Kenapa profesor Hangga ngomong kayak tadi? Perasaan dia gak bisa aku benerin! Aku gak mungkin bisa biasa aja setelah profesor Hangga bilang tentang perasaan dia, ditambah dia salah satu orang yang paling aku benci! Kayaknya ini cuman mimpi dan saat aku sadar, tadi itu semua cuman hayalan aku yang ngelantur doang, aku.. pasti bisa lewatin semuanya.
“Kamu kayaknya lagi banyak masalah Al,” aku menoleh ke sumber suara, tersenyum tipis, menerima minuman yang tadi diulurkan oleh Joe, kembali diam sembari menatap ke arah langit malam.
“Bukan aku namanya kalau gak banyak pikiran Joe,” kekehku di akhir kalimat, meneguk sedikit minuman bersoda yang tadi Joe bawa, “oh iya Joe, kamu gak bisa apa keluar dari dunia ‘gelap’ yang selama ini kamu jalanin? Jangan ngerasa kalau selama ini aku gak tau soal kerjaan gelap kamu.”
“Pertanyaan kamu tuh hampir mirip kayak aku yang selalu nanya ke kamu, bisa gak kamu berhenti buat jadi ilmuwan, nyawa kamu selalu terancam kalau jadi ilmuwan Al. Berapa kali kamu nerima teror yang bikin kamu gak nyaman, berapa kali kamu hampir mati karena kerjaan kamu.”
“Dih itu sama sekali berbeda Joe,” aku menumpukan tubuh ke dua lengan yang menjadi penyangga, “kerjaan gelap kamu itu gak bisa diterima, bukan lagi masalah nyawa, tapi masalah pemikiran kamu yang bisa aja tercuci karena kerjaan itu. Lagian kerjaan tetap kamu itu di pemerintahan, jadi badan pengawasan dan intelejen, sama kayak aku yang jadi ilmuwan buat negeri ini.”
“Al dengerin aku ya,” Joe menangkup pipiku, membuat mata kami saling berkontak, “aku bakal tetep jadi Joe yang kamu kenal, tetep bisa waras dalam tekanan yang gak wajar, asalkan aku masih bisa liat kamu dalam kondisi baik-baik aja, bisa liat tingkah aneh kamu dan cara pikir kamu yang kadang bikin aku emosi. Karena yang aku tau, kamu adalah alasan aku bisa tetep waras sampai sekarang.”
Aku melepas paksa lengan Joe, mengusap pipi yang tadi di tangkup oleh lengan Joe, menatap tajam laki-laki yang sekarang dengan santai menegak minuman berwarna merah dari gelasnya. Ada apa sih sama hari ini? Kenapa aku denger kata-kata yang gak logis dari mulut laki-laki? Mereka kira aku bisa dengan mudah percaya sama ucapan mereka?!
“Ngelucu Joe? Sayang sekali itu gak lucu,” desisku memberi jarak yang jauh untuk tempat duduk kami berdua, “yang aku tau selama ini, kamu masih bisa waras karena kamu masih bisa kenal sama jati diri kamu, bukan karena aku! Kamu bilang kayak gitu buat apa? Biar aku tersanjung? Sayangnya engga sama sekali,” ucapku dengan hati-hati, “jangan pernah jadiin seseorang alasan buat kamu masih bisa berdiri sampai sekarang, kalau dia udah gak ada, apa kamu bisa bertahan di dunia ini? Aku bisa jamin engga, dan aku gak suka menjadi alasan orang lain bertahan.”
“Sayangnya hal yang gak kamu suka itu, ada dalam diri aku. Dari awal aku dapet tawaran pekerjaan itu, hal pertama yang aku pikirin, kerjaan itu bisa buat aku jauh lebih berhak jagain kamu. Kekuasaan aku jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan aku bisa jaga kamu dari bahaya yang ngancam kamu.”
“Aku bukan anak kecil,” potongku dengan cepat, “aku gak perlu dapet penjagaan ekstra itu dari kamu, aku bisa jaga diri dengan kemampuan aku, dan aku gak mau jadi perempuan lemah yang cuman bisa nunggu bantuan dari laki-laki yang belum pasti bisa lindungi dia!”
“Aku pasti bisa jagain kamu kok!” Joe menatap tajam ke arahku, “aku lebih kuat dari apa yang kamu kira, aku bisa lindungi kamu bukan cuman di negara ini doang Alya! Di negara lain, kuasa aku dari pekerjaan itu masih ada, dan aku bisa jaga kamu.”
“Gak usah janji kalau kamu gak yakin bisa tepati, aku perempuan cerdas yang gak mau berdiri di belakang laki-laki, menunggu bantuan doang. Aku ini Alya, perempuan tangguh yang bisa mempengaruhi dunia ini, bukan satu negara tapi semua negara!”
Aku berdiri, menatap Joe yang tersenyum miring, melangkah dengan percaya diri masuk ke dalam rumah yang sudah penuh oleh sanak keluarga. Langkah kakiku terhenti tepat di hadapan kak Fincent yang dari awal aku masuk memperhatikan langkah kakiku, menatap seolah aku bisa lenyap jika dia melepas tatapannya, kenapa dengan orang-orang saat ini.
“Alya kamu dicari sama oma.” Salah satu bibiku keluar dari kamar oma, menepuk pelan pundakku, memberi jalan untuk aku masuk ke dalam kamar.
“Oma, ini Alya,” ucapku memegang lengan perempuan tua yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang di lengan kanannya, wajahnya pucat dan sayu, gak seperti biasanya.
“Cucu oma akhirnya dateng juga, hari ini gimana keadaan kamu? Baik-baik aja kan?” tanya oma dengan selembut mungkin, lengan kirinya mengusap bahuku.
Aku memegang lengan oma, “Aku baik-baik aja oma, sekarang oma harus pikirin kesehatan oma, jangan pikirin cucu-cucu oma, mereka baik-baik aja kok oma.”
“Oma suka gak ngerasa tenang kalau gak liat langsung kondisi kalian, kalau oma harus pergi dari dunia ini gimana ya Al? Kalian bakal baik-baik aja kan?”
Aku langsung mengeratkan pegangan di lengan oma, menggelengkan kepala dengan kuat sembari memasang ekspresi siap menangis. Aku gak bakal siap kalau harus pergi, harus jauh dari wanita kuat kayak oma. Selama ini, oma yang berusaha bikin keluarga mengerti sama kondisi aku.
“Oma gak usah ngomong kayak gitu, oma bakalan baik-baik aja, oma bakal balik kayak dulu lagi, sehat terus bakal liat cucu-cucu oma sukses. Oma punya banyak cucu-cucu hebat di sini, ada aku yang berusaha buat cari obat yang---“
“Jangan terlalu memaksakan diri kamu sendiri, penelitian kamu semakin banyak akhir-akhir ini. Joe cerita kalau kamu sampai hampir di rawat karena pekerjaan kamu yang semakin banyak, jangan peduliin oma yang udah tua ini, emang udah takdirnya oma untuk secepatnya nyelesaiin tugas di sini.”
“Oma..” lirihku, “jangan bilang kayak gitu, oma harus liat Alya sukses, Alya..” aku terdiam sembari menahan isak tangis di ujung lidah, “ketemu sama keluarga asli Alya oma.”
“Oma gak yakin bisa nemenin kamu sampai selama itu Al,” bisik oma yang menjadi tamparan keras buat aku yang sekarang memilih merunduk dengan air mata yang menetes di pipi, “tapi kamu harus yakin kalau oma bakal tetep liat kamu di atas sana.”
“Beda oma, kalau oma pergi dari dunia ini, siapa lagi orang yang bakal bikin Alya kuat oma? Alya gak yakin keluarga ini bakal tetep nerima Alya, apalagi mereka sering nuduh Alya jadi tangan kanan pemerintahan,” ucapku dengan sesegukan, aku berusaha mengatur napas yang semakin sulit karena tangisanku, “Alya gak suka oma, Alya bukan kayak apa yang mereka pikirin oma!”
“Oma tau sayang, oma tau,” lengan oma mengusap air mataku, “kamu harus kuat, perempuan tangguh gak mungkin hadir kalau gak ada rintangan. Kata kamu, Alya itu perempuan kuat oma, perempuan hebat yang bikin banyak orang terpukau, gitu kan yang sering kamu bilang ke oma? Sekarang oma pengen liat, mana perempuan hebat yang kamu bilang itu, mana perempuan yang datang dengan seribu satu kejutan buat oma.”
Aku menggelengkan kepala, “Alya gak sekuat itu ternyata oma, Alya masih butuh oma, Alya masih butuh perempuan sehebat oma, sekuat dan setangguh oma. Alya masih mau oma jadi cucu oma yang sebanyak apapun masalah yang Alya punya, semua langsung ilang kalau bareng oma. Jadi tetep di sini buat terus bareng sama Alya, seenggaknya sampai Alya bisa berdiri sendiri di kaki Alya.”
“Mau sampai kapan cantiknya oma?” tanya oma dengan senyum tipis, “Kamu bisa kuat tanpa perlu bantuan oma, kamu bisa hebat bukan karena adanya oma, tapi karena kemauan kamu.”
“Dunia terlalu kejam buat Alya yang gak setangguh oma, Alya takut malah terusir dengan hina oma.”
“Dunia kejam karena mereka hanya nerima orang-orang kuat dari kehidupan, salah satunya adalah cucu oma yang sekarang lagi ngadu kayak anak kecil. Hampir semua cucu oma kuat, tangguh, hebat dan luar biasa bukan di mata oma doang tapi di mata banyak orang.”
Aku udah gak bisa berkata-kata apalagi, hanya bisa merengkuh tubuh ringkih oma, masuk ke dalam pelukanku sembari menahan lebih keras air mata dan isak tangis yang semakin sulit. Kenapa semua menjadi rumit, kenapa sekarang gak bisa semudah dulu lagi? Kenapa satu persatu orang yang membuat aku kuat di sini harus pergi? Apa dunia ini sedang ingin bercanda dengan aku?
“Malam Alya, maaf tadi sedikit macet waktu jalan ke sini,” sapa Samuel yang berjalan dengan pakaian santai, rambutnya yang biasa aku lihat berantakan sekarang tertata jauh lebih rapih.
“Malam juga Sam, gak masalah kok. Aku juga baru sampai ke sini, oh iya jadi ada apa nih sampai kamu ngajak aku makan malem berdua di restauran ini?” Aku membenarkan posisi dudukku, mencari posisi nyaman di tengah tatapan Samuel yang membuat aura di sekitar aku terasa jauh lebih panas.
“Sebelumnya aku pengen bilang, kamu cantik dengan dress selutut yang kamu pake Al.”
Sudut bibirku terasa tertarik dengan sendirinya, “Kamu juga tampan dengan pakaian yang jauh lebih layak aku liat saat ini Sam, apalagi buat tatanan rambut kamu yang gak berantakan.”
“Ini aku anggap pujian meskipun ada hinaan dari kamu,” desisnya, “kamu udah pesen makanan?”
Aku menggeleng pelan, “Aku nunggu kamu sampai dulu baru mau mesen, tapi tadi aku udah liat-liat buku menunya dan aku rasa menu makanan laut bakal cocok di lidah kita berdua.”
Sam langsung mengangguk setuju, “Banyak yang ngasih rekomendasi itu sih ke aku, sebentar aku panggil dulu pelayannya,” Sam langsung mengangkat lengannya, “pelayan!”
“Ada yang bisa saya bantu mas?” pelayan laki-laki dengan dasi kupu-kupu datang dengan buku catatan kecil di lengannya, “apa ada yang ingin di pesan?”
“Saya mau pesan makanan laut yang ini dua, untuk minumannya, sekalian paket minuman untuk dua orangnya juga,” ucap Samuel dengan lugas, menyerahkan buku menu.
“Baik, tunggu sebentar terlebih dahulu mas dan mbaknya.”
“Jadi apa yang mau kamu bicarain sama aku Sam?” tanyaku saat pelayan itu sudah pergi, “pasti ini hal yang serius kan, soalnya gak mungkin kamu sampai minta kita ketemu di tempat ini.”
“Kamu bener Al, ada hal yang serius pengen aku bicarain sama kamu, tentang keselamatan kamu.”
“Berapa kali aku harus bilang, aku bisa buat jaga diri aku sendiri Sam, kamu gak perlu khawatir.”
“Bukan kayak gitu Al, ini keselamatan kamu di negara Utara, dan juga ini buat keselematan saudara kandung kamu yang menjadi buronan, kamu gak mungkin egois kan?”