Lengan kak Arya masih setia bertengger di bahu dengan kepala yang ikut bersender di bahu dan mata yang tertutup dengan rapat, aku masih betah untuk tetap diam selama 10 menit, membiarkan waktu berlalu begitu saja, meskipun bukan hal yang biasa aku lakukan tapi rasanya menyenangkan saat perasaan hangat menjalar ke dalam relung d**a.
“Bahunya pegel gak aku nyandar tadi di kamu?” tanya kak Arya setelah beberapa saat, dia mengusap pelan bekas senderannya, menatap ke arahku dengan senyum yang selalu mampu membius.
“Engga kok kak, biasa aja kayak lagi di lab,” alibiku menutupi rasa kebas di lengan sebelah kiri.
“Gak usah boong Al, pasti rasanya kebas kan?” aku tersenyum simpul, mengusap dahinya yang mengerut dengan lengan kanan.
“Aku gak apa-apa kok kak, sedikit kebas udah biasa kali kak. Oh iya kak, aku mau nanya deh alasan kakak dapat hukuman ke pulau pengasingan kenapa? Gak mungkin cuman karena kakak ngelakuin penelitian di luar pemerintah kan? Banyak kok penelitian di luar pemerintah, tapi mereka gak ditangkap dan dapet hukuman seberat ini loh,” gerutuku belum sepenuhnya menerima kak Arya harus melakukan pengasingan saat hati mulai menerima kehadiran laki-laki.
Kalau di bilang bisa menerima, kayaknya belum sepenuhnya menerima kehadiran laki-laki tapi mencoba menerima apalagi usia aku juga gak bisa di sebut masih muda, udah kepala 2 dengan segala kesibukan yang ada. Setidaknya ada pemikiran ingin memiliki keluarga yang utuh, benar-benar utuh seperti yang selama ini aku impikan, ada ayah dan ibu dan anak-anak lucu, membayangkannya membuat perasaan penuh kembang api meledak di dalam perut.
“Panjang kalau aku ceritakan sekarang, tapi aku punya sesuatu yang harus kamu jaga dengan serius Al dan dengan taruhan nyawa kamu. Aku bukan gak percaya sama yang lain, tapi aku yakin kalau ini ada sangkut paut dengan pertanyaan kamu sama negara lain Al.”
Kak Arya bangkit dari kursi, dia berjalan menuju laci di sebelah meja kerjanya, mengeluarkan amplop kecil yang membuat aku mengerutkan dahi, apa hubungan benda kecil itu dengan kak Arya?
“Di sini ada beberapa kasus gelap dari negara Timur yang bekerja sama dengan negara Utara, sama bangsawan negara Utara, keluarga yang selama ini kamu cari,” ucap kak Arya seperti petir yang langsung menyambar tubuhku, kenapa kak Arya bisa sampai tau.
Aku terkekeh secara terpaksa, “Kak Arya apaan sih, gak lucu ih ucapannya. Masa aku di hubungin sama negara Utara, kan aku udah jelas lahir dan tumbuh di negara Timur, kak Arya mau ngelawak ya?” tanyaku yang mencubit pelan lengannya.
Kak Arya memegang pipiku, menangkupnya hingga sekarang mata kami beradu pandang, “Kamu gak perlu nyembunyiin apapun dari kakak Al, aku gak sengaja nemu fakta yang cukup mengejutkan di surat ini, kamu dari kebangsaan negara Utara.”
“Kakak gak jelas banget ih, masa aku negara Utara, anak bangsawan lagi,” kekehku pelan.
Kak Arya menghela napas panjang, mungkin lelah melihat aku kekeh dengan ucapan aku sendiri, menutup fakta yang selalu aku tutup rapat. Aku bukan anak dari kedua orangtua yang selama ini merawat aku dan memperlakukan aku sebagai anak tiri, ya memang aku bukan anak mereka.
“Alya dengerin kakak, aku tau kamu bukan anak dari kedua orangtua kamu, hasil lab pengecekan DNA gak menunjukan kalau kamu anak kandung mereka. Satu lagi, kamu punya tanda yang selama ini di cari sama orang-orang negara Utara,” bisik kak Arya dengan frustasi, dia menarik lengan kiriku yang terdapat tanda lahir seperti luka bakar di telapak tangan kiri.
“Kak Arya,” desisku pelan, menarik lengan yang dia genggam, “aku gak ngerti sama ucapan kakak itu apa, lagian aku gak peduli darimana asal aku sebenernya, karena yang aku tau selama ini aku selalu ada di negara Timur, aku punya keluarga yang sayang sama aku.”
Kak Arya menarik lenganku hingga sekarang aku berada dalam dekapannya sekarang, aku merasakan pelukan kali ini menarik perasaan kalut yang selama ini berusaha aku sembunyikan.
“Kamu gak perlu terlihat kuat, cape kalau harus berpura-pura bahagia di saat kamu gak baik-baik aja Al, kalau cape ada kakak di sini,” bisik kak Arya membuat aku kalut seketika, aku mengeratkan dekapan yang terasa menyesakan, ada perasaan ingin bebas tapi aku bingung harus seperti apa.
“Kenapa semua harus pergi kak dalam hitungan detik? Bahkan aku belum tau gimana kondiri mereka selama ini, aku gak tau alasan mereka buang aku karena apa,” rintihku dalam isak tangis.
“Hey sekarang liat kakak,” ucap kak Arya mengurai pelukan, mengangkat daguku hingga mata kami saling beradu, “kamu gak sendiri, masih ada aku yang bakalan jaga kamu dengan nyawa aku.”
Aku menggeleng, “Engga kak! Kakak sama kayak mereka, kenapa kakak datang bawa perasaan aku sama kakak? Sedangkan nyatanya, nanti di hari ketiga setelah ini, aku gak bakal tau gimana kondisi kakak!” aku mendecih, “katanya kakak sayang, katanya baru kali ini kakak pakai perasaan, sama kak aku juga, tapi kenapa kalian harus pergi di saat aku udah punya harapan sama kalian!”
“Kakak bakal baik-baik aja, kamu cukup pegang benda yang kakak kasih ini, kakak---“
Aku menarik tubuh kak Arya untuk lebih mendekat, mengikis jarak di antara kita, ujung hidungku dengan hidungnya saling bersentuhan. Matanya membola dengan sempurna, kaget dengan gerakanku yang tiba-tiba di luar seperti biasanya.
“Gak usah janji kalau kakak bisa khianatin janji kakak saat ini, aku gak perlu semua janji palsu kakak,” bisikku sebelum mendorong tubuhnya, berdiri dan keluar dari kamar kak Arya.
‘Untuk hati, bersabar sesaat ya, kita perlu untuk kembali sembuh dari luka yang terus menganga.’
Udara di kota sedikit lebih dingin dari biasanya saat aku berjalan keluar dari rumah menuju cafe Sky yang terletak di pusat kota, janji untuk melepas rindu dengan kak Fincent baru bisa terlaksana hari ini di tengah kesibukannya sebagai dokter muda yang selalu di agung-agungkan oleh masyarakat, kayaknya hampir semua orang di kota kenal siapa sosok kak Fincent yang dingin dan cuek.
“Kak Fincent maaf udah nunggu lama,” ucapku saat melepas jaket tebal dari tubuh, menyampirkannya ke belakang kursi.
Kak Fincent tersenyum seperti biasanya, “Duduk dulu kamu Al, kakak udah pesenin makanan hangat buat kamu. Suka kan sama sup ayam yang kemarin bunda Chery bikin?” aku mengangguk dengan semangat, bagaimana bisa lupa sama cita rasa sup ayam yang 3 hari lalu aku santap.
“Emang di sini ada masakan itu kak? Bukannya cuman bunda Chery yang tau resepnya atau jangan-jangan kakak minta bunda buat bikinin dan angetin di sini?” selidikku yang dibalas kekehen.
“Kakak gak pandai buat nutupin sesuatu kayaknya,” kak Fincent menggaruk tengkuk belakangnya, “kakak sengaja minta bunda Chery buat masakin makanan kesukaan adik kakak yang satu ini, abisnya dari kemarin kakak hubungin suaranya kedengaran gak ada semangat sama sekali.”
Aku terenyuh dengan perlakuan manis kak Fincent, bisa-bisanya di tengah kesibukan dia sebagai dokter yang hampir 80% waktunya di habiskan di rumah sakit, dia masih aja sempet-sempetnya pesen makanan kesukaan aku, sedangkan aku? Lupa untuk pesen makanan kesukaannya tapi engga untuk barang yang sekarang aku keluarkan dari saku dalam jaket.
“Aku lupa untuk bikin makanan kesukaan kakak setiap datang ke rumah aku, tapi aku gak lupa kalau sekarang kakak butuh syal buat ikut pergi keluar dari kota, cuaca sekarang lagi buruk.” Aku menyerahkan satu syal berwarna biru dongker ke arah kak Fincent, matanya langsung berubah menjadi berbinar seperti anak kecil.
“Wah ini jadi barang kesukaan kakak!” serunya dengan bahagia, langsung mengenakan syal yang aku rajut selama 2 hari lalu, cukup manis dengan hiasan daun yang aku buat.
Aku terkekeh, “Kak Fincent kayak orang yang gak pernah dapat hadiah deh, kakak bisa kali buat beli barang yang serupa kayak gini jutaan jumlahnya.”
“Aku emang bisa beli barang yang sama kayak ini, tapi gak bakal bener-bener sama kayak kamu kasih ke kakak hari ini Al, ini bener-bener spesial Al.”
“Syukur deh kalau kakak suka,” ucapku memperhatikan tingkahnya yang sibuk dengan syal.
Aku meletakan sendok di sebelah mangkuk yang sudah benar-benar kosong, tidak tersisa satu pun di sana. Mengusap bibir dengan tisu, tersenyum puas karena bisa menikmati makanan yang sudah aku idam-idamkan dari lama.
“Kak udah ini kita ke taman kota yu, udah lama aku gak ke sana sama kakak, terakhir kali kita ke---“
Kak Fincent menghentikan ucapanku dengan gerakan lengannya yang mengusap sudut bibirku, “Ada sisa nasi di sana,” ucapnya dengan santai, tanpa ada maksud apapun tapi sukses membuat pipiku memerah karena malu.
“Kak Fincent,” desisku sepelan mungkin, “jangan lakuin kayak gitu lagi, kasih tau aku aja. Gak enak di liatin orang lain,” alibiku terlihat jelas palsu, semua orang sibuk dengan kegiatan mereka, gak ada yang melihat kejadian memalukan tadi!
“Al kamu pernah berpikir untuk suka sama kakak gak?” tanya kak Fincent tiba-tiba.
“Kenapa kakak nanya kayak gitu?” kak Fincent hanya mengangkat bahunya, “mungkin waktu udah tau kita bukan sodara kandung, ada sih perasaan nyaman tapi aku jamin itu cuman sebatas adik nyaman di lindungi sama kakaknya kok.”
“Gak bisa lebih dari itu?” lirih kak Fincent yang berhasil aku tertangkap oleh telinga, “bagus dong kalau kamu gak ada perasaan apa pun sama kakak. Jangan sampai kamu punya perasaan lebih ya, kamu itu adik kakak yang bakal kakak jaga sama nyawa kakak sendiri!”
Aku bingung harus memberikan respon seperti apa sekarang, ucapan lirih kak Fincent seperti menampar aku sekarang. Kakak yang aku anggap seperti kakak kandung aku sendiri ternyata ada rasa sama aku yang jelas-jelas adiknya, meskipun bukan sebagai kandung tapi kita tetap sodara kan!
“Kak jangan sampai ada rasa ya.”