AJ#29 Sebuah konspirasi?

1441 Kata
“Kamu gila?!” aku setengah berteriak saat mendengar penjelasan Samuel yang terasa tidak masuk akal di telingaku, rasanya ini sedikit gila! “Aku cuman bisa percaya sama ucapan kamu, kalau itu juga keluar dari ucapan Zack, aku gak bisa sepenuhnya percaya sama orang yang gak berasal dari negara yang sama kayak aku, kamu negara barat dan aku negara---“ “Apa sekarang pikiran kamu juga sama kayak pemerintah sekarang, mengkotak-kotakkan seseorang dari asal negara mereka,” Samuel mengangkat satu sudut bibirnya, “aku gak bisa kamu samain kayak orang barat lainnya Al, aku beda dan harus sampai kapan aku jelasin itu ke kamu!” “Buktinya apa sejauh ini Samuel? Gak ada kan? Aku gak mungkin bisa sepercaya itu dengan kisah kamu yang bisa aja udah kamu putar balikkan faktanya?” senyumku meremehkan Sam, menarik minuman yang ada di hadapanku dan menyeruputnya hingga tinggal menyisakan setengah lagi. “Menyebalkan,” Samuel mendengus, menyipitkan mata dan suasana menjadi hening seketika, “tapi permintaan aku kali ini bisa kamu turuti kan Al? Menjauh dulu dari kakak kamu Fincent.” “Dia kakak aku Sam! Gak mungkin aku bisa ngelakuin itu, kamu gila!” “Apa kamu gak sadar selama ini Al? Pergerakan kamu bisa aja ada di bawah pengawasan Fincent, aku gak yakin kalian semua bakal aman Al. Aku khawatir sama kamu, bisa kamu ngertiin itu?” Rasanya aku mulai muak dengan kata-kata aku khawatir sama kamu, sebuah kalimat yang ngeliat aku dari sudut pandang aku ini lemah, ya memang aku gak bisa bilang aku bisa ngelakuin ini semua dengan sendiri tapi hei! Aku gak selemah seperti apa yang mereka pikirkan! Aku bisa jaga diri aku sendiri, gak perlu sekhawatir seolah aku bakal mati besok! “Dan harus berapa kali aku bilang, aku gak selemah yang kamu pikirin Sam. Buktinya aku masih baik-baik aja kan setelah melakukan banyak percobaan, aku gak mati kan? Aku masih ada di sini Sam.” Aku memegang lengan Samuel yang menggepal di atas meja, berusaha membuat dia percaya kalau aku bakal baik-baik aja dengan apa yang udah aku pilih, dia gak perlu buat sekhawatir seperti ini. Aku tau dia peduli, tapi ini udah melebihi batas yang ada. “Aku tau kamu itu hebat, perempuan kuat dengan sejuta cara buat bisa bertahan di dunia yang keras ini tapi sekarang gak semudah yang kamu pikirin Al,” dia menjeda kalimatnya, mengangkat kepala, beradu pandang dengan mataku, “banyak orang yang berusaha buat ngejatuhin kamu, bahkan berniat buat membuat kamu lenyap di bumi ini karena pemikiran kamu yang sangat luar biasa.” “Aku butuh rasa percaya kalian bukan hanya sekedar kekhawatiran yang malah membatasi aku buat gerak, bukan kamu doang yang ngomong ini,” aku terdiam, sedikit ragu untuk mengatakan kalau profesor Hangga juga sama khawatirnya dengan mereka saat ini, jauh lebih khawatir, “banyak orang yang udah ngomong ini, aku malah ngerasa kalau kamu dan yang lain gak sepenuhnya percaya sama aku. Kalau kalian percaya, kalian pasti dukung aku bukan membuat aku berhenti di mimpi aku ini.” “Bukan kayak gitu Al,” ucap Samuel dengan gelagapan, lengannya menarik lenganku untuk ia genggam dengan erat, “aku gak berusaha buat membatasi bahkan sampai berhentiin mimpi kamu, tapi aku gak mau liat perempuan hebat ini jauh dari pandang aku bahkan sampai gak liat sebahagia apa kamu Al waktu melakukan eksperimen yang sangat banyak. Aku masih setia menjadi penonton yang menyaksikan tahapan kamu untuk menjadi orang hebat.” Aku tersenyum dengan lemah, “Aku bisa Sam untuk tetap bahagia dengan sejuta eksperimen yang bakal aku lakuin, sekarang tugas kalian orang-orang di sekitar aku, cukup dukung dan jadi penguat saat aku ngerasa apa yang akan aku lakuin itu sebuah hal yang mustahil. Bisa kan Sam kamu lakuin?” Aku ngerasa ini yang harus aku pertahanin saat ini, aku gak mungkin berhenti untuk terus menciptakan banyak hal yang bisa membantu manusia bukan? Kalau aku gak kayak gini, sama aja kayak mengubur impian yang udah dari lama aku pertahanin bukan? “Kamu dan sikap keras kepala kamu sendiri, gak bisa aku tolak!” Aku tersenyum semanis mungkin, “Dan aku bersyukur punya sikap kayak gini, aku masih bertahan dengan semua keputusan yang di anggap gak logis ini Sam. Harus kuat untuk bertahan di dunia yang terlalu keras Sam, apalagi di dunia gak sepenuhnya ngedukung kamu.” “Ya udah, daripada kita membahas hal yang gak ada abisnya. Aku mau nanya deh, dari kemarin aku penasaran banget soalnya,” dia melirik sekilas, membuang wajahnya, “apa hubungan kamu sama profesor Hangga? Apa ada hubungan spesial diantara kalian?” “Hei!!” aku mendesis langsung, “aku gak ada hubungan apa-apa selain dia senior yang sangat perlu aku hormati, dia punya prestasi yang bisa aku contoh doang Sam. Kenapa kamu mikir kayak gitu?” “Tatapannya beda waktu liat kamu Al, ada perasaan yang gak bisa dia ucapin secara lagsung.” “Salah liat kali kamu, kebanyakan mikirin kasus kamu yang gak ada abisnya bukan?” Dia menggeleng dengan cepat, “Aku ini laki-laki dan aku bisa liat pergerakan dia yang selalu berbeda perlakuannya ke kamu dan ke yang lain, seolah kamu wanita spesialnya dan yang lain gak bisa ganggu.” “Terlalu hiperbola kamu, inget ya, aku gak ada hubungan apa-apa sama laki-laki yang luar biasa itu.” “Terus aja Al, terus kamu merendahkan diri di bawah segudang prestasi kamu sendiri.” “Udah udah, daripada kamu bahas hal yang gak logis ini, mending kamu ceritain tentang kalung yang pernah kamu dan Zack bilang, itu kan kalung yang hanya dimiliki sama negara utara doang, lebih tepasnya ke orang-orang bangsawan yang ada di sana, iya kan kayak gitu Sam?” “Kamu bener dan kamu perlu hati-hati karena gak semua orang gak kenal dengan kalung itu kecuali kerajaan kamu, kalau kamu gak hati-hati bisa jadi orang suruhan negara timur yang datang dan membawa kamu secara paksa ke negara kamu, itu yang pernah Zack ceritain ke aku.” Aku mengencangkan cengkraman di kalung yang aku kenakan, memegangnya seolah ada orang yang berniat untuk mengambilnya dari aku, cuman ini satu-satunya kalung mengingatkan aku kalau aku masih punya saudara di negara uara dan aku harus tetap berjuang biar aku bisa bertemu dengan keluarga aku yang menjadi buronan di hampir semua negara, memang gila! “Penelitian lanjutannya gak bisa kita lakukan sekarang Al!” Queera datang dengan wajah mengeras, menahan emosi, gigi yang saling beradu terdengar mengilukan untuk telinga yang mendengarnya. “Hah? Kenapa Que? Ini mendadak banget kamu bilang kayak gitu, apa ada masalah dari penelitian yang udah kita lakuin Que?” “Ada Alya!!” teriak Zidyan yang berlari dengan napas terengah, peluh menetes dari ujung dagunya dengan lengan membawa kertas putih, “ini hubungannya untuk keselamatan kita semua Al, bukan tentang kamu tapi semua ilmuwan yang ada di bawah laboratorium ini!” “Tapi dari siapa? Kenapa mereka tiba-tiba bisa sampai di sini? Gak ada orang yang tau ini kecuali ilmuwan yang ada di sini Zi! Ada yang bisa jelasin ke aku?!” “Gak ada waktu buat jelasinnya Al, sekarang kita dalam bahaya, Arkya yang bakal naro bom-bom kecil kalau sampai ruangan ini ada yang buka dengan paksa, jadi hasil penelitian kita bakalan aman,” jelas Athya yang terdengar aneh, aku ngerasa dia udah mempersiapkan semuanya dengan matang. “Apa ini gak seperti sebuah kesengajaan Thy? Kamu tiba-tiba datang dengan segala persiapan yang terlalu matang deh, apa kamu yang emang sengaja ngebocorin ini ke orang pemerintahan biar kita ke tangkap dan kamu bakal disanjung luar biasa sama pemerintahan? Apa kayak gitu pola pikir kamu?” “Apa-apaan sih Que!” Athya memberontak dalam kukungan lengan Queera yang aku pastikan itu kuat dan gak bisa dengan mudah dilepaskan oleh Athya yang jauh lebih lemah dari Athya, “kenapa kamu malah nuduh aku tanpa sebuah bukti yang jelas hah? Aku ini temen kamu, apa kamu gak percaya!” “Sebuah bukti? Apa yang terjadi sekarang ini, apakah belom bisa menjadi bukti yang akurat buat kamu sendiri hm?” Zidyan ikut memojokkan Athya, mengikis waktu yang tersisa sebentar lagi! Aku langsung menarik paksa lengan Queera yang sangat sulit, benar-benar sulit apalagi sekarang dia dalam kondisi tidak baik-baik aja. Dia lagi emosi dan semua orang bakal menjadi korban untuk emosinya yang kadang naik dan terus berulang kali tanpa tanda yang jelas. “Udah cukup menjadi anak kecil! Sekarang bukan waktu yang tepat buat berdebat bodoh kayak tadi! Sekarang kita pikirin gimana caranya agar penelitian kita gak berakhir di tangan pemerintahan dan kita gak perlu diusir karena apa yang kita lakuin ini!” “Tapi Sam, gimana caranya?! Waktu kita sebentar lagi dan aku gak yakin semua penelitian kita gak bakalan dibongkar kayak apa yang mereka kasih!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN