Ucapan Samuel beberapa jam lalu masih terngiang dengan jelas, seolah menjadi kaset rusak yang terus terputar di halaman yang sama, entah aku harus percaya atau engga, tapi semua ucapan Samuel bener-bener masuk akal. Apa bener kak Fincent juga dalang dari semua kekacauan ini?
“Alya hei..” panggil perempuan paruh baya membuyarkan lamunanku, aku kembali fokus ke panggilan di layar laptopku, wanita cantik yang hampir mirip seperti orangtua aku sendiri.
“Maaf tan, belakangan ini lagi banyak banget pikiran, jadi gak bisa fokus,” sesalku.
Tante Aninda mengangguk memaklumi, “Tante wajarin kalau kamu lagi banyak pikiran belakangan ini, banyak kenalan tante yang bilang kalau ilmuwan muda lagi berada di ujung tanduk buat tetap ada di negara Timur. Menurut tante, ini agak aneh dan terkesan pengen ngubah negara Timur sendiri.”
“Tan, aku bener-bener bingung banget harus kayak gimana, jajaran petinggi sendiri yang sekarang ngebatasin pergerakan ilmuwan buat bereksperimen, alasan mereka takut terjadi apa-apa dengan negara Timur kalau gak ngasih pengawasan ke ilmuwan, tapi pengawasannya itu malah jadi pengekang buat kami semua tan, gak bebas bergerak banget buat aku sama yang lain tan.”
Aku menunduk lesu, bingung sendiri harus berbuat kayak gimana agar penelitian bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan dari petinggi. Emang gak salah kalau mereka punya ketakutan besar kalau penelitian yang dihasilkan malah ngancurin negara Timur, tapi apa harus se-mengekang ini sama para peneliti yang udah berjuang dengan sepenuh hati buat negara Timur.
“Alya di sini tante mau ngasih saran, terserah kamu mau nerima atau engga saran dari tante ini. Menurut tante, pergerakan dari ilmuwan-ilmuwan muda harus bener-bener kamu kerahin. Kalau kamu takut buat gerak karena para petinggi,” tante Aninda mendekatkan layar laptopnya dengan wajah, “tante yang bakal jadi tameng buat kalian semua, selama itu buat negara Timur sendiri.”
“Tante gak takut kalau penelitian yang terjadi malah jadi kuburan buat tante? Aku gak bisa jamin kalau semua ilmuwan bakalan berpihak, bisa jadi ada mata-mata atau malah jadi pengkhianat di tim kita, gak ada jaminan buat itu kan?” aku menautkan jemari, menjadikannya sebagai tumpuan.
“Emang gak ada jaminan, tapi gak ada jaminan juga kalau para petinggi gak bakalan ngorbanin warga, bahkan mungkin bisa jadi perlahan mereka mau ngebunuh kalian dengan cara ngekang ini.”
“Makasih banyak ya Tan, selama ini udah dukung Alya buat jadi peneliti yang menurut orang udah luar biasa hebat, semua gak bakalan terjadi kalau bukan karena dukungan tante.”
Kepingan memori 15 tahun lalu seolah kembali terbuka, masih teringat dengan jelas di memori kepalaku saat aku masih berusia 10 tahun dan pemerintah mendesak kami untuk menentukan nasib kehidupan kami selanjutnya, tanten Aninda dengan baik hatinya ngulurin tangan untuk aku, membantu aku mencari jati diri aku yang asli, dan ya ternyata aku takdir aku di dunia penelitian.
“Dulu tante liat kamu itu, perempuan hebat karena kamu mau ikut semua tes tanpa ngeluh, di situ tante yakin kalau masa depan negara Timur ada di tangan kamu.”
Rasanya sekarang aku pengen ada di sebelah tante Aninda, memeluk perempuan paruh baya itu dengan kedua lenganku sepuasnya, “Aku aja gak seyakin itu dengan masa depan aku tan.”
“Karena kamu terlalu menutup diri kamu sendiri dari kelebihan kamu, yang kamu liat cuman kekurangan yang gak seberapa dengan kelebihan kamu, jangan terlalu merendah Al.”
Aku mengangguk dengan yakin, “Salam buat keluarga tante, salam buat kak Arga yang baru lolos seleksi jadi petinggi kayak tante, semoga se-amanah kayak tante juga.”
“Kapan-kapan main ke rumah tante ya, ngobrol banyak lagi sama tante atau Arga, kangen kayaknya dia bisa ngobrol sama perempuan cerdas kayak kamu. Ya udah, tante tutup videonya ya, jaga kesehatan dana jaga pikiran kamu, jangan terlalu membebani diri kamu sendiri.”
“Tante juga yang suka mikirin nasib negara Timur setiap harinya, jaga kesehatan Tan.”
Panggilan video pun langsung terputus, menyisakan layar hitam laptop, aku menghela napas, menyenderkan bahuku yang terasa kaku di sandaran kursi. Memejamkan mata untuk beberapa saat sembari berpikir, langkah apa yang selanjutnya harus aku pilih untuk kepentingan bersama?
“Aku bisa gila kalau mikirin ini sendiri,” gumamku menarik rambut pelan, “tapi aku harus pastiin dulu ucapan Samuel, apa iya kak Fincent yang aku kenal jadi dalang?”
Aku melirik ke arah jam yang tertempel di dinding kamar, sekarang udah jam 11 malam, dan aku belum bisa tertidur gara-gara ucapan Samuel! Kenapa jadi banyak teori konspirasi dari semua hal yang udah terjadi?! Dan lagi, aku masih kepikiran dengan penelitian kak Arya yang misterius itu.
“Hasil peninjauan lanjutan, tabung udah 100% siap untuk menerima embrio manusia,” lapor Azki yang aku angguki, aku membaca hasil peninjauan kelompok mereka, memeriksa setiap detail dari alat yang terpasang di lab utara, dari yang sederhana hingga yang membuat takjub mata.
“Untuk penelitian di embrio hewan, hasilnya gimana?” aku berjalan mendekati dua tabung berisi embrio kucing dan embrio kuda, terlihat menakjubkan karena di sebelah tabung ada monitor yang menampilkan perkembangan hewan di dalam tabung.
“Hasil akhir, mereka bisa beradaptasi dengan cairan di dalam tabung, selain itu kita udah melakukan penelitian lanjutan tentang air ketumbang ibu hamil dengan cairan biru ini kak, hasilnya 98% sama persis dan cairan biru memeliki keunggulan di bidang proteksi dalam benturan.”
“Selain itu apa ada lagi?” tanyaku masih belum puas dengan perkembangan mereka, “gimana dengan kandungan cairan, apa cairan ini siap untuk menjadi penyuplai kebutuhan mereka? Sedangkan kalian tau kalau embrio gak bisa langsung mencerna kebutuhan tubuh mereka, harus di pecah se-sederhana mungkin untuk bisa di terima dan di jadikan pasokan energi mereka.”
“...”
Kelima peneliti muda itu langsung terdiam saat mendengar permintaan yang pastinya akan sulit untuk mereka lakukan, entah mereka bisa atau tidak mengabulkan permintaan aku. Bukannya aku ingin mempersulit, tapi kalau mereka gegabah menyimpulkan mereka siap meletakan embrio manusia, aku kurang setuju dengan itu semua, mereka baru 40% siap untuk melakukannya.
“Untuk hal itu, belum 100% kami yakini bakalan berhasil kak, mengubah kebutuhan itu menjadi sederhana pasti memerlukan waktu yang gak bisa kita sebut sebentar kak.”
“Kalau kayak gitu, kalian belum siap untuk menampilkan hasil ini ke umum, dan lagi aku gak siap kalau alat kalian malah di salah gunakan sama orang-orang. penelitian kalian itu luar biasa, aku aja gak yakin bisa ngelakuin penelitian se-luar biasa kalian, hasil kalian udah bagus tapi masih perlu polesan untuk terlihat lebih sempurna, lebih baik lagi. Kalian ngerti kan maksud aku itu apa?” tanyaku dengan perasaan bersalah, aku takut malah meredupkan mimpi mereka.
“Kak Al gak usah ngerasa bersalah udah ngasih komentar kayak gitu ke kita berlima, malahan itu yang selama ini kita tunggu. Dari 1 minggu yang lalu, kita mikirin apa yang harus kita kembangin dan dari kita berlima gak kepikiran harus melakukan penelitian lanjutan,” jelas perempuan berkempang.
“Lagian ya kak, kalau kita kekeh dengan penelitian ini, aku gak yakin alat ini bakal baik-baik aja, maksudnya kita harus ngerakit ulang kalau alatnya rusak dan gagal dalam pembentukan embrio menjadi janin yang kita mau kak, itu malahan bakalan manjadi fatal.”
Aku menghela napas, bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang sehebat mereka, dan bersyukur banget karena mereka bukannya membenci malah siap nerima semua saran aku.
“Kalian bener-bener luar biasa, aku gak salah pilih nempatin kalian di penelitian ini.”
“Tunggu hasil penelitian lanjutan kami ya kak,” ucap Azki yang aku angguki, mataku masih berpaku ke dua tabung biru yang terdapat janin hewan, dari monitor keadaan mereka baik-baik aja selama 1 bulan berada di tabung, gak ada identifikasi kalau mereka bakal mati.
“Kalau hewan-hewan ini, gimana caranya masih bertahan selama sebulan ini?” aku mengambil kursi di dekat monitor, mencatat beberapa hasil yang terdapat di monitor.
“Kita pake suntikan nutrisi kak, jadi kita mengubah beberapa senyawa, tapi itu juga masih dalam proses penelitian dari kita kak. Belum bisa di sebut 100% berhasil buat di terapin ke embrio-embrio lainnya juga kak, ini kita juga neliti beberapa cairan kandungan hewan kak.”
Aku mengetuk-ngetuk kan jari jemari di arah dagu, “kalau kayak gitu sih, bakalan lebih lama juga buat maju ke proses selanjutnya, nanti aku minta kak Quera buat nemenin penelitian kalian, dia kemarin berhasil mecah beberapa senyawa jadi lebih sederhana buat diterima sama tubuh. Bisa aja kak Quera tau caranya ngubah itu buat janin di tabung ini, jadi lebih cepat bukan?”
Mereka mengangguk dengan semangat, satu masalah berhasil aku pecahkan. Aku langsung berjalan ke luar dari ruangan embrio, berjalan menuju ruangan utama untuk melakukan riset lanjutan.
“Alya!” sapa kak Anya dengan beberapa laporan ada di genggamannya, “ayo kita bahas penelitian lanjutan kita buat mesin itu,” ajak kak Anya seperti oase di gurun pasir.
“Baru aku mau ajak kak,” kekehku, “perkembangan terbaru kayak gimana kak?”
“Beberapa alat udah kita dapat, nanti kita rakit dan cari cara gimana caranya biar mesinnya mau berjalan sesuai keinginan kita, gak mudah bukan ngerakin mesin waktu?”
“Beneran gak mudah, kita masih harus mecahin beberapa rumus buat nemuin cairan yang pas di tabung mesin kak,” aku berpikir ke beberapa cairan yang sepertinya bakalan cocok, tapi gak terlalu meyakinkan juga karena harus ada penelitian lainnya.
Kak Anya memijat pelipisnya, “Bakalan ribet banget ya Al kalau kita harus nyari rumus kayak gitu, oh iya buat desa di sebelah barat, apa mereka mau bantu kita?”
“Sejauh ini, mereka siap tapi mereka takut kalau para petinggi tau soal itu.”
“Ada cara lain biar petinggi gak sadar sama itu semua Al,” kak Anya tersenyum simpul, “kita harus bikin ruang bawah tanah buat penelitian kita, kalau bisa beberapa kegiatan bisa di lakuin di bawah tanah kayak kita sekarang,” bisik kak Anya.
“Tapi buat tembok pertahanan itu gimana?”
Kak anya menepuk pelan pundakku, “Gampang Al, nanti kita bisa minta bantuan Zack.”
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, gak ada pilihan lain, sekarang cuman bisa Zack yang bisa aku dan kak Anya andalkan, sisanya? Entahlah..