AJ# 25 kalung

1715 Kata
“Selamat Al, kamu selalu jadi orang yang bisa membuat aku terpukau,” aku memejamkan mata, berusaha untuk meredam tangis saat mendengar rekaman suara kak Arya. “Kamu tau di sini gak menyeramkan yang aku atau kamu kira, ini masih layak huni, hanya---“ ‘DUG’ ‘Bum’ ‘Byur’ Bunyi ledakan bom terdengar dengan nyaring, lenganku semakin mengeratkan pegangan di alat rekaman seiring dengan kencangnya bunyi bom dan suara yang saling bersahutan mencari tempat perlindungan. Sekarang aku tau bagaimana rasanya ketakutan tanpa aku mengalaminya secara langsung, aku tau bagaimana duka yang ribuan orang yang dulu tiap jam mendengar ledakan bom. “Serius kamu mau terus dengerin ini Al? Kamu bisa denger lagi ini nanti, aku gak sanggup liat kamu ketakutan, a-aku tau gimana perasaan kamu sekarang Al,” kak Anya memegang bahuku, berdiri tepat di hadapanku dengan raut wajah khawatir. Aku memegang lengan kak Anya, “Aku baik-baik aja kak, sekarang aku harus terbiasa bukan dengan suara mengerikan ini?” aku balik bertanya, “firasat aku sekarang kalau peperangan yang kita hindari bakalan terjadi juga, manusia gak sepenuhnya akan berhenti tamak dengan kekuasaan kan kak?” “Tapi dengan maksain diri kamu untuk siap, itu bukan hal yang baik untuk diri kamu sendiri Al. Inget riwayat penyakit kamu juga, kita masih berusaha Al untuk men—“ “Kak gak usah mikirin hal yang belum pasti terjadi deh, aku bakalan baik-baik aja kak, selama ada orang yang nguatin aku di sini, aku bakal baik-baik aja. Percaya sama ucapan aku sekarang kak.” Kak Anya langsung menarik bahuku, membawa tubuhku langsung ke dalam dekapannya. Suara lirih tangis mulai terdengar di samping telingaku, beriringan dengan bahu sebelah kiri yang menjadi tumpuan kepala kak Anya terasa mulai basah. “Kak jangan lebay deh, aku cuman penyakit asma karena kecelakaan dua minggu yang lalu doang, pernapasan aku hanya sedikit bermasalah, tapi semua baik-baik aja,” gerutuku saat mendengar tangis kak Anya yang semakin kencang. Sekarang aku harus mastiin kak Anya sebenarnya kenapa? Apa ini gak terlalu berlebihan menangisi hal yang biasa aja, bukan rahasia dapur kalau banyak peneliti jika mengalami kecelakaan yang menghimpit bagian dadanya akan mengalami masalah pada alat pernapasannya. “Aku cuman heran, kenapa semua orang yang baik selalu berujung dengan mereka yang terluka, apa semesta sedang ingin membuat lelucon? Apa sekarang semesta lebih menginginkan dunia dalam keadaan hancur?” kak Anya mengusap air matanya, menatap langsung ke manik mataku. Aku yang mendapat tatapannya secara langsung memutus kontak di antara kami, “Semesta gak mau kalau bumi yang kita tempati ini hancur kak, dia hanya mau melihat segimana usaha kita membuat bumi ini terlihat baik-baik aja dan gak masalah kalau kita pergi kak.” Aku mendengar suara helaan napas yang berat, bayang-bayang dari hasil pemeriksaan dua minggu lalu masih mengganggu pikiranku saat ini. Luka akibat benturan hebat bukan hanya membuat aku terserang penyakit pernapasan, tapi lebih dari itu, aku mengalami luka serius di bagian otak dan tulang belakang, cukup untuk membuat aku harus sejenak rehat dari semua aktivitas berat. “Ah iya Al,” kak Anya mengusap air matanya di ujung mata, “kemarin aku ke ruangan profesor Kansa dan nemu beberapa foto, kayaknya ini ada hubungannya dengan negara Utara.” “Bukannya profesor Kansa sekarang terlibat masalah serius sama petinggi dua negara ya kak? Kok masih bebas bergerak di negara Timur?” tanyaku yang mengambil beberapa foto dari lengan kak Anya. “Nah itu yang sama-sama bikin aku bingung Al, kenapa petinggi kita masih ngebiarin profesor Kansa bergerak bebas, bahkan dua penelitian tentang keamanan di pegang langsung sama profesor Kansa. Satu lagi, desas desus tentang penelitian perjalanan waktu kita hampir terdengar sama petinggi kita.” “Kenapa bisa sampe bisa kedengaran kak? Kita udah ngelakuin semuanya diem-diem, bahkan sama ilmuwan muda yang pro sama kita juga, gak semuanya tau tentang penelitian kita.” Kak Anya memegang bahuku, “Aku rasa ada yang berkhianat di antara kita atau,” kak Anya menghentikan ucapannya, “selama ini ada mata-mata di antara kita,” bisik kak Anya. Aku terdiam dengan kemungkinan kemungkinan yang tiba-tiba saling beradu dalam otakku, bukan hal yang gak mungkin kalau ucapan kak Anya ada benarnya, tapi aku gak bisa sepenuhnya percaya sama kak Anya. Bisa jadi bukan kak Anya yang menjadi dalangnya? Tapi gak mungkin kalau kak Anya yang jadi dalang, penelitiannya aja hampir 50% ide dari kak Anya. “Kita gak bisa sepenuhnya bisa percaya sama orang kak,” aku mengangkat kepalaku, menatap ke dalam manik mata kak Anya, “aku pulang ya kak, aku bawa foto-foto ini dulu ya.” “Aku antar ya, firasat aku gak enak hari ini,” gumam kak Anya di akhir kalimatnya. Aku keluar dari mobil kak Anya, melambaikan tangan dengan senyum setulus mungkin. Aku mengeratkan pegangan di tas selempang saat pintu yang seharusnya tertutup rapat, malah sedikit terbuka dengan jendela yang menganga cukup lebar, beberapa alat untuk menjebol rumah tergeletak begitu saja di lantai rumah. “Aku masuk aja atau panggil polisi?” gumamku yang berjalan mengendap, mencoba mengintip ke arah jendela, melihat situasi di dalam rumah. “Alya?” aku membalikan badan dengan jari telunjuk kanan di depan bibir. “Jangan berisik,” ucapku tanpa suara, hanya bermodalkan gerakan bibir aja. “Ada apa?” bisik Joe saat sudah berada di samping tubuhku, dia ikut mengintip ke arah jendela dengan wajah polosnya yang terlihat sekali ingin aku jitak. “Kayaknya ada orang yang masuk, soalnya tadi waktu aku berangkat, rumah udah aku kunci.” “Biar aku yang masuk dulu, nanti baru kamu,” perintah Joe yang menarik pistol dari samping tubuhnya. Aku hanya bisa mengangguk, menggeser tubuh untuk memberi ruang bagi Joe bergerak masuk. Sedikit takut dan mendebarkan, takut kalau sebenernya Samuel yang masuk, beberapa kali dia udah pernah masuk dengan mudah, tapi bisa jadi itu orang jahat bukan? “A-ampun!” teriak laki-laki yang menjadi prediksi aku, Samuel! Aku langsung berlari masuk, melihat Samuel yang udah berada di bawah tubuh Joe yang mengarahkan pistolnya ke arah pelipis Samuel. Melihat kedua orang itu membuat aku menghela napas lega, setidaknya bukan orang asing yang masuk ke dalam rumah! “Joe lepasin, dia itu temen aku, lebih tepatnya orang yang berada dalam pengawasan aku buat penelitian negara Barat,” jelasku yang mengulurkan tangan ke arah Samuel. “Tapi dia kurang ajar, masuk ke rumah gadis kayak kamu, kalau kamu kenapa-napa gimana?” desis Joe masih memberikan tatapan tajam, bahkan sampai duduk pun tatapannya tidak beralih dari Samuel. “Jadi, kamu ngapain tiba-tiba masuk ke rumah aku Sam?” aku mengalihkan pandang ke arah Samuel, tapi kayaknya lebih baik aku ngambil peralatan P3K buat luka-luka di wajah dia, “sebentar, aku ambil kotak obat, nanti lukanya jadi membekas kalau gak segera di obatin.” “Al,” samuel memegang lenganku, dia menggeleng pelan, “di sini aja, aku mau jelasin sesuatu, tapi tanpa manusia yang udah hampir bikin nyawa aku menghilang.” “Joe,” panggilku sepelan mungkin, “bisa kasih aku ruang buat ngobrol sama Samuel?” “Kalau kamu kenapa-napa gimana?!” Joe masih kukuh dengan pendiriannya, “aku gak bakalan bilang apa-apa kalau denger sesuatu juga,” tambahnya dengan serius. “samuel itu baik, dia gak kayak orang-orang yang kamu pikirin oke?” aku berjongkok di hadapan Joe, memegang lengan Joe yang menggepal, “kalau aku kenapa-napa, nanti aku teriak.” “Huft..” tatapan Joe mulai melembut, lengannya merambat ke arah pipi kanan, “aku ada di luar.” Aku mengangguk faham, berjalan ke arah sofa yang menghadap ke arah Samuel, meski pun sekarang pemikiran aku sedikit kacau karena greget liat muka Samuel yang gak bisa dibilang ‘baik-baik aja’, hampir seluruh wajahnya ada lebam, bahkan ujung bibirnya mengeluarkan darah segar. “Jadi..” aku menjeda ucapanku, “apa alasan kamu tiba-tiba dateng ke rumah aku tanpa izin?” “Sekarang kita dalam bahaya Al,” ucap Samuel dengan susah payah, dia meringis memegangi lebam di ujung kanan bibirnya yang masih terpampang jelas luka yang terkoyak, sebrutal apa Joe tadi? “Bahaya karena apa Sam? Apa ada kabar terbaru dari Zack? Udah berapa lama dia gak datang lagi ke negeri Timur Sam, apa dia dalam bahaya?” aku mencecar beberapa pertanyaan langsung. Sam mengangguk, “Nah karena itu, kemarin sore dia datang ke hutan timur, untung ada satu desa yang menemukan Zack, tapi dia gak baik-baik aja Al. Zack hampir mati waktu ditemuin kemarin, banyak luka tembak yang baru di tubuhnya, dan aku rasa sekarang dia dalam pengawasan.” Aku menganga, gak percaya dengan apa yang udah di ucapin sama Samuel tadi, rasanya ini hanya mimpi buruk, Zack orang yang gak semudah itu dapat luka bukan? “Kamu bercanda kan Sam?” Samuel mendekat, jarak antara aku dan dia semakin tipis, “Kita harus bikin rencana agar semua tetap aman Al, kamu mau bantu kan? Buat aku, Zack, terutama Arya.” “Aku gak yakin Sam, sekarang kehidupan makin runyam, bahkan penelitian aja gak bisa sebebas dulu.” “Kakak kamu Fincent kayaknya tau sesuatu, tentang berkas hitam yang selama ini kamu dan aku cari.” “Gak mungkin Sam,” aku langsung menolak ucapan Sam, gak masuk akal kalau kak Fincent yang ada di bidang kesehatan bisa tau tentang berkas hitam itu, dia gak tertarik dengan dunia politik. “Kenapa engga mungkin Al? Kamu lupa dua hari lalu, waktu kita ada di taman kota, kak Fincent bilang kalau penyergapan yang bikin pertumpahan darah di perang dunia ke-empat, sedangkan kita sama sekali gak bahas tentang itu, gak masuk akal kalau tiba-tiba dia bilang itu.” “Mungkin hanya menyeruakan apa yang di pikirannya,” aku masih gak bisa terima kalau kak Fincent bisa jadi salah satu orang yang tau tentang berkas itu, “bukan cuman kita doang yang nyari tau tentang sejarah itu, banyak kok yang nyari tau alasan perang itu terjadi.” “Gimana dia tau kalau kamu sekarang dalam pencarian sebagai salah satu pewaris tahta kebangsawanan itu Al? Bisa kamu jelasin, apa alasan dia?” Samuel memegang lenganku, dia menatap tajam ke arahku dengan satu lengannya lagi merambat, mencengkram daguku. “Kak Fincent udah uji coba DNA aku, dia juga dapet informasi dari ayah dan ibu kalau aku---“ “Kalung ini,” Samuel menarik paksa kalung yang aku sembunyikan di balik baju, “gak sembarang orang bisa tau tentang kalung ini, apalagi dia gak punya akses ke beberapa negara!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN