Hari Rabu pagi yang cerah, aku keluar dari rumah mungil, mencari taxsi di terminal dekat rumah untuk melakukan perjalanan menuju pusat kota karena sebaran informasi dari pemerintah tadi malam. Baju yang aku gunakan juga lebih santai dari biasanya dengan baju berlengan panjang berwarna biru tua bercorak bunga dan rok di bawah lutut, oh iya jangan lupa sepatu yang senada dan rambut yang sengaja aku kuncir kuda.
“Wow tumben datang pake pakaian kayak gitu?” sapaan pertama yang aku dengar saat berjalan dari arah parkiran mobil di bagian utara, kak Anya melihat ke arahku dari atas sampai bawah, menggelengkan kepala sembari menarik pelan lenganku.
“Males berpenampilan terlalu feminim kak, oh iya ngomong-ngomong kabar kak Anya tau kabar kak Arya itu gimana gak untuk minggu ini? Udah seminggu alat yang dikasih sama kak Arya sama sekali gak berfungsi,” ucapku dengan suara pelan.
Langkah kaki kak Anya tiba-tiba berhenti, kak Anya memegang bahuku, berusaha untuk tersenyum sedangkan matanya sama sekali gak bisa bersembunyi kalau ada kesedihan yang berusaha dia tutupi. Sepersekian detik, kak Anya langsung memelukku. “Kamu harus ikhlas ya, Arya gak ada di pulau pengasingan lagi, dia anatara masih hidup atau engga untuk saat ini,” bisik kak Anya seperti mimpi buruk baru untuk aku.
Aku melepas pelukan kak Anya, mengerutkan dahi sembari menggelengkan kepala, “Kakak bercanda bukan? 5 hari yang lalu, kak Arya masih ada kabar. Dia bilang lagi---“
“Ini bukan candaan Alya, kakak tau kalau kamu juga gak percaya karena kakak juga sama!” kak Anya mendesah pelan, mengusap air mata yang mulai luruh di pipinya, “kakak baru dapet kabar kemarin malem, itu kayak mimpi buruk waktu tau sodara kembar kamu sekarang gak ada kabar dan entah gimana kondisinya saat ini, apa dia baik-baik aja atau udah mati di pulau sana.”
“Kak ayo kita ke sana, aku pengen liat sama mata aku sendiri kalau kak Arya udah beneran mati! Selama jasadnya belum ada di depan mata aku, di situ aku masih yakin kalau kak Arya masih baik-baik aja kak. Kita gak boleh ke hasut sama orang pemerintah, mereka pasti mau memanipulasi doang,” ucapku memegang lengan kak Anya yang sudah dingin, mendongkak menatap wajah kak Anya yang sayu dengan kantung mata yang mulai menghitam.
Kak Anya mengangguk pelan, “Semoga aja ya, kakak gak siap buat kehilangan Arya.”
‘Kak Arya, kamu baik-baik aja kan?’
Aku mengusap bahu kak Anya, mencoba menenangkannya meski pun rasanya itu gak ada gunanya sama sekali, perasaan takut dan tidak bisa apa-apa sekarang yang kak Anya alami. Beberapa saat kemudiaan, bunyi lonceng di pusat kota berbunyi dengan nyaring, membuat benda-benda kecil di sekitar aku sedikit bergetar karena getarannya.
“Ayo kak, ada pengumuman khusus di pusat kota.”
“Kak Alya...” teriakan yang tidak kalah nyaring terdengar dari arah samping, perempuan kecil dengan rambut yang dikepang dua berlari ke arahku.
Aku berjongkok, menyesuaikan tinggiku dengan dia, “Hai Elsa cantik, kamu ke sini juga? Sama siapa?”
“Sama aku Al,” sahut laki-laki dengan jaket denim di lengannya, dia menyampirkan rambut yang mulai memanjang ke arah belakang rambut, tersenyum sedikit licik ke arahku, sangat menyebalkan dengan tampang seperti siluman!
“Dih tumben banget kamu mau nganterin Elsa ke sini Rey, biasanya udah sibuk sama dunia dan lupa kalau kamu punya adik yang perlu kamu urus,” sindiriku dengan mata yang memutar jengah.
“kak Rey yang dapat tugas buat kondisi perumahan kak, jadi mau gak mau harus datang ke sini,” tukas Elsa menarik lenganku untuk ia genggam.
Aku mengusap puncak kepalanya dengan sayang, “Pantesan ya kak Rey mau datang, ya udah kita ke pusat kota aja sekarang,” ajakku yang berdiri, sedikit melotot ke arah Rey yang hanya bisa mendecih.
“Bahaya ya jadi ilmuwan untuk sekarang,” ucap satu pemuda dengan suara lantang, seperti ingin semua mendengar ucapannya saat ini.
“Iya bener kamu, sekarang banyak orang yang tertangkap dan akan di pacung di depan banyak orang. Sangat di sayangkan umur mereka gak terlalu panjang seperti kita sekarang Do.”
“Hahaha mereka hanya orang bodoh yang berlagak pintah, lebih baik seperti kita yang terjamin hidupnya akan aman dan tidak akan dibayang-bayangi dengan rasa takut hahaha.”
Lengan kak Anya yang bertaut dengan lengankiriku semakin terasa dingin, ucapan dua laki-laki bodoh itu pasti sedikit menggucang perasaan kak Anya yang baru dapat kabar tentang kematian kak Arya yang tidak jelas. Kalau mereka tau sebenernya mereka yang akan menjadi tumbal, apa bisa mereka tertawa pongah dan merasa paling hebat sekarang? Seperti mustahil sekali!
“Tau apa pak dengan ilmuwan?” desis Rey secara tiba-tiba, bukannya Rey gak suka dengan ilmuwan? Tapi kenapa sekarang malah sebaliknya? Atau hanya sebatas pencitraan semata? Lengan Rey menarik kerah belakang laki-laki yang lebih kecil di banding laki-laki di sebelahnya, “Kalau gak tau apa yang sebenarnya terjadi, jangan jadi penghasut untuk orang membenci ilmuwan di sini, dasar manusia sampah yang gak berguna!”
Lengan Rey langsung menarik lengan Elsa dan lenganku secara paksa, membuat lengan yang semula bertaut dengan lengan kak Anya langsung terlepas. “Heh manusia nyebelin, lepasin tangan aku sama Elsa sekarang!” aku menghentakkan lengan yang di cengkram dengan kasar oleh Rey, membuat lenganku langsung terasa nyeri, “mata kamu buta sampai gak liat jalan Elsa udah terhuyung-huyung hampir jatuh?!”
Aku menarik tubuh Elsa untuk berada dalam dekapanku, “Kamu gak apa-apa kan sayang? Gak ada yang sakit sama sekali kan? Ada yang luka?” aku memeriksa kondisi Elsa yang memucat.
“Nyeri lengan Elsa kak, rasanya jari-jari Elsa mau patah aja,” keluh Elsa mengulurkan lengan kanannya.
“Gak ada ucapan terima kasih sama sekali, dasar orang gak tau di untung,” desis Rey seperti minta aku lempari wajahnya dengan batu-batuan yang ada di sekitar aku sekarang.
“Kurang keras omongannya Rey, sekalian aja minta aku nyembah-nyembah manusia yang gak punya rasa kemanusiaan sama sekali,” aku melipat kedua lengan, “oke kalau kamu minta aku berterima kasih karena udah membela, aku terima itu, tapi apa yang mereka bilang emang sesuai fakta. Sekarang, banyak ilmuwan yang ditarik secara paksa untuk di hukum secara gak logis.”
“Mereka udah ngejelekin orang yang berjasa di negara ini bodoh! Otak bisa pinter tapi rasa peduli kamu dengan yang lain, nol besar!"
“Aku gak bilang kalau para ilmuwan salah di sini, tapi aku membenarkan kalau para ilmuwan di tarik paksa untuk menerima hukuman yang gak logis! Mereka di hukum dengan tuntutan yang gak jelas Rey.”
Wajah rey sedikit melunak, dia menghela napas lelah, berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Elsa yang memasang wajah sendu, bukan takut seperti anak kecil biasa.
“Kakak minta maaf ya udah narik tangan Elsa kenceng banget sampe merah-merah kayak gini,” sesal Rey dengan lengan yang mengusap lengan kecil Elsa.
Aku berjalan lebih mendekat ke arah Rey, memegang bahunya, “Gak ada satu pun dari ilmuwan yang bisa membela diri mereka saat harus di paksa untuk di tarik rey, mereka cuman bisa pasrah saat mereka yang gak bersalah harus menerima hukuman bahkan sampai kehilangan nyawa saat ini.”
“Dunia udah gak baik-baik aja ya kak? Yang bener bakal di tutup buat terus bungkam,” sahut Elsa.
“Emang Elsa, kita harus siap untuk terus menghadapi pemerintah yang udah jelas mulai gak stabil saat ini dan yang pasti kita harus bisa mempertahankan diri kita sendiri.”
“Emang kamu gak tau Alya alasan kenapa para ilmuwan di bunuh saat ini?” aku menggeleng lemah.
“Kebanyakan yang di bunuh itu, mereka yang udah melakukan penelitian besar-besaran dan kurang setuju sama pemerintah yang sekarang semakin menekan. Ya udah daripada buang-buang waktu, kita balik lagi ke tempat tadi, aku malah ninggalin kak Anya sendirian di sana.” Aku langsung berjalan menulusuri tempat, mencari kak Anya yang di sekumpulan manusia yang saling berdesakan, tapi bunyi gong di podium utama mencuri perhatianku. Tubuhku terasa kaku saat melihat siapa orang yang akan di eksekusi saat ini. Kenapa semua mimpi buruk ini harus terus berdatangan di hari ini! Pikiranku langsung kosong, sedangkan lengan mencari pegangan untuk terus menyokong tubuh yang mulai tidak sanggup untuk bertahan lebih lama.
“Al kamu gak apa-apa?” tubuhku di tahan oleh Samuel yang sekarang berada di sampingku. “Sam bilang sama aku kalau ini semua cuman mimpi doang?” bisikku sembari memejamkan mata saat mendengar bunyi benda tajam yang memotong leher, ditambah bunyi ringisan dari orang di sekitar.
Samuel mengeratkan pegangannya di lenganku, “Kita pergi sekarang Al, kamu gak bakal baik-baik aja harus liat banyak teman kamu yang di penggal di hadapan kamu, kita pergi ya?” pinta Samuel.
“Kak Anya Sam, dia pasti sama kayak aku sekarang, dia gak boleh sedih lagi Sam, dia--“
“Dia yang bakal di eksekusi selanjutnya Al, kamu harus---“
“Alya bangung hei!” tepukan di pipiku terasa semakin menyakitkan.
Aku langsung membuka mata, menyesuaikan cahaya yang lebih terang, menatap sekeliling sebelum mataku terfokus ke arah kak Anya yang sama seperti pertama kali aku ketemu hari ini, wajah sendu dengan mata yang yang menampilkan kesedihan.
Aku memegang lengan kak Anya, “Kakak gak apa-apa? Sekarang kita ada di mana kak?”
“Tenang Al, kita ada di UKS pusat, tadi kamu pingsan waktu kita desak-desakan di lapangan. Kayaknya penguman tadi masih bikin kamu kaget ya, kita harus sabar untuk terus bertahan oke?”
“Pengumuman?” aku melolong pelan, “emangnya tadi kita dapet pengumuman kak?”
“Kamu ini kok malah ngelucu, iya lah tadi kita di kumpulin karena ada pengemuman kalau negara Utara bakal berkunjung buat nyari keluarga bangsawan yang masih tersisa, katanya ada 3 orang yang melarikan diri dari negara itu.”
“Ada yang melarikan diri? Kenapa harus di kejar, kita harus di lindungin dong kak, mereka kan di bantai sama pemerintah militernya sendiri.”
“Masalahnya kalau kita ikut campur, nyawa kita yang jadi taruhannya Al.”