AJ#18 penelitian dan hukuman

1694 Kata
Aku melangkah menuju loker yang bernamakan Alya’s, melepaskan jas yang aku kenakan ke dalam kantung khusus karena jas yang sekarang aku kenakan sudah kotor terkena banyak tumpahan bahan kimia dari hasil pencampuran beberapa bahan untuk alat yang sedang aku rakit bersama kak Anya dan ilmuwan generasi 79 sampai 80. “Al kamu mau temenin aku ke rumahnya Arya gak?” tanya kak Anya saat berpapasan di ruang istirahat, aku mengangguk dengan semangat, entah kenapa ada perasaan bahagia yang terbesit saat mendengar ajakan kak Anya, bertemu sama kak Arya. “Eh kak Anya, kak Sandrina gimana kabarnya sekarang? Terakhir aku dapet kabar dari kak Fincent, katanya kak Sandrina harus di rawat di ruang khusus, virus yang kena tubuhnya belom bisa dideteksi.” “Al sini deh,” kak Alya menggerakkan tangannya agar aku lebih mendekat, “Sandrina itu kena virus dari tanaman langka yang di temuin waktu kita jalan ke hutan utara, aku gak yakin karena itu tapi kemungkinan besar emang penyebabnya itu,” bisik kak Anya yang membuat aku teringat Zack, dia cukup faham dengan segala macam tumbuhan. “Oh iya untuk penelitian pengecekan penyakit dalam, udah selesai semua tahapan perakitannya kak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan, berjalan bersisian menuju tempat makan. “Udah kok, di pegang sama Azkia, keren deh dia,” tukas kak Anya bersemangat, aku mencium aroma orang yang sedang kasmaran, bukan hal aneh kalau satu ilmuwan dengan ilmuwan lagi saling jatuh cinta, karena waktu mereka bertemu lebih sering daripada dengan divisi lain. “Aku penasaran sama alat itu kak, alatnya kapan bakal diperluas di dunia kedokteran kak?” Kak Anya mengendikan bahu, “Entah kapan, soalnya masih ada tahap pengecekan dan penelitian untuk jangka panjang, tapi ya Al kakak ngerasa ada yang aneh sama alatnya, kayak ada sesuatu yang janggal gitu, tapi mungkin cuman firasat kakak aja.” Mengerutkan dahi, aku jadi inget kata Quera waktu surat tentang alat yang disetujui langsung oleh 8 negara di bicarakan hangat oleh semua ilmuwan muda di laboratorium khusus, Quera dapat informasi kalau beberapa alat mulai di pasang alat pengawas oleh petinggi, entah apa alasan mereka melakukan hal yang semenjijikan itu ke mereka yang mengabdi untuk negara. “Menurut kakak anehnya kayak gimana?” tanyaku, berusaha untuk mengorek informasi. Aku dan kak Anya melepas sarung tangan saat memasuki ruang makanan, “Aneh aja Al dari bentuk sama cara kerja, dan waktu aku nanya ke mereka yang jadi penanggungjawab, kebanyakan mereka gak faham sama apa yang di rakit. Itu aneh dong dan gak kayak biasanya, kita gak boleh asal ngerakit tanpa tau ini untuk apa dan gimana cara kerjanya lebih lanjut.” “Masa sih sampe mereka gak faham cara kerjanya kak?” “Kakak gak bercanda tau, itu beneran terjadi sekarang, alasan kakak jadi ragu buat ikutan penelitian-penelitian lagi. Lagian permasalahan Arya bikin aku emosi banget, dia cuman melakukan peracikan obat tanpa izin pemerintah dan dapet hukuman kayak gitu,” gerutu kak Anya. Jantungku langsung berdegup kencang, rasa was-was dan takut bercampur menjadi satu, semoga gak ada yang membocorkan semua penelitian dan racikan obat yang aku lakukan secara ilegal. “Tapi untung aja bukan penelitian besar-besar Arya bareng yang lain, bahaya kalau sampe petinggi tau,” bisik kak Anya dengan kekehan di ujung ucapannya. “Kak Anya aku juga ada penelitian ilegal, masalahnya,” bisikku sepelan mungkin. Ekspresi wajah kak Anya langsung berubah sepersekian detik, dari wajah hangat berubah menjadi datar sebelum tersenyum dengan lebar. Lengannya langsung menarik tubuhku untuk semakin dekat, mendekap hingga aku merasakan stok oksigen dalam paru-paruku menipis. “Kak Anya, bisa lepas?” ucapku dengan terbata-bata, menggapai benda yang ada di sekitarku. Kak Anya melepas pelukannya yang erat, menatap iba sekaligus bahagia, “Ya ampun maafin aku ya, aku terlalu bersemangat dengerin ucapan kamu tadi, gak nyangka aja kamu punya pemikiran yang sama kayak Arya dulu, aku kira sebatas itu aja, ternyata lebih.” “Kali-kali jangan peluk orang lain kak, kasian mereka,” sungutku yang masih berusaha mengontrol napas yang masih terasa sulit, beberapa kali aku harus mengembuskan napas dengan berat. Ekspresi kak Anya tiba-tiba berbeda, secepat itu berubah dalam hitungan detik? Bukannya tadi dia masih terlihat bahagia, tapi sekarang wajahnya tiba-tiba murung. “Alya kakak harap kamu bisa jaga diri ya, jangan sampai kamu bernasib sama dengan Arya. Cukup sakit saat tau teman seperjuangan kamu yang gak pernah melakukan kesalahan, di tangkap bahkan sebelum dia datang ke tempat seleksi ilmuwan, aku nemuin dia di perbatasan kota dan desa utara dengan wajah yang menyeramkan, luka lebam ada dimana-mana.” Aku memegang lengan kak Anya, “Kak jangan sembunyiin apapun dari aku, sebenernya apa yang udah terjadi? Aku yakin ini bukan hanya sebatas peracikan obat ilegal. Hukuman paling kejam itu hanya sebatas hukum cambuk dan pengawasan selama 2 bulan penuh kak.” Kak Anya tersenyum simpul, mengusap pipiku sama seperti kak Arya, “Kamu tau gak kalau aku sama Arya itu sodara kembar?” tanya kak Anya seperti sambaran petir di siang bolong. Aku membola seketika, “Kak Anya gak lucu tau, kalian keliatan gak sama meskipun emang ada saudara kembar yang gak identik tapi emang keliatan gak ada kesamaan sama sekali kak di antara kalian!!” ucapku tanpa sadar menjerit tertahan ke arah kak Anya. Kak Anya itu menurut aku perempuan paling unik, paling manis, paling di luar ekspetasi aku sendiri sebagai perempuan. Kak Anya bisa berubah ekspresi hitungan detik, kadang bingung sama moodnya yang ajaib, berubah dengan cepat. Emang cewek suka bergantung sama mood, tapi gak secepat itu berubahnya, hitungan detik loh kak Anya bisa berubah ekspresinya. “Dih kita emang sodara kembar tapi di besarin sama orang yang beda, aku dari kecil harus di rawat karena masalah kesehatan dan harus di rawat sama oma dan opa, sedangkan kembaran aku dia gak selemah aku, malahan fisiknya itu luar biasa sehat, dan kita berdua baru ketemu waktu kita mau melakukan pendidikan khusus untuk menjadi ilmuwan, di situ aku baru tau kalau punya kembaran.” “Kenapa harus di pisah? Maksud aku, bisa kali di rawat sama orangtua tanpa perlu di pisah selama itu kak. Kalian kan kembar, biasanya ikatan batinnya lebih erat,” tuturku dengan serius, terasa seperti mengasihi diri sendiri yang sekarang hidup dalam naungan keluarga angkat. “Percaya gak kalau aku waktu lahir kena obat yang dikasih secara asal sama suster gadungan di sana, salah satu alasan aku harus di rawat secara intensif di rumah sakit, lagian rumah sakit sama rumah orangtua aku jauh banget, daripada kenapa-napa jadi lebih baik dilakuin kayak gitu,” jawabnya dengan enteng tanpa ada beban sama sekali. Aku termenung sesaat, “Kakak gak iri gitu sama sodara kembar kakak yang lebih kenal sama orangtua kakak dan lebih deket sama mereka?” Kak Anya bukannya menjawab, malah tertawa pelan, mengambil botol minum di dekatnya, menegak hingga tersisa setengahnya lagi, aku bisa merasakan kalau selama ini ada rasa kecewa tapi mungkin hanya perasaan aku aja yang simpati sama kak Anya. “Terkadang hidup emang gak adil sama kita, kadang juga kita butuh sedikit ekstra untuk bisa bertahan di dunia ini. Kalau aku bilang aku gak iri sama Arya, aku boong banget dong. Aku iri Al, iri banget sama posisi Arya yang deket sama mamah dan papah, lebih kenal sama mereka dan lebih tau sama mereka, tapi pertanyaan aku cuman satu. Aku bisa apa di bandingin sama Arya yang udah dari lama kenal sama mamah dan papah? Aku hanya orang baru yang gak sengaja kenal, udah gitu aja.” Aku berdiri di depan gerbang rumah yang bercat coklat dan paduan warna serasi, menunggu kak Anya yang serius berbicara lewat telfon, beberapa kali dahinya berkerut sebelum senyum tipis mengembang di wajahnya. Jujur aja, aku salut sama kak Anya yang bisa menerima semua ini dengan lapang d**a, bahkan sampe sekarang hubungan kak Anya dan kedua orangtuanya masih belum bisa aku katakan harmonis, masih terasa asing. “Kita masuk lewat pintu samping aja, gerbang ininya rada macet jadi susah di buka kata mamah. Oh iya aku nanti mau ngobrol sama mamah di taman, kamu panggil Arya aja di kamarnya. Kamar dia ada di samping kamar aku, di lantai dua, pintunya ada logo beberapa bahan kimia, nanti kamu pasti tau kamarnya itu yang mana,” jelas kak Anya yang membuka pintu kayu yang terukir beberapa gambar dari kebudayaan negara asia di bumi jaman dulu. “Pantes aja kak Arya suka bawa kipas yang ada gambar penari, ternyata oh ternyata,” gumamku yang memasuki ruangan bernuansa warna coklat dan warna yang senada, melihat sekeliling yang terasa melihat beberapa benda peninggalan keluarga dari ratusan tahun lalu. “Kamu ke atas aja ya, aku mau ke taman oke?” aku mengangguk, berjalan menuju tangga, menaiki anak tangga sampai berhenti di depan pintu yang kak Anya maksud tadi. Tok.. tok.. tok.. “Kak Arya ini aku Alya,” ucapku dengan gemuruh hebat dalam d**a, ada perasaan yang aneh dan sulit untuk aku jabarkan, tapi yang jelas ini rasa bahagia. “Sebentar,” sahut kak Arya diiringi dengan bunyi gaduh dari benda-benda. Aku menatap ke arah pintu kamar kak Arya yang bener-bener unik, banyak gambar bahan kimia dan alat-alat lab yang sering aku jumpai, kata-kata penyemangat yang membuat aku tersenyum simpul, seperti bukan kak Arya yang cuek dan acuh. “Masuk Al, maaf berantakan,” kak Arya membukakan pintu, aku menatap wajah lebamnya yang masih belum sempurna sembuh, masih ada beberapa yang terlihat jelas. “Kak Arya beneran harus ke pulau pengasingan?” tanyaku dengan suara pelan, aku sudah duduk di kursi panjang yang menghadap ke balkon kamar. Kak Arya mengangguk pelan, mengangkat daguku hingga mata kami saling beradu, mengusap pelan pipiku, mengikis jarak antara kami berdua, dan menyatukan dahi kami. Kali ini aku mau memakai hati untuk bertahan, membiarkan kak Arya untuk kembali mencium keningku. “Baru kali ini aku pake perasaan Al,” bisik kak Arya setelah menjauhkan dirinya, dia tersenyum tipis, benar-benar tipis untuk bisa aku lihat. “Harapan aku saat ini, bisa ngabisin waktu lebih banyak dan ngulang lagi waktu pertama kali kita ketemu, sikap aku kurang baik waktu kita bertemu Al.” “Kak,” aku memegang lengan kanan kak Arya yang ada di pipiku, “jaga diri ya, jangan sampai terluka nanti di pulau pengasingan, kembali lagi dengan kondisi baik-baik aja.” “Aku usahain buat kamu Alya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN