,” pamitnya yang berjalan mundur beberapa langkah sebelum membalikan badan untuk jalan.
“Halo tuan Nico, salam kenal, saya Alya dan ini teman saya tuan Zack,” aku mengulurkan tangan yang disambut hangat oleh laki-laki tua dengan senjata api di lengan kirinya.
“Nona Alya yang terkenal menjadi ilmuwan di negara Timur bukan?” aku mengangguk meskipun sedikit bingung kenapa pekerjaanku sampai terkenal di desa ini, “sungguh hal yang luar biasa saya yang rendah seperti ini bisa bertemu dengan orang hebat seperti anda.”
Tiba-tiba paman Nico merunduk, membuat aku gelagapan menghadapi tingkahnya yang tidak bisa tebak. Baru aja aku dan paman Nico bicara, dalam hitungan detik langsung berubah sikapnya jauh lebih hangat namun terasa dia segan berbicara dengan aku yang biasa aja.
“Tuan jangan membungkuk seperti ini, kurang ajar aku kalau membiarkan orang yang jauh lebih memiliki pengalaman harus merunduk kayak gini,” aku memegang bahunya, berusaha untuk membuatnya kembali berdiri tegap seperti semula tapi sulit! Dia masih bertahan dengan posisi yang membuat aku benar-benar merasa orang yang kurang ajar!
“Tuan jangan membuat nona Alya menjadi kurang nyaman dengan perlukan tuan kepadanya, cukup seperti biasa dan anggap saja kita berdua ini sebagai tamu yang berkunjung di sini,” Zack langsung membantuku, mencoba melepaskan cengkraman paman Nico yang kuat.
Paman Nico langsung bangkit, “Maafkan saya nona tapi saya terlanjur bahagia bisa bertemu langsung dengan orang hebat seperti anda, nama anda sudah tersohor di negara Awan,” jelasnya yang membuat aku memaklumi sikapnya, “apalagi sekarang nona Athya sedang terbaring tak berdaya di atas kasurnya, kurang lebih sudah 2 hari berturut-turut ini.”
“Apa aku boleh tanya sesuatu tentang nona Athya yang sekarang sedang sakit?”
Paman Nico dengan semangat mengangguk, “Tentu saja boleh nona, apa yang ingin anda tanyakan?”
“Em..” aku mencoba meredakan rasa grogi ini, “sebelumnya nona Athya mengalami gejala lain sebelum akhirnya terbaring sakit ini? Soalnya yang saya ketahui, racun itu bisa langsung menyebar dalam hitungan jam, dan paling beruntung adalah mereka yang hanya terkena penyakit ruam.”
“Nona Athya sudah menyentuh bunga itu dari 2 bulan yang lalu, tapi tidak ada satu pun gejala kalau bunga yang disentuh oleh nona Athya beracun seperti yang lain sampai dua hari yang lalu.”
“Apa nona Athya melakukan perjalan melewati hutan? Karena jika iya, harusnya saat mengenai bunga itu kembali, dia bisa jauh lebih kuat tanpa ada gejala sama seperti saat awal menyentuh.”
“Kalau penjelasan seperti itu saya kurang tau nona, semua tabib kesehatan di desa Awan sudah mengerahkan kemampuan mereka tapi hasilnya nihil, semuanya gagal dan memberikan dampak buruk untuk nona Athya,” tutur paman Nico yang membuat aku bisa menarik satu kesimpulan, ada salah satu obat yang membuat penyakit Athya menjadi lebih ganas.
“Kalau seperti itu penjelasannya, boleh saya bertemu dengan nona Athya dan kepala suku? Saya harus memastikan sesuatu sebelum memberikan tindakan untuk nona Athya.”
“Ah tentu,” paman Nico seperti tersadar, menggeser tubuhnya dan membukakan pintu yang memiliki ukiran yang indah, “mari ikut saya nona Alya dan tuan Zack.”
Satu hal yang membuat aku tambah kagum saat memasuki kediaman ketua suku dari desa Awan ini, tempatnya sangat-sangat indah, ini bukan lebay tapi memang faktanya seperti itu. Tempatnya tetap asri meskipun banyak orang berlalu lalang di dalam ruangan. Mataku tertuju di semua dinding yang mengarah ke arah timur dari pintu, banyak ukiran tentang rasa syukur warga desa.
“Terpukau?” bisik Zack yang aku angguki, “ini belum seberapa sampai kamu masuk ke ruangan ketua.”
“Apa bakal jauh lebih indah dari apa yang sekarang aku liat?” tanyaku tidak yakin, bayangkan aja sekeliling ruangan ini udah menghipnotis aku dengan segala keindahannya.
“Kamu gak bakalan nyangka Al, tempatnya asri dan sangat nyaman tapi gak sama kayak ruangan para petinggi yang jauh dari masyarakat. Kalau di sini, tempat ketua suku masih bisa digunakan oleh warga jika itu kepentingan yang menyangkut banyak warga, jadi gak ada namanya orang spesial.”
“Sangat berbeda dari kota yang selalu ada orang spesial untuk ruangan petinggi, gak sembarangan orang bisa masuk dan melihat ruangan yang menurut aku sangat mencengkam.”
Zack hanya menarik lenganku untuk ia genggam, “Kalau kamu ngerasa takut, inget aja aku bakal ada di samping kamu buat terus mendukung kamu, gak peduli sama nyawa aku.”
“Aku udah bilang, jangan main-main buat masalah nyawa Zack!”
Aku memasuki ruangan tempat ketua suku berada, ucapan Zack terbukti benar lagi, tempat ini jauh lebih memukau dari sebelumnya, banyak barang-barang langka yang aku temukan di sini dan lagi banyak ukiran yang jauh lebih berkesan dari ruangan sebelumnya.
Ketua suku sudah menanti aku dan Zack di kursi kebanggaannya, lengannya mengarahkan ke dua kursi kosong yang menghadap langsung ke arah ketua. Hal yang pertama kali terlintas di benak aku adalah, serius orang di depan aku adalah ketua suku desa awan? Ini terlalu muda untuk menjadi seorang ketua suku untuk desa yang sangat luas!
“Halo nona Alya dan tuan Zack, maaf tidak ada sambutan meriah untuk kalian berdua, karena saat ini kami sedang terfokus pada kesehatan nona Athya yang semakin lemah,” tutur ketua suku.
“Kami berdua memakluminya tuan Hiriyako, masih banyak hal yang perlu tuan urusi daripada menyambut kedatangan kami berdua. Lagian kami juga di sini mau membantu tuan untuk melakukan proses penyembuhan nona Athya.” Zack merundukan tubuhnya sedikit.
Aku di sini seperti orang bodoh yang hanya bisa menggaruk tengkuk belakang dan mendengarkan dengan seksama apa yang mereka ucapkan. Tapi aku juga masih penasaran dengan tuan Hiriyako yang menjadi ketua suku, apa dia emang bener ayah dari nona Athya?
“Kamu kenapa?” bisik Zack saat aku memperhatikan semua gerakan tubuh tuan Hiriyako.
Aku mendekat ke arah Zack, “Itu ayah dari nona Athya atau siapanya? Kenapa bisa menjadi raja dan dia masih terlihat sangat muda kalau memang iya dia itu ayah nona Athya.”
“Itu nanti aku ceritakan, sekarang kamu harus fokus ke tujuan awal kita datang ke sini.”
Aku berdiri di samping kasur nona Athya, perempuan cantik meskipun tertidur dan wajahnya pucat pasi karena sakit, tapi sumpah itu gak mengurangi kecantikan dari wajah nona Athya. Tuan Hiriyako berdiri, mengusap peluh yang ada di wajah nona Athya dengan sapu tangan putih di samping bantal nona Athya, aku tersentuh sekaligus penasaran dengan hubungan mereka berdua.
“Kalau begitu saya akan tinggalkan kalian berdua di dalam kamar ini, tolong bantu kami untuk membuat nona Athya kembali sembuh, dia salah satu orang yang paling berarti di desa ini.”
“Akan saya coba tuan Hiriyako dengan semua pengalaman yang saya punya.”
“Jangan khawatir tuan, cukup berikan kami berdua ruangan untuk melakukan pekerjaan kami.”
Pintu kamar nona Athya langsung tertutup, aku yang tanpa berpikir ulang langsung mengenakan semua perlengkapan kedokteran yang sengaja aku bawa dalam tas ransel. Semua pengetahuan kedokteran yang pernah kak Fincent ajarkan, lagsung aku terapkan, mencatat semua hasil pemeriksaan dan melakukan uji coba rekaan dari bunga beracun yang menjadi penyebabnya.
“Gimana Al? Ada kesulitan? Semua masih berada dalam kendali kan?” tanya Zack yang melarutkan cairan dari tubuh nona Athya ke dalam robot analisis data kesehatan.
“Aku jadi gak yakin kalau ini semua berasal dari bunga itu kak, karena hasilnya gak sama dengan yang aku punya, bahkan gak menyentuh rata-rata cairan dari penyebaran racun.”
“Al coba kamu teliti makanan yang tadi aku kasih ke kamu,” ucap Zack dengan serius, aku mengangguk dan kembali mencoba mencari komposisi apa yang terdapat di dalamnya.
“Alya!” teriak Zack seperti orang mendapatkan lotre, “air minum yang paman Nico bilang tadi, ada masalah dari air di desa Awan belakangan ini, jadi hampir satu daerah di desa ini kesulitan air.”
“Kamu bener Zack, ini sama dengan data yang aku punya! Sekarang kita perlu mencari cara untuk mencoba mengurai pencemaran air itu dan membuatnya menjadi normal,” aku melepas masker yang aku kenakan, “kalau kayak gitu, berarti udah banyak orang yang kena dari pencemaran ini bukan?”
“Harusnya iya kalau dari pengamatan aku, tapi sekarang kita fokus sama Athya dulu.”
“Zack aku boleh minta tolong kamu sekarang?” tanyaku menatap serius Zack, “tolong kamu segera pergi ke daerah yang terjadi pencemaran, kalau kita gak tau sumber ini darimana, bisa jadi sebentar lagi semua daerah yang ada di desa Awan juga terkena imbasnya. Kita gak mungkin biarin itu sampe terjadi bukan? Kita mau nempatin tempat ini, maka kita perlu mastiin tempat ini dalam keadaan baik-baik aja untuk orang-orang yang bakal kita naungi sebelum pecahnya peperangan baru.”
Zack bukannya menjawab dia malah mengusap puncak kepalaku, “Kamu bener-bener siap untuk jadiin tempat ini sebagai tempat baru untuk banyak orang, jangan lupa buat jangan biarin orang yang sudah renta dan anak kecil ada dalam bahaya Al, kita perlu menghimbau banyak orang yang pro ke kita untuk datang ke tempat ini mencari perlindungan.”