“Laporan penelitian biologis manusia sudah berada di tahap uji coba sel kak,” ucap Kayla yang menyerahkan laporan perkembangan data, aku membuka setiap lembar penelitian, meneliti kalimat jika terdapat hal rancu di sana.
Quera yang berada di sebelahku, sedikit menarik kertas laporan agar dia lebih mudah membacanya, mengangguk-anggukan kepala. Penelitian lanjutan untuk alat ini, benar-benar di luar prediksi aku sekarang, aku kira butuh waktu lebih lama apalagi setelah kegagalan di cairan tabungnya beberapa minggu lalu, tapi nyatanya sekarang semua berada dalam kendala lagi.
“Bagus Kayla, nanti kakak yang akan neliti langsung kelanjutannya. Oh iya, untuk ini perkembangan dalam sel hewan gimana? cairannya berada dalam standar atau terlalu tinggi? Cairan biru itu akan mempengaruhi perkembangan janin dari hewan yang kita gunakan,” ucapku dengan napas yang tersenggal-senggal karena terlalu cepat.
Perempuan yang aku panggil Kayla itu tersenyum simpul, menampilkan lesung pipi di bagian kanan, ilmuwan tambahan yang aku tarik dari proyek yang hampir gulung tikar, “Semua aman terkendali kak, cairan birunya sudah berada dalam standar tetapan dengan intensitas cahaya dan suhu yang stabil. Oh iya kak, perkembangan detak jantung janin belum terdekteksi di monitor, mungkin butuh penyesuaian sebelum benar-benar bisa di deteksi kak.”
“Oke Kay, nanti kamu ajakin yang lain untuk uji coba. Aku mau sore nanti laporan perkembangan dari detak jantung janinnya ada di meja aku, sebelumnya aku udah ngasih 3 cairan biru kan? Jadi cairan biru mana yang berada dalam larutan standar di alat?” tanyaku yang berdiri menghampiri Kayla, berdiri di hadapannya dengan lengan yang memegang bahu Kayla.
“Aku pake ketiganya kak di 3 tabung berbeda, aku belum yakin kalau cairan biru A lebih mudah untuk di gunakan, apalagi kalau suhu dan cahaya berada dalam keadaan tidka stabil. Kalau cairan biru B itu lebih stabil tapi gak bisa dalam jangka waktu yang lebih lama, kalau cairan C aku belum tau kak, baru aku uji coba tadi pagi dan belum---“
“BRUGH..”
Suara dentuman yang tidak terlalu besar dan suara benda yang berjatuhan membuat gentaran cukup hebat di dalam ruangan. Aku tanpa pikir panjang langsung berlari menuju asal suara di laboratorium sebelah utara, memasuki ruangan yang sudah mengepulkan asap yang cukup tebal. Pikiranku langsung kalut, takut terjadi apa-apa dengan mereka yang masih berada di dalam ruangan.
“Azria?” aku menatap heran laki-laki yang berjalan dengan santai dari lorong timur, dia berjalan dengan santainya sedangkan teman-temannya berada di dalam ruangan.
“Kak Alya, kak Quera, kak Lizy kenapa di sini?” tanya Azria dengan polos, aku menatap kedua temanku dengan pandangan sama sama heran, ini anak gak waras atau gimana?
“Hosh.. ya ampun cepet banget jalannya,” dumel Kayla beberapa saat kemudian, dia memegang lututnya dengan tubuh sedikit membungkuk, “Azria aku udah bilang jangan pake asap! Bahaya buat pernapasan orang-orang yang ada di dalam bodoh!” kesal Kayla melipat kedua lengannya, menatap sinis laki-laki yang tersenyum tidak bersalah.
“Kay jangan bilang kamu belom bilang apa yang sekarang kita lakuin?” Juno keluar dengan baju khusus untuk pemadam kebakaran, melepas helmnya sembari menyurai rambut.
“Hehe maaf ya Jun, abisnya dentumannya lebih dulu 3 menit dari perjanjian kita.”
“Guys ada yang mau jelasin sama aku dan kedua temen aku sekarang apa yang udah terjadi?” tanyaku mengintrupsi mereka bertiga dalam perdebatan kecil, sedikit meninggikan tubuh untuk melihat kondisi dalam ruangan yang benar-benar tertutup oleh asap tebal.
“Kak kita ngobrolnya di ruang istirahat aja biar lebih nyaman, sekalian nyari makanan, aku udah lapar.”
Aku mengangguk, menatap ke arah Quera dan Lizy yang masih terpaku dengan mulut yang sedikit menganga. Kalau boleh jujur, aku mau foto mereka dan share ke yang lain gimana muka panik sekaligus bingung dari dua perempuan yang selalu menjungjung tinggi ego.
“Tutup mulut kalian, lalat bisa masuk tuh,” sindirku sembari menyenggol lengan mereka.
Lizy menahan napas dan mengembuskannya secara perlahan, “Ini bukan aku aja kan yang kaget sama suara dentuman dan liat asapnya udah tebal banget?”
“Kamu gak sendiri Lizy, aku juga kaget sama bingung sama cara pikir mereka sekarang. Kalau orang-orang jadi tau keberadaan kita gimana coba!”
Aku mengangguk setuju, sedikit berbahaya melakukan uji coba yang memberikan sinyal seperti ini, “Mana kita gak masang alat perendam getaran di sebelah utara lagi, emang ada-ada aja mereka! Ya udah sekarang kita perlu dengerin mereka dulu, dan cari tau apa yang sebenernya mau mereka buat.”
Aku duduk di deretan kursi melingkar, berhadapan langsung dengan pelaku utama, Azria yang masih terlihat tidak bersalah dengan apa yang dia lakukan sekarang! Lizy dan Quera kayaknya udah gak peduli lagi dengan kejadian tadi, sekarang mereka malah sibuk bahas berita utama di ponsel mereka dengan tubuh yang bersender di kursi malas.
“AKU TAU ALASAN MEREKA!” teriak Lizy yang menarik perhatian semua peneliti di dalam ruangan, dia memasang wajah tidak bersalah, berlari menuju kursiku dengan ponsel di lengannya.
“Gelombang gempa dari arah utara membahayakan warga pada hari Senin ini, berarti kalian nyoba bikin gelombang yang berbeda arah?” tanyaku setelah membaca sekilas berita, menangkup kepala dengan kedua lenganku.
Mereka bertiga mengangguk, “Salah satu alasan untuk meminimalisir potensi bahaya, kita udah masang alat pendeteksi gempa, dan pas ada gelombang panjang dari gempa kita bikin gelombang baru untuk menetralkannya kak.”
“Tapi kalian gak bisa seenaknya kayak gini dong, kalau ada apa-apa nanti gimana?” aku merendahkan nada suaraku, menatap ketiga ilmuwan muda yang saling merunduk, “yang lain ada di mana sekarang? Kenapa gak ada sama kalian?”
“Mereka ada kerjaan di lab sebelah timur, ada penelitian bantuan yang di tarik sama kak Arvi di sana.”
“Lagian kita udah mikirin apa ini bakal jadi pengirim sinyal, apalagi daerah sini bukan daerah yang rawan gempa, tapi setelah pertimbangan, gelombang gempa bakal sampai ke sini dan bisa merusak semua barang-barang yang ada di laboratorium kita kak.”
“Niat kita baik kak, kita gak mau sampe terjadi apa-apa dengan laboratorium ini.”
Aku menghela napas, Quera menepuk bahuku, tersenyum sembari menggelengkan kepala. Dia tau apa yang seakarang berkecamuk di otakku, masalah keberadaan laboratorium khusus ini.
“Lain kali kalian harus konsultasi sama kita-kita ya, masalahnya bukan kalian aja yang ngelakuin tapi semua ilmuwan yang berada di sini bakal kena. Sebelumnya kenapa kalian sampe mau bikin gelombang kayak gitu? Kalian tau kan gimana susahya membuat gelombang kecil lalu menjadi basar untuk menetralkan gelombang dari gempa bumi?” ingat Lizy mengambil tempat duduk di sebelah kiri kursiku.
Quera mengangguk, “Itu yang sekarang masih ada di pikiran aku, keren banget loh bisa membuat gelombang yang sama besarnya dengan gelombang gempa kita.”
Azria tiba-tiba menarik lengan Kayla, “Usulnya Kayla kak, dia itu keren cuman malu-malu aja.”
“Ish kamu apa-apaan dah Az, sok deket banget!” ketus Kayla menarik lengannya.
“Ya gagal lagi PDKT-nya,” gumam Juno menatap sekilas sepasang manusia yang sekarang beradu argumen, aku sedikit tertarik dengan sosok Juno yang hampir gak terbuka seperti yang lainnya, terkesan menutup diri dari pergaulannya.
Aku berdehem menyesuaikan tinggi suara Kayla dan Azria, “Jun bisa ikut aku ke ruangan utama gak?”
Dia mengerutkan dahi namun berujung menganggukkan kepalan, “Oke kak.”
“Li, Que aku ke ruang utama ya, jangan lupa list barang yang perlu di butuhin dari proses penetralan gempa tadi, kita analisis bareng lagi nanti.”
“Mau ngapain ajak-ajak Juno, jangan bilang...” Quera menaik turunkan alis dengan senyum smirk.
Aku melempar bantal yang tidak jauh, “Kurang asem banget,” dengusku.
Bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar saling bersahut-sahutan, mengisi sunyinya makan malam yang terlalu menegangkan kali ini. Aku hanya bisa memakan spageti untuk makan malam kali ini dengan khidmat, enggan untuk mencari topik pembicaraan seperti biasanya, terasa kelu saat harus berhadapan dengan keluarga palsu.
Makan malam yang hanya sebatas formalitas akhirnya selesai, aku memeluk semua anggota keluarga satu persatu sebelum akhirnya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, memasuki kamar yang berada di ujung lorong, jauh dari kamar-kamar saudara-saudaraku. Menahan napas dan mengembuskannya sepelan mungkin, berjalan meuju balkon kamar, menatap langit malam yang indah seperti biasanya dengan bintang-bintang yang menghiasi langit kali ini.
“Kapan ya semua bener-bener baik-baik aja?” gumamku menatap langit, berharap bisa tau keadaan negara utara yang masih dalam peperangan antar masyarakat, menyeramkan saat darah-darah orang yang tidak bersalah kembali tumpah ruah.
Aku mengeluarkan kalung peninggalan keluarga, mengusapnya dengan harapan masih ada anggota keluargaku yang masih hidup, terasa mustahil jika itu benar-benar terjadi tapi gak ada salahnya aku berharap kalau mereka ada dan bisa ikut bersama aku dengan kehidupan yang layak. Pemikiran tentang percakana dengan Juno kembali terngiang-ngiang, sosok yang pendiam namun menyimpang jutaan masalah dalam kehidupannya.
“Kak aku masih mau hidup karena ade kecil aku masih berada dalam tawanan orangtua yang gak waras,” keluhnya dengan ekspresi terluka, dan untuk pertama kalinya aku bisa liat Juno dalam titik terendah dari kehidupannya, wajahnya yang biasanya menampilkan senyum, sekarang sebaliknya.
“Kamu gak berusaha untuk laporin itu ke pemerintah?”
“Kak, mereka berdua, maksud aku kedua orangtua aku masuk dalam jajaran pemerintah! Gimana aku bisa laporin mereka kalau mereka aja ada di dalam pemerintahan? Udah berulang kali aku coba dengan harapan yang sama, tapi ujung-ujungnya apa kak? Semua di tolak dan video adik aku di siksa terus di kirim sama kedua orang gak beradab!”
Aku langsung menarik tubuh Juno yang sudah bergetar menahan amarah, mengusap punggungnya dengan lengan kiriku dan lengan kanan yang menyangga kepalanya. Juno menyerah untuk memberontak saat dekapannya semakin aku kencangkan.
“Aku ada di sini buat kamu, semua bakalan baik-baik aja, percaya sama aku Jun.”
‘Kali ini pemerintahan di negara ini serumit apa? Apa bener kalau hukum udah semakin tumpul?’