AJ#23 Penenang Samuel

1608 Kata
Aku berlari menuju kamar Samuel yang berada di ujung lorong, tempat untuk dia tinggal selama di negara Timur. Lenganku mengeluarkan keringat dingin, ucapan dari kak Anya masih terngiang-ngiang dengan jelas di kedua gendang telingaku. “Sam,” panggilku sembari mengetuk pintu kamar, “Samuel ini aku Alya, buka pintunya.” “Al? Ka---“ aku langsung menarik tubuh Samuel, memeluknya dengan erat, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi jika ada orang yang liat kedekatan aku sama Samuel. Samuel mencoba melepaskan pelukan yang semakin aku eratkan, “Hey Al, kenapa? Cerita sama aku? Tapi kita ke dalem dulu, sebelum kamu cerita.” Aku mengangguk, melepas pelukan dari tubuh Samuel, memasuki ruangan bernuansa biru laut dan coklat tua. Samuel menarik lenganku untuk duduk di sebelahnya, kedua lengannya menggenggam lenganku dengan sorot mata yang tidak seperti biasa, takut dan khawatir. “Sam ka-kamu ta-tau kan kalau a-aku bukan dari negara Timur,” ucapku dengan terbata-bata, lengan kiri Samuel mengusap pipi kananku, menghapus bekas-bekas air mata yang masih tersisa. “Apa masalahnya kamu bukan dari negara Timur? Kamu tetap seorang Alya yang mau mengabdikan dirinya untuk negara Timur. Jadi apa masalahnya?” “Keluarga aku masih ada Sam, dan sekarang mereka jadi buronan,” lirihku menatap mata Samuel. “Buronan?” aku mengangguk mengiyakan, “kenapa bisa? Sekarang kamu tenang oke?” Samuel menarik tubuhku untuk semakin dekat, mengikis jarak di antara kita berdua. Aku memegang baju Samuel, “Aku takut kalau mereka---“ “Mereka pasti aman Al, aku yakin itu,” tukas Samuel dengan cepat, lengan kiri Samuel mengelus rambutku yang tergerai, “sekarang kamu lebih baik buat tenang, mau aku buatin makanan?” Aku menghela napas panjang, memilih menyenderkan kepala di sofa kamar Samuel, membiarkan Samuel tetap mengelus rambutku, tanpa sadar kesadaranku mulai menghilang dengan deru napas yang tersengal-sengal. “Pemburuan baru?” tanyaku di tengah perkemahan, kabut di hutan pun semakin pekat. “Pemerintah barat udah tau gerak gerik kita Al, kita harus kabur!” “Kamu bener, tapi luka kak Arya belum sembuh total, kita gak bisa mengambil resiko kalau kita melarikan diri lagi dari hutan barat ini,” ucapku sembari memegang lengan kak Arya yang masih terasa dingin, setelah lebih dari belasan hari mencari jejak kak Arya, akhirnya aku menemukannya juga. “Kita semua yang ada di sini bisa mati kalau gak melarikan diri Al,” dengus Samuel dengan kesal. “Aku tau Sam, gak perlu kamu perjelas, tapi aku juga gak bisa mengambil resiko kalau pergi sekarang dengan luka-luka kak Arya yang belum sembuh total. Dia udah berada lama di bawah air Sam.” Samuel langsung berdiri, “Terserah kalian, aku gak mau mati bodoh karena mempertahankan satu orang doang buat puluhan nyawa di sini, terlalu egois rasanya.” “Al,” panggil Samuel yang menarik paksa aku untuk kembali sadar, “kamu kenapa?” Aku menghela napas panjang, mengusap keringat dingin yang keluar di pelipisku, menatap Samuel yang menatap aku dengan pandangan bingung. Lengannya mengulurkan segelas air minum, dia memilih untuk duduk di sampingku. Aku menenggak air minumnya hingga tandas, masih menerawang mimpi yang terasa nyata tadi, apa itu masa depan aku? “Mimpi buruk?” aku menggeleng pelan, “terus apa? Kenapa kamu selama tidur, manggil Arya terus? Bukannya dia sekarang ada di pulau pengasingan? Ada masalah dengan orang yang bernama Arya?” Aku merapihkan rambut yang menjalar menutupi wajah, “Bukan kayak gitu, tapi tadi mimpinya terasa bener-bener nyata Sam, ada kamu terus ada kak Arya juga.” “Mimpi kan cuman bunga tidur, jangan terlalu di pikirin oke? Sekarang kamu harus tenangin diri kamu, kita perlu cari saudara kamu yang masih hidup saat ini.” Aku memegang lengan Samuel, “Makasih ya, kamu salah satu orang yang sekarang bisa aku percaya.” “Kalau bisa, aku mau minta sama kamu buat jadiin aku satu-satunya orang yang bisa kamu percaya, orang yang bakal kamu jadiin tempat buat berkeluh kesal sama dunia yang gak adil.” Aku sedikit memundurkan tubuh, memberi jarak dengan Samuel sembari perlahan melepas lengan yang semula memegang lengan Samuel. Perkataan kak Anya terngiang-ngiang di benakku, jangan terlalu bodoh dengan perasaan laki-laki yang berusaha mendekat. “Sam, aku pulan dulu ya,” ucapku pada akhirnya, sedikit melirik wajahnya yang hanya terdiam. “keganggu dengan ucapan aku tadi? Udah gak usah pikirin. Lusa mau ikut aku ketemu sama Zack, 3 hari lagi dia harus kembali ke negara Utara buat nyari data tentang para bangsawan di sana.” Aku mengangguk dengan semangat, “Lusa beres penelitian baru, aku nyusul ke hutan timur.” Kak Fincent menggenggam lenganku yang sudah berkeringat dingin, berjalan menuju rumah yang membuat aku selalu menjadi orang asing, hampir selama aku hidup, jarang orang menganggap aku ada di sana, hanya sebatas orang asing. “Ada kakak di sini, jangan khawatir,” bisik kak Fincent seperti mantra yang mujarap. Pintu rumah terbuka, menampilkan wanita senja dengan tongkat di lengan kirinya, “Kalian udah nyampe juga, oma kangen sama kalian.” “Alya juga kangen sama oma,” aku membalas pelukan oma dengan hangat, “oma apa kabar?” “Harusnya oma yang nanya sama kamu Alya, kondisi kamu gimana? Joe bilang, kamu selalu pulang larut dari laboratorium pusat buat penelitian terbaru kamu. Inget kamu itu manusia, bukan robot yang bisa kerja tanpa perlu istirahat, sesekali kamu jenguk oma dong, jangan di ajak sama Fincent terus.” “Joe tukang ngadu ih,” dengusku dengan senyum lebar, salah satu keluarga yang menganggap aku sebagai keluarga, bukan orang asing yang perlu di jauhi. “Biasa oma, orang sibuk bakalan kayak gitu terus,” suara yang aku rindukan terdengar mengalun. “Kak Syeila? Kapan kakak pulang ke rumah oma?” aku langsung berlari memeluk sepupu perempuanku, kakak dari Joe yang sama baiknya dengan oma. Dia mengurai pelukannya, melakukan ritual untuk mencubit kedua pipiku sebelum mengecup keningku seperti anak kecil. Ayolah, aku aja udah berusia 25 tahun, bukan anak kecil lagi! “Kakak!” aku memberenggut kesal, menatap kesal kak Syeila yang hanya terkekeh pelan. “Tugas di perbatasan dengan negara Timur Laut udah selesai tahun ini, bulan depan kakak di pindahin kerjanya ke perbatasan sama negara Barat. Jadi kakak putusin buat ngabisin waktu di rumah oma, kangen soalnya sama masakan oma yang udah terkenal enaknya.” “Jadi deket dong buat jaganya dari rumah kakak?” kak Syeila mengangguk. “Cape kalau jauh terus sama keluarga, oh iya minggu depan aku mau tunangan tau.” Aku membelalak, “Seriusan?” kak Syeila hanya tersenyum simpul, “kok gak pernah cerita sih kak, sama siapa kakak mau tunangan, perasaan kakak gak pernah deket sama cowok.” “Panjang ceritanya Al, ayo kita makan dulu sekarang, tante sama om Faisal udah bawain buah dari desa di selatan negara, katanya buahnya manis banget.” Aku hanya mengangguk, mengikuti langkah kak Syeila menuju ruang makan, aku menatap kedua orangtua angkatku yang hanya menampilkan ekspresi datar, sama halnya dengan semua om dan tante kecuali kedua orangtuanya Joe yang tersenyum hangat. “Oma, Alya ganggu waktu oma gak?” aku sedikit menampilkan kepalaku dari balik pintu, memperhatikan oma yang sibuk melakukan aktivitas merajutnya. Oma langsung menghentikan aktivitasnya, “Kenapa Alya? Cucu oma kok malah murung sih. Sini cerita dulu sama oma, jangan murung terus. “Oma tau gak kalau Alya itu bukan anak kandung orangtuanya kak Fincent?” tanyaku dengan hati-hati. “Emang apa bedanya Al? Kamu tetep cucu oma yang suka banget bikin oma khawatir kayak ke yang lain, tapi kamu itu spesial Al. Dari awal oma ketemu sama kamu, oma udah tau kalau masa depan kamu itu bakal jauh lebih baik dari cucu oma yang lain.” Aku menggeleng tidak setuju, “Dari sisi mana oma bisa bilang kalau aku punya masa depan yang baik dari cucu kandung oma? Dari yang Alya rasain selama ini, gak pernah tuh ayah sama ibu khawatir sama Alya, bahkan ayah selalu lampiasin amarahnya ke Alya, nyuruh Alya buat pergi dari rumah.” Oma menarik tubuhku, mengusap lengan kiriku dengan lengannya, beberapa kali aku mendengar helaan napas berat dari mulut oma. “Kalau Alya tau apa yang sebenernya terjadi, gak mungkin Alya bakal berani ngomong kayak gitu, tapi bukan hak oma buat bilang yang sebenernya. Cuman Alya perlu tau, orangtua yang ngasuh Alya selama ini, mereka sayang banget sama Alya. Ayah itu sayang sama Alya, setiap beres marahin Alya, ayah selalu cerita sama oma dan minta di hukum lebih berat dari apa yang udah ayah lakuin.” Aku mencoba mencerna kenyataan yang terasa seperti mimpi, “Ta-tapi oma, itu cuman akal-akalan oma doang kan? Gak mungkin ayah ngelakuin itu, buat seorang anak angkatnya.” Oma memegang kedua pipiku, menatap langsung ke dalam manik mata, “Apa yang Alya liat, belum tentu itu yang bener kan? Sama hal dengan apa yang selama ini Alya rasain, mereka takut kalau Alya tau siapa sosok Alya sebenernya. Ibu sama ayah ngelakuin itu, semuanya biar Alya benci sama mereka. Jadi gak berat kalau Alya mutusin pergi dari hidup mereka, gak ada rasa rindu kalau jauh.” “Mereka selama ini gak pernah peduli oma? Yang mereka peduliin itu, anak bungsu mereka, Aurora.” “Tau alasan Aurora selalu di perlakuin spesial?” Aku menggeleng, “Aurora punya sisa waktu sebentar lagi di dunia ini, penyakit bawaan dari bayi selalu menghantui Aurora, dulu waktu ibu kamu masih mengandung Aurora, dia maksa ke hutan dan berakhir ibu ngalamin keracunan dari tumbuhan di sana.” “Jangan bilang tumbuhannya yang sekarang sama kak Fincent jadiin obat untuk penyakit kanker?” Oma mengusap puncak kepalaku, mengangguk sekaligus menjadi tamparan kuat untuk aku. Bunga Azryrya yang terlihat indah tapi mematikan, bunga langka yang saat ini di kembang biakan menjadi tumbuhan herbal oleh beberapa ilmuwan saat ini setelah belasan tahun mereka teliti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN