AJ#31 Desa Awan

1602 Kata
“Jadi hari ini aku berencana ngajak kamu ke tempat yang bakal jadi markas kita,” jelas Zack yang menghamparkan denah benteng pertahanan yang akan dia buat. “Mereka setuju bantu kita?” tanyaku memastikan, masalahnya ini bakal menyangkut keselamatan banyak orang dan gak mungkin aku ngorbanin mereka buat kepentingan aku. Zack mengangguk, “Mereka setuju buat bantu kita, tapi ada syaratnya, dan aku yakin kamu pasti bisa buat ngelakuin syarat yang mereka udah kasih ke aku.” “Syarat?” Zack kembali menganggukkan kepala, “emang seyakin apa kamu kalau aku bisa ngelakuin itu? Jangan main-main sama syarat, kalau kita gak bisa lakuin, nyawa kita bisa dalam ancaman.” “Tenang, aku yakin 100% kalau kamu bisa lakuin itu. Kamu tau tentang bunga yang satu bulan lalu kita temui?” aku mengangguk, gimana aku bisa lupa sama bunga Azwyra yang beracun sekaligus bermanfaat di dunia medis, “salah satu anak kepala desa di sana terkena racun dari bunga itu, dan aku baru inget kalau kamu pernah cerita, ada salah satu cara buat ngilangin racun itu.” “Tapi penelitian itu gak sepenuhnya selesai, aku gak tau apa efek samping kalau pake penawarnya.” “Kita coba, cuman itu salah satu cara buat nyelamatin ribuan nyawa Al. Aku rencana bikin benteng dan labirin di desa terbesar di negara Timur, tempatnya juga sangat strategis buat kita bisa ke dua negara, ditambah di sini melimpah sumber daya alamnya, di sini bukan daerah tempat gempa bumi.” Semua penjelasan Zack sangat menggiurkan untuk saat ini, tempat yang pas untuk ribuan jiwa mengungsi, dan ini pasti menjadi tempat yang pas buat aku memindahkan semua penelitian di ruang bawah tanah, tapi apa aku bisa menuhin persyaratan itu? “Menggiurkan ya?” gumamku sepelan mungkin, “aku coba tapi aku gak yakin ini bakalan bisa atau malah gagal karena belum ada pengujian ke manusia, cukup berbahaya karena bunga itu beracun.” “Terpenting kita udah berusaha semampu kita, untuk urusan hasil, itu urusan belakangan Al.” “Oke deh Zack, tapi kapan aku bisa ketemu sama mereka? Aku harus melakukan pemeriksaan dulu ke pasiennya sebelum melakukan tindakan untuk proses penyembuhan.” Zack langsung bangkit, membuat aku langsung bingung, “Hari ini, jam ini, kita bakalan ketemu sama mereka dan kamu harus persiapkan diri kamu buat ngeliat seindah apa desa Awan.” “Aku gak bakalan terlalu kaget kayaknya Zack, udah sering aku denger dari banyak orang tentang keindahan desa Awan yang sering menjadi incaran banyak negara.” “Desa itu indah Al, bener-bener indah sampai kamu ngerasa pengen tinggal lebih lama di sana. Apalagi banyak orang yang ramah, menyambut kita dengan segala keragaman mereka Al. Kamu pasti takjub sama mereka, bener-bener takjub,” ucap Zack dengan semangat, sama kayak waktu dia ngejelasin salah satu tumbuhan beracun ke temen-temen aku waktu dulu, dan sekarang aku liat lagi momen ini. “Aku jadi gak sabar liat langsung tempatnya, kalau seorang Zack bisa sampai sekagum itu, berarti aku bisa lebih kagum bukan? Tempat yang mendapat julukan tempat kayangan bumi.” “Tempat yang pantas buat tempat seindah itu Al, ayo kita harus bergegas sebelum ada patroli.” Zack menarik lenganku keluar dari rumah pohon, berjalan menelusuri hutan barat yang jauh lebih rimbun dan masih banyak jebakan dari alam. Aku menghirup dalam-dalam udara di hutan yang menyejukan, rasanya otak aku jauh lebih jernih dipakai untuk berpikir sekarang. “Hutannya jauh lebih rimbun dari daerah timur ya?” ucapku memecah suasana hening, “udaranya juga lebih segar, gak kayak di kota yang pengap dan terasa mencekik paru-paru.” “Kamu tau gak Al, ini salah satu alasan kenapa orang-orang desa lebih banyak yang hidupnya panjang, gak kayak orang-orang kota yang hidupnya lebih pendek, dan lagi beban pikirannya jauh lebih berat buat orang-orang kota yang mikirin kehidupan dari A sampai Z. Masalahnya bukan saat mereka siap, tapi mereka dituntut siap dari usia mereka yang masih mencari jati diri mereka.” “Bukannya bagus dong kalau pemerintah ngarahin mereka buat jadi apa, mereka hidup gak jadi beban buat pemerintahan yang cukup rumit ini,” jelasku dengan santainya. Zack langsung berdiri di depanku, menangkup kedua pipiku sebelum akhirnya lengannya yang jail mencubit dengan gemas pipiku. Mataku langsung beradu saat bersiap melepas tangkupan lengan Zack di pipi, wajah Zack yang penuh luka selalu mencuri perhatian aku. “Jangan terluka lagi kayak gini Zack,” lenganku yang bebas mengusap luka-luka yang baru setengah kering, “rasanya aku cuman jadi beban yang nyusahin banyak orang di sini, bukan penolong seperti yang kalian ucapkan selama ini, aku cuman bisa nyusahin, cuman bisa bikin orang lain terluka.” “Hei, aku gak ngerasa kayak yang kamu ucapin loh Al!” peringat Zack yang mengusap puncak kepala. “Tapi aku yang ngerasa kayak gitu, bukan cuman kamu yang dapet luka tapi banyak orang yang udah dapet banyak luka gara-gara aku Zack. Apa aku harus biasa-biasa aja ngeliat mereka terluka? Gak!” “Dengerin aku, entah berapa kali aku harus bilang ini ke manusia yang selalu ngerasa salah. Kamu itu gak pernah menjadi alasan luka ini ada, ini kemauan aku yang pada akhirnya aku dapet luka ini.” “Tapi kamu gak mungkin dapet luka sebanyak ini, atau gak, setidaknya kamu gak menambah luka lagi kalau misalnya kamu dan yang lain mau bantuin aku. Aku ini cuman jadi beban kalian.” Zack langsung menangkup pipiku sampai mataku terfokus ke manik matanya, “Kamu bukan beban tapi kamu adalah kado terindah yang pernah ada, kamu jadi orang tangguh setiap kali aku ketemu. Kamu siap dengan banyak luka, masa aku gak siap sedangkan aku ini laki-laki! Nanti aku terlihat lemah, gak bisa dipercaya karena memilih mundur dari apa yang udah aku pilih, itu gak lucu Al.” “Ini bukan masalah itunya Zack, tapi masalah keselamatan kalian yang udah bersedia nolong aku.” “Itu masalahnya Al, kalau kamu udah milih satu keputusan, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya, mau itu tentang nyawa sekali pun. Kamu pasti paham kan? Apalagi kamu ilmuwan.” Seketika aku jadi inget dengan ucapan profesor Hangga waktu pertama kali kita ketemu, seseorang akan menjadi pecundang saat dia memilih kabur dari apa yang sudah ia pilih, dia akan terlihat menjadi orang lemah yang tidak bermoral kalau hanya bisa mengumbar-umbar janji. “Hih menyebalkan kamu Zack,” dengusku pada akhirnya. “Kamu lebih menyebalkan, apalagi sikap keras kamu yang susah buat diubah,” komentar Zack. Aku tertawa, menarik lengan Zack untuk aku genggam, “Ayo kita harus cepat sampai desa Awan.” “Selamat datang tuan Zack dan nona..” salah satu wanita yang mengenakan penutup kepala menyambut kehadiran aku dan Zack di depan gerbang utama, dia tersenyum sangat manis! “Panggil aja Alya nona,” ucapku diiringi senyuman, dia balas dengan senyum yang jauh lebih manis! “Ah iya, nona Alya, salah satu ilmuwan dari negara Timur yang sangat tersohor. Selamat datang di desa Awan nona Alya, semoga betah dan dapat membantu kami dalam pengobatan.” “Jangan terlalu berlebihan nona, aku tidak seperti yang selalu digaungkan oleh orang-orang. Jadi boleh aku bertemu dengan kepala desa Awan?” tanyaku langsung ke inti. Aku jadi inget pantangan yang Zack sebutkan sebelum aku masuk ke desa Awan, cukup banyak tapi tidak terlalu pusing karena tata krama seperti biasa namun lebih dijujung tinggi kalau di sini. “Al kalau kamu masuk ke desa Awan, jangan lupa untuk tersenyum saat berpapasan dengan orang, sedikit berbeda dengan orang kota yang terkadang acuh dan lebih individualisme. Terus saat kamu sudah di desa Awan, panggil perempuan dengan sebutan nona dan panggil laki-laki dengan sebutan tuan, dan jangan banyak basa-basi, mereka kurang suka untuk hal itu. Buat pakaian juga jangan terlalu formal, kalau bisa santai karena itu bisa bikin kamu lebih mudah berbaur dengan yang lain, pergunakan kata yang merendah jangan menganggap kamu seperti dewa saat mereka memuji.” “Wow, luar biasa kamu Zack, hanya 2 kali kamu bertemu mereka dan kamu bisa langsung menyimpulkan sebegitu banyaknya, keren sih keren banget!!” aku terkagum dengan penjelasan Zack yang singkat namun padat, aku bisa langsung paham dengan penjelasan singkat Zack. “Itu jelas terlihat dari pertama kali kamu datang, dari sikap mereka menyambut sampai cara mereka bicara itu terlihat jelas banget Al. Cara mereka berpakaian juga udah jelas,” tutur Zack dengan gemas. “Huh nanti aku bakal liat secara langsung,” balasku yang kembali ikut berjalan menuju desa awan. Perempuan yang tadi menyambut aku langsung mengangguk, berjalan sembari memberikan jarak untuk aku dan Zack lewati. Aku mengedarkan pandangan dan kembali terkagum, bener kata orang-orang kalau desa awan ini kayak tempat kayangan yang gak sengaja turun di bumi. “Beneran bagus banget Zack,” bisikku sembari berjinjit, menyesuaikan dengan tinggi Zack. Dia tertawa sepelan mungkin, “Udah aku bilang kamu bakalan terkagum sama tempat ini, terlalu indah tempatnya untuk manusia, tapi mereka keren bisa buat tempat ini lebih indah.” “Mereka sederhana banget buat berpakaian, gaka kayak di kota yang heboh penuh glamor.” “Kamu pikir aja Al, mereka gak punya kekuasaan sebesar orang-orang kota, jadi yang mereka pikirin adalah gimana caranya agara tempat mereka bisa nyaman dan bisa sejahtera orang-orangnya.” Aku setuju dengan ucapan Zack kali ini, “Kayaknya orang kota juga perlu pemikiran kayak gitu.” “Itu bakalan sulit dengan pemikiran individualis dari orang kota, sekarang kamu cukup nikmatin keindahan desa Awan yang bakal jadi pusat kita, sebelum akhirnya kamu bakal pulang ke kota dan kembali pusing dengan kerjaan kamu yang gak ada abisnya.” “Lebih tepatnya karena pemerintah yang semakin menggila, sibuk bahas proyek yang entah itu akan memberikan untung ke siapa dan yang pasti orang yang kena bukan dari jajaran pemerintah, tapi orang-orang yang terpaksa mengabdikan diri buat negara.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN