Udara Minggu pagi terasa lebih sejuk dari beberapa hari lalu yang sumpek karena ada kebakaran hutan di sebelah timur, kebaran yang di sebabkan karena pemanasan di tambah dengan adanya bekas putung rokok yang masih menyala di lokasi. Hampir 5 hari semua orang berusaha untuk memperbaiki kondisi udara yang menyesakan, terutama di daerah kota karena polusi dari beberapa pabrik industri dan pabrik lainnya.
“Alya!” teriak laki-laki jangkung dengan celana di atas lutut dan kaos oblong berwarna biru.
“Joe? Kamu kenapa di sini? Bukannya ada tugas di pemerintah selama seminggu ini?” tanyaku yang bergegas menghampiri Joe, dia terlihat lebih manusiawi setelah kejadian malam itu.
“Aku bosen harus rapat dan rapat terus tanpa ada hiburan, jadi hari ini aku ambil cuti buat ajak kamu ke tempat bermain di pusat kota. Kamu mau gak?” tawar Joe seperti angin sejuk di tengah kesibukan.
“Boleh boleh!!” sahutku dengan semangat.
Joe terkekeh pelan dengan senyum memperlihatkan gigi gingsul di sebelah kiri, dia mengusap pelan puncak kepala, menyerahkan satu jinjingan dari lengannya. Aku membuka isinya, terpukau karena salah satu topi yang baru dikeluarkan dari butik ternama sekarang ada di genggamanku, warnanya senada dengan warna coklat muda kesukaanku.
“Kamu kok bisa dapet ini? Bukannya baru rilis 2 hari yang lalu ya?” Aku masih heran sama Joe yang selalu dengan mudah mendapatkan apa yang aku harapkan, salah satunya seperti ini.
“Ada Lufina yang megang buat pendistribusiannya, makanya aku minta sisain warna nude ini.”
“Aaaaa Joe makasih banget!!” reflek aku langsung memeluk tubuh Joe tanpa sadar.
Aku tiba-tiba teringat kejadian yang membuat aku menjauh hampir satu bulan lamanya dengan Joe, segala bentuk komunikasi aku hindari sebisa mungkin, bahkan jika ada acara yang bersangkutan dengan Joe, aku pasti bakalan menjauh! Mungkin terlihat lebay tapi menurut aku Joe udah berlebihan saat keadaan tidak sadar karena pengaruh alkohol tempo hari.
“Alya aku gak bakalan biarin kamu jadi milik orang lain,” dengus Joe saat aku memapah tubuhnya dari club malam di tengah kota, jarak yang cukup jauh dengan rumah aku atau rumah Joe.
“Apaan sih Joe! Aku ini sepupu kamu, sadar diri!” kesalku tanpa sadar, tanpa sadar itu adalah awal mulai dari murkanya Joe dan kesalahan yang sulit aku maafkan.
Joe yang berada di papahanku tiba-tiba langsung menarik lenganku, meletakannya di belakang kepala dengan satu lengan Joe yang memegang kedua lenganku. Dia tersenyum menjijikan dengan memperkikis jarak di antara kami berdua, bau alkohol tercium menyengat dari napasnya.
“Joe inget aku ini sepupu kamu!” ucapku dengan kalang kabut, wajah Joe semakin mendekat membuat tubuhku bergetar ketakutan, keringat dingin tanpa sadar mengucur begitu saja dari pelipis.
“Aku jatuh cinta sama perempuan yang bahkan udah jelas dia benci aku,” dengus Joe yang mulai meracau tidak jelas, dia melepaskan cengkraman di lenganku, menghemparkan lenganku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh ke lantai.
Joe mencengkram kepalaku dengan lengannya, aku merasakan nyeri menjalar melalui rahang wajah. Kepalaku di angkat secara paksa untuk mengadah, menatap laki-laki yang sudah tidak sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang. Tiba-tiba lengan Joe menampar wajahku hingga aku bisa merasakan rasa amis dari ujung sudut bibir bagian kanan.
“Kamu kayak p*****r yang bisa seenak jidat deket sama orang lain,” sinis Joe seperti tamparan pelak untuk aku, “semurahan apa kamu bisa seenak jidat digandeng sama laki-laki hah?!”
“Jo-joe?” bisikku dengan lirih, menahan perasaan kalut yang menyerang begitu saja.
“Kenapa? Gak percaya laki-laki yang kamu rasa suka sama kamu bisa ngomong kayak gini?”
“Ke-kenapa kamu ti-tiba-tiba kayak gini hah? Salah aku apa sama kamu? Apa ini karena aku nolak kamu selama ini? Sadar diri Joe kalau kamu itu sepupu!”
“PERSETAN DENGAN KATA-KATA SEPUPU YANG KAMU MAKSUD!” teriak Joe tepat di hadapan wajahku, “KAMU BISA SEMURAHAN ITU DI SENTUH SAMA COWOK LAIN!”
Aku langsung berdiri, mengusap sudut bibir dengan ibu jari kanan, menatap Joe dengan perasaan kecewa dan muak! Serendah itu aku sekarang di mata Joe? Laki-laki yang aku kira bakal ngelindungin aku, ternyata apa?
Plak..
“Berhenti ngucapin kata-kata bodoh dari mulut sialan kamu! Aku gak peduli sekarang! Mulai detik ini, jangan pernah temuin aku lagi, sebelum kamu berpikir tentang perlakuan kamu ke aku!” aku mendorong tubuh Joe yang tidak seimbang hingga tersungkur ke lantai, bergegas berjalan menuju mobil yang sengaja aku parkir di mini market.
“Hei Al, kenapa malah bengong,” ucap Joe yang mengusap bahuku.
“Eh.. engga kok cuman tiba-tiba keinget sama tugas yang belum sempet aku selesaiin hari ini,” ucapku dengan asal, gak sepenuhnya berbohong sih.
“Ngapain mikirin kerjaan di hari libur,” ledek Joe yang menarik lenganku untuk memperkikis jarak, “kadang aku nyesel pernah buat kamu ngejauh, aku gak sadar dulu pernah memperlakukan perempuan se-sempurna kamu dengan buruh,” bisiknya yang berdiri menghadap ke arahku, mengusap pipi kananku dengan ibu jarinya.
“Terkadang kamu butuh rehat untuk mikirin semua tentang aku,” balasku sembari melepaskan lengan Joe dari wajahku, menatap sekilas wajahnya sebelum berlari masuk ke dalam kamar.
Aku memegang degup jantung yang sedikit memburu, ini perasaan asing yang terkadang menyebalkan saat aku merasakannya. Masalahnya aku selalu seperti ini ke empat pria di sekitar aku! Apa aku gila bisa jatuh hati ke empat pria yang berbeda?
“Engga boleh Alya!!” denguskumenepuk pelan pipi, berjalan menuju cermin di meja rias, menatap pipi yang sudah bersemu merah hingga ke telinga!
“Kamu gila kalau ikutan suka! Inget Al, sekarang bukan waktu yang tepat ngurusin perasaan masa bodo kamu ini! Inget tujuan utama kamu sebagai peneliti!”
“Al jangan lama-lama, nanti ke buru siang terus kulit kamu malah jadi merah,” teriak Joe yang kembali membuat degup jantungku menggila!
“Argh! Bisa gila aku cuman karena dengerin suaranya,” lirihku mengusap wajah, menatap pantulan wajah yang frustasi karena perasaan gak jelas ini!
Entah untuk ke berapa kalinya dalam hari ini aku menghela napas pelan, belum juga genap satu hari aku udah kayak orang frustasi karena masalah, tapi ini emang masalah sih!! Masalah buat jantung aku yang menggila kayak orang abis maraton!
“Ini aku yang terlalu mudah menaro rasa sama laki-laki, atau mereka yang mudah nemuin cara untuk bikin aku terpukau dengan mereka? Rasanya gila saat merasakan hal yang sama ke empat laki-laki yang sulit melepas diri dari radar jangkauanku!”
Taman hiburan di tengah kota gak ada abisnya dari kedatangan pengunjung, hampir rentang usia ada di sini semua, dari yang masih menjadi bayi hingga orang-orang lansia yang berjalan santai menuju tempat penjual makanan sembari bergandengan tangan dengan pasangan.
“Wahananya gak banyak yang berubah ya,” komentar Joe saat keluar dari permainan uji nyali.
“Mau gimana lagi coba, sekarang tuh banyak orang yang males ngembangin wahana-wahana yang ada di sini, terutama setelah kejadian gagal alat permainan dan berujung 3 orang mati karena aliran listrik.”
“Kadang berhenti sejenak perlu, buat evaluasi dan nyari tau apa kelemahan biar kita bisa perbaikin. Gak selamanya loh kita perlu melangkah mundur dan milih menyerah dari tantangan, lebih seru hidup itu kalau ngejalaninnya dengan tantangan yang menguji nyawa kamu.” Kali pertama aku terpukau, benar-benar terpukau dengan ucapan Joe saat ini.
“Tumbenan banget bahasa kamu ada benernya, kadang banyak orang loh yang memilih untuk mempertahankan zona nyaman mereka, gak peduli kalau di luar zona itu banyak banget tantangan yang jadi guru terbaik buat kita melangkah.”
Joe tertawa dengan suara rendah, “Gak nyangka kita akhirnya punya pemikiran yang sama, gak salah menempatkan rasa sama kamu Al.”
“Apaan dah kamu Joe!” aku mengalihkan wajah, tersenyum selebar mungkin sebelum kembali ke ekspresi geli dengan ucapan Joe.
“Beli gula kapas kayaknya enak banget,” sahutku mengalihkan pembicaraan, berlari menuju tempat penjual gula kapas yang berwarna-warni.
Tempat persinggahan terakhir yang udah aku dan Joe pilih adalah pantai yang berada di dermaga dekat kota, jaraknya lumayan makanya aku sama Joe memilih untuk menginap sehari di pantai pusat kota sembari melihat pemandangan matahari terbenam.
“Al inget gak waktu kecil kita bikin rumah pohon di rumah oma, terus setiap sore aku sama kamu duduk di rumah pohon sambil bawa cemilan dari rumah cuman biar bisa liat matahari terbenam dari ketinggian, udahnya nanti kita kena marah bunda Alyvia gara-gara pulang-pulang tangan kita merah.”
Aku mengangguk mengiyakan, mengingat kenangan kecil yang penuh kejutan, “Kamu bener banget Joe, bunda Alyvia kan paling khawatir sama kondiri kita.”
Joe menarik lengan kiriku, mengenggamnya dengan lembut, “Kalau ada aja mesin waktu di bumi ini, aku pengen banget bia ngulang kisah itu, atau seenggaknya liat lagi kenangan seindah itu.”
Aku mengalihkan padangan ke arah Joe yang juga melirik ke arahku, lengan kanannya merogoh sesuatu dari jaket kanannya, tersenyum simpul sebelum memasangkan cincin bertahtahkan permata indah berwarna hitam pekat. Ini ketiga kalinya ada laki-laki yang ngasih aku barang bertahtakan permata indah!
“Kamu ngasih aku karena apa? Perasaan ulah tahun aku masih lama deh,” ucapku terpana, mengusap pelan batu permata yang benar-benar cantik di jari jemariku.
“Emang salah kalau aku ngasih sesuatu ke kamu? Apa aku harus nunggu waktu kamu ulang tahun?” Joe menarik bahuku, merangkul dengan lengan sebelah kanan menarik kepalaku untuk menyandarkan kepalaku di bahunya yang berada tepat di sampingku.
“Ya emang gak salah sih tapi cukup aneh banget kamu ngasih ini tiba-tiba tanpa ngomong ke aku.”
Joe tertawa dengan lengan yang semakin mengeratkan rangkulannya, “Kamu mikir aja kalau mau bikin kejutan ke orang, masa iya kita bilang ke dia, itu bukan pilihan yang tepat untuk saat ini.“
“Au dah Joe kamu nyebeli banget! Aku cuman mau nelusurin pantainya, bisa aja kita dapet hal yang misterius dan memukau penglihatan kita Al!!”