AJ#30 Kak Fincent

1576 Kata
                Aku berjalan dengan terburu-buru memasuki hutan barat di saat matahari sudah sempurna tenggelam dan suara hewan malam terdengar saling bersahutan, yang pasti manusia udah berada di rumah mereka. Setelah perjanjian bersama Zack waktu terakhir kami bertemu, aku menyarankan untuk memindahkan tempat Zack bersembunyi selama dia ada di negara Timur, dan yang pasti meminimalisir orang lain mengetahui keberadaan Zack yang mulai terendus keberadaannya. “Zack!!” panggilku dengan tudung hitam yang setengah aku buka, mencari kehidupan yang terasa sepi. Pohon tempat aku berdiri tiba-tiba terbuka, membuat aku sedikit menganga dengan seribu satu ide yang selalu muncul di otak Zack, “Hai Al, kenapa tiba-tiba datang tanpa ngasih kabar dulu?” “Gimana aku bisa ngasih kabar, kalau komunikasi sama kamu itu susah banget, suka tiba-tiba susah buat aku pake alat yang kemarin kita buat Zack,” gerutuku yang masuk ke dalam pohon yang entah bagaimana caranya dia sulap menjadi tempat nyaman untuk dihuni.                 Aku mengambil tempat di salah satu kursi yang tidak terlalu tinggi, menatap ke arah Zack yang baru aku sadari dia gak baik-baik aja! Kondisinya jauh lebih buruk dari terakhir aku ketemu, wajah penuh dengan lebam dan lagi ada beberapa bekas luka jait. Sebenernya apa yang udah dilakuin sama laki-laki satu ini? Apa dia gak bisa berhenti buat aku khawatir? Kenapa tingkahnya sama kayak kak Arya yang sampai sekarang aku gak dapet lagi kabarny. “Zack kamu baik-baik aja?” lenganku dengan lancang menyentuh ruam-ruam lebam di wajahnya sepelan mungkin, “kenapa kamu banyak luka sekarang? Kamu gak ngelanggar janji dengan keluar dari hutan barat ini kan Zack?” tanyaku masih terfokus ke luka-luka yang mengerikan. “Aku gak kenapa-kenapa Al, cuman kemarin aku ketemu sama penjaga negara Utara yang nyari saudara kamu Al. Dia masih menjadi buronan, sama kayak aku.” “Kamu bisa bebas gitu aja? Mustahil, negara Utara sekarang terlalu berbahaya untuk bisa bernegosiasi Zack, gak mungkin mereka semudah itu membebaskan kamu.” Satu lengan Zack mengusap pipiku dengan pelan, “Aku berusaha untuk kabur dan ini yang aku dapat, aku sekarang harus nyari keluarga bangsawan yang masih berkeliaran, aku gak mungkin liat manusia yang punya satu darah sama kamu ikut terluka kayak aku.” “Zack jangan maksain diri kamu sampai terluka ini, aku bisa kok nyari keluarga aku sendiri. Aku udah terlalu banyak ngerepotin kamu dari awal kita kenal sampai detik ini,” ucapku merasa miris. “Hei gak kayak gitu Al, aku malah seneng bisa ketemu orang hebat kayak kamu, banyak ucapan yang kamu kasih ke aku yang jadi tamparan keras buat aku lebih bertanggungjawab. Dan aku gak nyangka bisa ketemu perempuan hebat yang sampai detik ini selalu bikin aku kagum, kagum dari semua yang ada pada diri kamu sendiri. You are the best people in my life Al.” “Artinya apa? Kamu kayak Sam aja suka ngasih kata-kata aneh! Aku udah nyari semua buku yang pernah kalian sebutin, dan gak ada satu pun buku itu di perpustakaan nasional!” “Seniat itu kamu nyari buku yang aku sebutin, itu buku langka dan gak banyak negara bisa punya karena perang besar itu. Kalau gak salah, itu ada di salah satu perpustkaan terpencil yang ada di negara barat sebagai tempat museum untuk alat-alat dan barang yang gak bisa disebar luaskan.” “Seberbahaya itu ya negara barat, aku kira setiap kalian bilang satu negara yang secara gak langsung selalu menjadi negara adidaya, alias negara Barat, aku mikirnya kalian cuman bercanda doang, cuman pengen biar aku takut kalau harus masuk ke negara itu, tapi ternyata salah besar.” “Kamu yang selalu gak percaya gitu aja sama apa yang orang lain bilang, jadi inget sebelum ini juga kamu gak percaya kan sama penjelasan aku tentang kalung yang kamu pake.”                 Aku mengangguk, menggaruk tengkuk belakang gara-gara ucapan Zack yang emang bener. Sebegitu aku gak bisa langsung percaya sama orang dan orang yang mau berbuat baik sama aku bakal gak bisa aku percaya sama mereka dari awal ketemu. “Aku sedikit ragu soalnya waktu itu, apalagi baca berita kalau kamu itu pernah menjadi salah satu orang yang punya tinta merah di buku sipil kamu! Siapa yang takut sekaligus penasaran jadinya.” “Kamu harus berhenti buat terus-terusan naro curiga Al,” komentar Zack yang aku balas dengan memeletkan lidah, “hahaha pasti sulit kan ya? Sekarang lebih baik kamu kasih tau aku kenapa kamu datang ke sini malem-malem dengan taruhan nyawa kamu sendiri loh.” “Zack penelitian aku..” aku berhenti berbicara, merunduk karena kejadian yang dua hari lalu menimpa aku masih terasa mimpi, “kak Anya ditembak tepat setelah dia keluar dari rumah aku.” “Tapi kenapa bisa? Bukannya penelitian kalian udah dilakukan serapih mungkin?” “Itu dia yang menjadi permasalah aku sampai sekarang, dua hari aku mikir berat tentang siapa pelakunya, untung aja peluru yang ditembakin kak Anya bukan peluru yang berbahaya.” “Apa kamu udah ngejauh dari Fincent kakak kamu Al? Samuel pasti udah bilang kan?”                 Aku mengangguk, tapi aku masih belom bisa tiba-tiba menjauh dari laki-laki yang selalu ngerangkul aku dalam keadaan aku jatuh, benar-benar jatuh di lubang hitam! “Aku udah dapet peringatan dari Sam, tapi gak semudah itu Alya.” “Kamu pindah dari tempat yang sekarang kamu huni bagaimana Al? Itu salah satu hal yang bisa kamu lakuin buat nolongin nyawa kamu sendiri. Gak mungkin kan aku tiba-tiba muncul buat nyelapatin kamu. Ini bukan cerita novel atau film lama yang punya cerita kayak gitu Al.” Aku masih bingung alasan khususnya itu untuk apa? “Kenapa kamu gak kasih penjelasan lagi ke aku kenapa kamu sama Sam ngotot buat nyuruh aku menjauh dari kakak aku sendiri?” “Aku belom punya bukti kuat buat itu yang ngelakuin adalah kakak kamu, tapi kayaknya bisa menjadi bukti valid karena ini adalah salah satu tandatangan dari surat pengajuan percobaan pembunuhan dari dokter melalui obat suntik yang diberikan ke pasien, dan nama dia tertera di sana Al.”                 Aku langsung menarik surat yang diacung-acungkan oleh Zack, membaca kalimat yang aku harap berubah isinya menjadi tidak sesuai dengan ucapan Zack, atau aku berharap ini adalah surat palsu yang gak jarang dimilikin warga buat bisa tetap tinggal di negara Timur ini, tapi sayang harapan aku bener-bener mustahil. Di surat ini udah tertulis jelas nama dari kak Fincent, dan itu udah jelas tandantangan kak Fincent kasih ke aku. “Ini udah kamu ubah kan Zack?” ucapku terbata-bata, “kalian cuman gak suka sama kak Fincent kan? Gak mungkin kakak aku serela itu ngelakuin hal yang gak beradab ke manusia, meskipun itu orang-orang yang orang-orang asing tapi aku masih gak percaya kalau kak Fincnt yang tandatangannya Zack.” “Harus aku kasih kamu apa biar kamu yakin Al, kadang orang yang terlalu polos dan orang yang baik di mata kita bakal tetap bisa di dunia nyata mereka, kakak kamu juga kayak gitu Al.” “Aku percaya tapi rasangan kayak mimpi buruk denger kabar dari kamu ini.”                 Zack menarik lengank, membuat aku sekarang berada dalam pelukannya. Lenganku menggepal di kanan kiri tubuhku, berusaka mengalihkan suasana hati dari ucapan Zack. “Kamu tidur aja, di lantai paling atas ada kasur yang biasanya Sam pake, kamu mungkin bisa liat. Aku bakal berjaga di bawah jadi kamu tenang aja ya,” tutur Zack dengan selembut mungkin, tangannya mengusap rambutku dari atas hingga punggung. “Aku istirahat ya Zack, maaf aku belom bisa bantu kamu apapun itu.” “Santai aja, aku gak apa-apa kok. Sekarang istirahat dan coba buat diri kamu senyaman mungkin di rumah yang udah aku bangun ini, anggap seperti rumah kamu sendiri.”                 Aku menatap langit-langit kamar tamu yang ia pasang dengan benda-benda berkelip tapi aku yakin itu pasti bukan bintang yang ada di luar ruangan. Aku merubah posisi menjadi duduk, mengusap waah dengan kasar, ucapan Zack dan Samuel yang udah aku dapet masih belom bisa membuat yakin 100% kalau kak Fincent itu ngelakuin hal buruk. Selama ini dia yang selalu lindungin aku, ngejaga aku dengan sepenuh hati dan yang pasti kak Fincent orang yang selalu dukung aku. “Kenapa dari sekian banyak orang, kenapa harus kak Fincent yang ngelakuin hal buruk ke aku? Orang yang aku sayang ditembak, penelitian yang aku lakuin terpaksa harus aku jeda dulu sampai batas waktu yang gak bisa aku tau kapan itu.” “Kenapa harus kamu sih kak orang jahat itu? Kenapa harus orang yang udah aku percaya 100% ini? Kenapa kakak harus ngelakuin ini sih? Apa kakak gak peduli tentang aku yang kecewa atau engga saat tau apa yang sebenernya udah kakak sebunyiin selama ini dari aku?” monologku yang bukannya membuat aku tenang tapi malah membuat aku tambah merasakan sesak. “Kak, apa kakak lupa sama janji kakak yang bilang bakal jagain aku dengan seribu satu cara karena aku adalah adik yang paling kakak sayang dari 2 adik kakak yang lain. Apa kakak lupa pernah tertawa lepas saat kita bicarain hal konyol yang gak berfaedah? Kenapa sih kak harus kayak gitu?” “Lain kali kalau kakak datang lagi, gak usah ngasih kejutan kayak gini lagi kak. Udah cukup satu kejutan yang buat aku berpikir, gak selamanya orang yang kenal kita yang bakal sepenuh hati ngejaga kita, karena sekarang kakak bikin aku takut buat ketemu kakak, aku takut mati kalau kita berada dalam satu ruangan kak. Apa aku udah berlebihan takutnya kak?” “Oma, sekarang siapa yang bisa aku andalkan dalam semua keluh kesah aku kalau kak Fincent aja mau nyelakain aku kayak yang lain oma, apa aku juga harus siap untuk ikut sama oma?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN