Aku berjalan menuju ruang bawah tanah, hari ini akan menjadi hari yang bersejarah setelah perjuangan 3 bulan terakhir, sekarang waktunya pembuktian apakah tabung yang telah aku dan ilmuwan muda yang lain buat bisa menjadi tempat janin berkembang atau tidak. Aku mengenakan jas dan masker seeblum berjalan menuju bagian barat, Queera melambaikan tangan ke arahku.
“Gimana Que?” tanyaku saat sudah berdiri di sampingnya, rasa penasaranku semakin tinggi saat Queera membalasnya dengan senyum simpul.
“Aku harap pemerintah gak tau tentang alat yang kita kembangkan ini Al,” gumam Queera mengalihkan topik, tapi aku setuju dengan harapan Queera, kita gak tau alat ini akan digunakan menjadi apa kalau pemerintah yang memegangnya.
“Cairan birunya udah stabil,” ucap Arvi keluar dari dalam ruangan, dia melepas maskernya, menatap satu persatu ke arah kami yang berkumpul di depan ruangannya.
Aku tersenyum bangga, Arvi yang biasanya petakilan, tiba-tiba berubah 180 dari biasanya, dia terlihat jauh lebih berwibawa dan yang pasti menebar pesona ke arah yang lain. Pintu ruangan langsung terbuka lebar, menampilkan 5 sosok ilmuwan lainnya yang berada di bawah tangan Arvi.
“Gila keren banget kamu Ar,” pujiku saat dia berjalan ke arahku, aku merentangkan tangan siap menyambut pelukan dadakan Arvi.
Dia memberenggut kesal, “Ih harusnya kamu yang nanganin ini, aku pusing mikirin gimana embrio bisa berkembang di tabung selama 7 hari 7 malam, tidur aku gak nyenyak,” keluhnya seperti anak kecil, hilang sudah wibawa Arvi dalam hitungan detik.
Aku mncubit ujung hidung Arvi, “Itu yang aku rasain kalau kalian nyuruh aku jadi ketua penelitian, pusing mikirin gimana caranya penelitian itu berhasil, apalagi kalau jadi pencetus awal kayak kamu sekarang, inget gak sama robot yang sekarang di pakai di rumah sakit waktu itu?” Arvi mengangguk dengan muka yang masih kesal, “sumpah beres pengerjaan itu, aku langsung di rawat dua hari penuh di rumah sakit karena terlalu maksain diri selama satu bulan penuh.”
“Ya gak salah sih kalau hampir semua petinggi dan profesor pada percaya buat jadiin kamu sebagai ketua penelitian, selalu ngasih yang terbaik buat negara Timur ini,” kekeh Queera yang aku dengar seperti bahan ledekan tersendiri.
“Kak Alya!!” teriak rombongan bawah tangan Arvi dari lorong barat, penelitian yang menguras tenaga selanjutnya untuk Arvi, teknologi pengembangan pengecekan bahan berbahaya dari tumbuhan dari luar negara Timur.
Aku melepas pelukan Arvi dengan paksa, “Ih lepas dulu Ar, aku mau nyapa tim kamu selanjutnya.”
“Aih bocah-bocah kenapa ke sini sih,” dengus Arvi dengan memutar bola mata dengan malas.
“Hush sama parner kerja selanjutnya kok malah gitu sih,” komentar Queera yang mengibaskan rambutnya, aku mengangguk setuju dengan ucapan Queera, Arvi tuh suka banget buat bicara berlainan dengan hatinya sendiri!
Aku berjalan mendekati Aulia, Sinta, dan Lucas yang berdiri sejajar di samping pintu ruangan yang berada di samping ruangan embrio. Aku sendiri sebenernya penasaran dengan ruangan embrio, tapi gak etis kalau mengabaikan 3 ilmuwan muda yang sedang berkembang saat ini.
“Haii gimana kabarnya nih yang 1 bulan lebih di tinggal sama Arvi,” sapaku yang di balas dengusan mereka secara serentak, emang hebat telepati mereka ini.
“Kita nyerah kak buat ngembangin teknologi yang baru ini, gak ada kakak senior bikin kita ngulang perakitannya selama 1 bulan ini,” keluh Lucas dengan wajah yang tertunduk lesu, “kita kira bakal semudah itu langsung terjun tanpa bantuan senior, tapi ternyata,” Lucas terdiam sejenak, “engga.”
“Kak Alya aja yang megang gimana?” cetus Sinta sembari menarik lenganku, matanya menatap penuh harap ke arahku, “kak Arvi masih ada 2 penelitian lain di luar penelitian kami kak, kalau kayak gini terus, pengembangan teknologi untuk obatnya bakalan terhambat.”
Aku menggeruk tengkuk, “Aduh bukan kakak gak mau ya, tapi kakak masih banyak urusan dari perekapan hasil penelitian dan penelitian lanjutan bareng pemerintah,” aku mengusap pelan lengan Sinta, “aku gak bisa kalau harus jadi ketua peneliti kalian.”
“Yah, kok gitu sih kak,” ucap Aulia tidak terima, “Kayaknya hampir semua pernah ngalamin di bawah bimbingan kak Alya deh, kenapa kita gak pernah sih!!”
Aku jadi merasa bersalah sama mereka, emang bener kalau hampir semua peneliti yang ada di sini pernah ada di bawah bimbingan aku, sedangkan mereka belom pernah aku bimbing sama sekali, tapi apa boleh buat, aku sekarang lagi mengusut kasus tentang negara utara biar aku bisa ketemu sama saudara kandung aku. Gak mungkin aku kasih tau mereka alasan yang sebenernya, aku belom sepenuhnya bisa percaya gitu aja.
“Heh apa-apaan mau geserin ketua peneliti kayak aku,” Arvi datang dengan jas lab yang tersampir di bahunya, menatap ketiga rekannya dengan tampang kesal, “aku yang bakalan megang, gak ada penolakan sama sekali!”
“Ta-tapi kak Arvi pasti fokus ke dua penelitian baru kakak?” tukas Lucas tidak terima.
“Kita kedatangan senior baru, ada kak Anya yang megang dua penelitian itu, jadi aku bisa fokus sama kalian di penelitian obat-obatan itu,” jelas Arvi dengan mata yang sekilas menatap ke arahku.
“Alya di panggil kak Anya di ruang berkas,” Queera berjalan menghampiri Arvi, menepuk pundakku, “ada kabar dari kak Arya, dia baik-baik aja.”
Mataku langsung membundar, senyum simpul langsung muncul begitu aja di wajahku, kabar yang udah aku tunggu selama 4 bulan terakhir ini, akhirnya. Aku mengangguk, bergegas menuju ruang berkas yang berada di bawah rumahku langsung. Degup jantungku langsung menggila, entah ini terlalu berlebihan atau bagaimana tapi rasanya menyenangkan dan mendebarkan, laki-laki yang selama ini aku tunggu kabarnya, akhirnya bisa aku dengar lagi!
Aku berdiri di pintu ruangan, sedikit membungkuk dengan deru napas yang sedikit tidak teratur karena berlari dari ujung lorong, menatap ke arah kak Anya yang membaca berkas-berkas yang berserakan di meja kerjaku, wajahnya serius, sama persis seperti kak Arya.
“Kak Anya nunggu lama?” ucapku mengawali pembicaraan, mengambil kursi yang tidak jauh dari meja.
Dia mengangguk, “Lumayan sih nunggu kamu, aku abis baca berkas terbaru dari pelaporan penelitian embrio. Turut seneng penelitian yang mustahil mejadi nyata, gak salah kalau ini berhasil, orang ketua penelitinya aja itu kamu,” puji kak Anya, meletakan kembali berkas laporan yang belom aku baca.
“Gak kayak gitu lah kak, aku jadi ketua peneliti hanya 2 bulan kemarin, sisanya temen aku yang megang dan ternyata jauh lebih baik kalau dia yang megang.”
Kak Anya tersenyum, “Ciri khas seorang Alya, selalu merendah setiap kali ada yang memuji.”
“Bukan merendah, tapi emang sebuah fakta lapangannya kayak gitu, oh iya tadi kata Queera kakak dapet kabar tentang kak Arya, itu beneran kak?” kak Anya mengangguk, “Selama ini dia gimana kabarnya kak? Apa dia baik-baik aja? Atau malah sebaliknya?”
Kak anya mengeluarkan buku bersampul biru, meletakannya di atas meja. Raut wajahnya pun langsung berubah seketika, dia menatap serius dengan lengan yang menopang wajah.
“Al, kakak mau minta bantuan kamu buat keselamatan warga negara Timur, apa kamu bersedia?”
Aku mengerutkan kening, bingung dengan ucapan kak Anya yang tiba-tiba kayak gini, “Emangnya ada apa kak? Kok kakak sampai minta tolong sama aku? Apa ada sesuatu yang menyangkut banyak nyawa dari warga negara Timur?”
Kak Ana mengehela napas, mengangguk pelan. Aku masih bingung dengan ucapan kak Anya, dengan mata yang sekilas menatap kak Anya, aku mengambil buku yang berada di atas meja, membuka beberapa halaman kosong.
Akhir tahun ini akan ada p*********n besar-besaran, kudeta dari beberapa negara, terutama negara Barat dan negara Utara yang sengaja bekerja sama untuk memusnahkan manusia.
“Maksud tulisan ini apa? Kalau ini cuman kata-kata buat penyemangat kakak, sumpah kak ini sama sekali gak bagus buat dijadiin sebuat motivasi.”
“Bukan aku yang nulis, ini kata-kata yang semalem Arya kasih waktu kita komunikasi. Sekarang Arya lagi berusaha untuk nyari cara untuk kabur dari pulau pengasingan, jadi aku gak bisa saling bertukar kabar lagi Al, kamu kenal sama Zack dari negara Utara?”
Aku terdiam, enggan untuk mengiyakan ucapan kak Anya, “Kakak kenal sama orangnya, dia kemarin ketemu sama kakak di perbatasan dengan negara Timur laut, dia ceriata kalau kamu sama Zack udah kenal lama dan dia minta maaf gak bisa balik lagi ke negara Timur.”
“Kudeta negara Utara sekarang udah makin parah ya kak?” ucapku dengan susah payah, mataku menatap kosong ke arah kak Anya, pikiran-pikiran buruk langsung menghantui aku seketika.
Kak Anya mengusap air mata yang lolos jatuh ke pipi, “Semua bakal baik-baik aja, Arya pasti pulang dan Zack pasti bakal ngasih kabar baik tentang keluarga kamu, semua bakal baik-baik aja kok Al.”
“Kalau semua gak bakal sesuai rencana, aku harus kayak gimana kak? Diem aja dan cuman bisa liat, keluarga aku sendiri sekarang di bantai abis-abisan sama pemerintahan negara Utara?”
“Keluarga kamu menjadi ancaman buat pemerintahan, mereka mulai gak sejalan dengan pemikiran pemerintah yang mau memperbudak rakyatnya, itu yang aku dapet dari Zack kemarin. Kamu gak perlu khawatir, keluarga kamu bukan di negara Utara aja, kita di sini juga keluarga kamu. Inget pertama kali aku tau kamu keluarga negara Utara?” aku mengangguk pelan, “Apa aku benci kamu karena kamu beda? Engga Al, kamu itu spesial karena kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu. Jadi gak perlu ngerasa sendiri, apalagi sedih Al.”
“Kak Anya bukan kayak gitu, aku bahagia karena masih banyak orang yang peduli sama aku tapi aku takut karena keluarga aku yang tersisa nyawanya terancam, aku mau ketemu sama dia, meski pun itu cuman sekali, seenggaknya aku tau wajah mereka kayak gimana sebelum aku mati.”
“Al, jangan bawa-bawa kematian karena itu gak lucu.”
“Kita lupa kak, kalau kematian itu yang paling pasti untuk kita.”