“Kali ini penelitian kalian harus berhasil 100%, kenapa kalian sekarang tidak seprofesional seperti dulu? Apa kalian mau menjadi pembangkang?!” teriak profesor Hangga dari balik pintu ruangan penelitian mikroba dan obat.
Aku memejamkan mata, tau rasa sakitnya saat dicecar untuk sempurna sedangkan kita belum tentu bisa melakukannya sesuai dengan keinginan profesor. Ah.. aku jadi ingat waktu sebelum profesor Hangga percaya sepenuhnya sama aku, beliau waktu itu selalu bilang aku orang bodoh yang gak akan ada masa depan di dunia penelitian, tapi sekarang? Semua berbalik.
Tok.. tok.. tok..
Lenganku langsung mengetuk pintu tersebut, membuat suara hening untuk beberapa saat sebelum wajah frustasi profesor Hangga muncul, aku menatap sekilas wajah profesor Hangga, baru kali ini aku melihat jelas bagaimana wajah profesor Hangga.
‘Profesor paling muda untuk saat ini masih di pegang oleh profesor Hangga, gak salah sih, usia 37 dan beliau udah berhasil memecah rekor penelitian yang luar biasa.’
“Prof untuk penelitian robot kesehatan apa akan ada peninjauan lebih lanjut?” tanyaku yang mencoba melihat sehancur apa ruangan itu oleh profesor Hangga.
Profesor Hangga mengangguk pelan, “Ah iya penelitian itu,” dia memijit pelipisnya dengan lengan kanan, “nanti mungkun lusa atau satu minggu ke depan baru akan ada peninjauan dengan tes uji coba pendeteksi obat dari robot itu, dan Alya..” profesor Hangga memegang lenganku, “malam ini tolong ke rumah saya, ada sesuatu yang ingin saya bahas berdua dengan kamu.”
“Saya?” aku melolong dengan lengan memegang d**a, “kenapa harus berdua?”
“Turuti saja perintah saya, kamu gak perlu khawatir, gak bakal ada yang terjadi sama kamu.”
“Bukan kayak gitu prof, tapi hari ini dan lusa pagi saya harus ke rumah oma saya karena beliau terkena serangan jantung, saya yang dua hari ini akan menjaga beliau.”
Wajah profesor Hangga tiba-tiba berubah panik, tanpa sepatah kata pun lengannya menarik paksa lenganku membawa aku ke ruangannya yang ada di ujung lorong ini. Aku masih berusaha untk menyesuaikan dengan langkah kakinya yang lebar, cepat, dan tergesa!
‘Sial, aku bisa jatuh kalau—‘
Baru juga aku membatin, aku udah tersungkur dengan lutut yang pertama kali menyentuh lantai, rasa nyeri langsung tersebar di kedua lututku. Aku meringis pelan, melepas paksa tautan lengan profesor Hangga, mendesis saat celana yang aku gunakan langsung kotor.
“Maaf..” profesor Hangga berjongkok di depanku, lengannya mengusap lututku, tapi apa aku salah liat sekarang? Kenapa wajah profesor Hangga menyesal? Gak biasanya!
“Gak apa-apa prof, saya ambil obat dulu untuk luka di lengan saya sekarang,” ucapku yang langsung bangkit, berjalan menuju ruangan kesehatan yang tidak jauh dari tempat aku jatuh, hanya harus melewati 2 ruangan setelah ini.
“Pagi nurse Laila!!” sapaku dengan raut wajah bahagia saat melihat perawat senior di bangkar.
“Pagi Alya, kebiasaan kamu manggil aku kayak gitu, oh iya kamu kenapa ke sini? Gak biasanya loh.”
Aku terkekeh pelan, berjalan mendekat ke arah bangkar 1, “Ada obat septik sama hansaplas gak kak? Aku abis jatoh tadi di lorong, baru sadar tangan aku dua-duangan lecet.”
Kak Laila, itu panggilan yang katanya wajib aku panggil daripada harus manggil nurse Laila kayak yang lain, lucu sih karena itu khusus untuk aku yang hampir 1 tahun lebih bolak balik masuk ruangan ini karena kelelahan melakukan serangkaian penelitian. Satu hal yang bener-bener bikin aku kagum sama kak Laila, wajahnya itu bikin orang ngerasa adem, nyaman, dan aman pastinya.
“Bang Bima jaga lagi ya diperbatasan?”
“Ya begitulah,” ucapnya dengan lesu, “mana sekarang aku lagi hamil lagi,” ringis kak Laila mengusap perutnya yang memang telihat sedikit membuncit.
“Dih bang Bima mau kena omel aku lagi gitu?? Kemarin ninggalin kakak waktu lahiran anak pertama, sekarang..” aku menggeleng pelan, “kakak lagi hamil anak kedua malah di tinggal!”
Kak Laila bukannya marah malah tertawa pelan dengan ucapan aku, “Orang yang berani marahin suami kakak itu, kayaknya kamu deh Al. Aku aja gak pernah bisa kalau masalah marahin dia, aku tau tugasnya itu penting apalagi dia penjaga di gerbang utama kita, jadi gak ada alasan aku harus marah sama dia kan? Lagian aku ada kamu yang bisa jagain aku.”
“Ih kak, dengerin deh, kalau misalnya nih, misal ya!!” peringatku, “aku sibuk karena sekarang penelitiannya makin gila, makin nyekik ke ilmuwan yang di suruh ngerjain tuntas dalam waktu singkat! Dikira kita semua robot apa! Terus nih ya, bang Bima lagi tugas untuk satu minggu, siapa yang bakal jagain kakak kalau kakak kenapa-napa?!”
“Sesibuk-sibuknya kamu, kamu pasti bakal luangin waktu buat aku kok.” Kak Laila menggunting hansaplas di lengan kiriku, mengangkat kepala dengan senyum manisnya!
Kalau bang Bima selingkuh, parah sih! Gak bersyukur banget punya istri cantik sama pengertian kayak kak Laila, jarang orang bisa kayak kak Laila, pengertian sama kerjaan bang Bima yang kadang gak kenal waktu buat jaga, ditambah sekarang kak Laila sedang hamil lagi!
“Percaya diri banget kakak ini,” dengusku memasang wajah tidak terima, “ya udah aku sekarang ada perlu lagi, aku pergi dulu ya kak! Jaga ponakan lucu aku ya!!”
“Hati-hati, jaga kesehatan kamu ya, jaga diri kamu sendiri, jangan sakit lagi!”
“Pasti kak! Kakak juga jaga kesehatan, kasian ponakan aku kalau ibunya sakit.” Aku memeluk sekilas kak Laila, berlari menuju lorong yang sempat aku lewati.
“Al ngapain lari-lari di lorong, jatoh aja baru tau rasa kamu,” Sam keluar dari ruangan dua, ruangan khusus penelitian dari orang luar, dia menyuar rambutnya ke belakang dengan tatapan terfokus ke arahku, “pasti tadi jatoh kan?” tanyanya yang melirik ke arah hansaplas di lengan kiri.
“Biasalah Sam, oh iya kamu liat profesor Hangga?” tanyaku memelankan langkah kaki, berjalan beriringan dengan Sam yang sesekali melirik ke arahku.
“Em...” Sam berdeham pelan, “malam nanti kamu ada acara atau engga?”
Aku menghentikan langkah kaki, menatap ke arah punggung Samuel yang berdiri di hadapanku, dia ikut menghentikan langkah tapi tidak untuk membalikan badannya menghadap ke arahku. Tadi itu aku gak salah denger kan? Seorang Samuel yang selalu mencari masalah tiba-tiba ngomong kayak gitu ke aku, wow! Luar biasa! Sebuah perubahan!
“Emang kenapa Sam?” tanyaku berjalan menghadap ke arah dia, “kamu ada acara malam nanti? Terus mau ngundang aku gitu?” lenganku menarik lengan kanan Samuel, membuat Samuel sedikit gelagapan tanpa alasan, dia merunduk menatap langsung ke manik mataku.
“Ya kurang lebih kayak gitu, aku mau ngajak kamu makan malam di restoran dekat pusat kota, katanya makanan di sana ada yang baru dan enak, aku mau---“
“Alya ada urusan nanti malam!” profesor Hangga tiba-tiba muncuk dengan jas lab di lengan kirinya.
Aku mengerjapkan mata, “Saya kosong kok nanti malam prof, gak ada acara apa pun.”
“Kamua ada acara Alya!” tekan profesor Hangga, “acara bareng saya nanti malam! Dan kamu lupa kalau kamu perlu menjaga oma kamu? Bukannya kamu bilang seperti itu sama saya?”
“Emang iya, tapi saya bisa ajak Samuel untuk menemani saya ke rumah oma saya, tempatnya gak jauh dari rumah oma saya Prof!”
“Gak bisa Alya, kamu gak boleh buat berdua dengan Samuel, kalau bisa seperti itu, sudah jelas bukan saya juga bisa membahas pekerjaan saya dengan kamu malam ini.”
“Loh kok anda jadi ngatur saya prof? Saya menolak ajakan anda bukan berarti saya harus menolak semua ajakan orang lain kan? Lagian juga, pembahasan bersama anda terlalu kompleks, dan saya gak siap dengan mental saya yang seperti ini sekarang!” sinisku.
“KAMU IKUT SAYA SEKARANG!”
Tanpa aba-aba, profesor Hangga lang menarik kembali lenganku, membuat aku berjalan terseok mengikuti langkah kakinya yang lebar. Aku beberapa kali mendengar desisan dari mulut profesor Hangga, membuat aku gak berani untuk memberikan komentar apapun sekarang.
“Kamu paham saya kesal sekarang!” profesor Hangga melepas cengkraman di lengannku, berdiri di hadapanku sembari menarik pelan rambutnya, menatap tajam ke araku seolah aku orang bersalah dalam kekesalannya sekarang.
“Tapi apa hubungannya sama saya prof? Maksudnya, saya gak ngelakuin apapun saat ini, cuman ngobrol sama samuel doang, itu juga---“
Profesor Hangga mendorong tubuhku ke dinding lorong, “Karena itu Alya! Karena kamu lebih nyaman berbicara dengan orang lain daripada saya! Saya kesal karena itu!”
“Profesor..” cicitku sepelan mungkin, “anda gak salah minum obatkan?”
“Argh!!” teriak profesor Hangga yang semakin membuat aku ketakutan, salah aku dimana?
“Sekarang lebih baik kamu pulang dan jangan pernah terima ajakan apapun dari laki-laki lain kecuali keluarga kamu, saya cuman mau kamu baik-baik aja Al.”
Suara profesor Hangga memelan, lengan kanannya mengusap rambutku, menyelipkan anak rambut yang menutupi pipi ke belakang telingan dengan senyum simpul, senyum yang gak pernah aku liat sebelumnya. Apa aku harus nyari masalah lagi biar bisa liat senyuman profesor Hangga?
“Tapi pembahasan penelitian kita prof?”
Dia meletakan satu jarinya di depan bibirku, “Nanti saya yang bakal cari datanya, kamu sekarang pulang dan jangan dulu datang ke laboratorium, ah lebih tepatnya pusat pemerintahan sebelum saya perintahkan. Kamu paham kan dengan ucapan saya tadi? Ini semua demi keselamatan kamu Alya.”
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, “Saya paham dengan ucapan anda prof, tapi anda gak bisa se-enaknya memerintah saya tanpa kejelasan, jadi ada masalah apa sampai saya gak boleh menginjakkan kaki di tempat ini prof. Saya bukan anak kecil yang akan terus menuruti kemauan anda, saya Alya yang profesor tau sendiri karakter saya seperti apa, semakin anda larang, semakin saya ingin mencoba untuk datang.”
“Nyawa kamu dalam bahaya!” jawabnya dengan cepat, “itu yang saya rasain, dan saya gak mau ngeliat kamu terluka, apalagi sampai jauh dari jangkauan mata saya. Saya khawatir Alya.”
“Kekhawatiran anda gak beralasan prof,” sindirku, melipat kedua lengan di depan d**a.
“Sangat jelas karena saya menyukai kamu Alya!”