Suara hewan-hewan malam mulai bersahutan saat mobil yang dikendarai oleh profesor Hangga berhenti di satu rumah yang cukup besar dengan halaman yang tidak bisa aku sebut kecil. Aku berdiri di depan rumah, melihat sekeliling yang sepi, tidak ada tanda kehidupan manusia selain aku sama profesor Hangga sekarang. “Kamu gak apa-apa kan kalau harus nunggu dulu sampai besok pagi atau besok siang? Saya gak bisa jamin keadaan udah aman sekarang, tapi saya jami kalau mereka yang mengejar kita tadi udah mati sekarang terkena arus listrik bertegangan tinggi yang saya buat,” ucap Profesor Hangga dengan tubuh yang berdiri di hadapan aku, sedangkan kedua lengannya memegang lenganku. “Kak,” suara yang keluar dari mulutku seperti orang ketakutan sekarang, “gak apa-apa.” “Wajah kamu pucat,” komentarny

