Aku memasuki kamar sementara kak Fincent, laki-laki itu sedang duduk di dekat jendela dengan satu buku yang ada di pangkuannya, kebiasaan yang gak pernah hilang dari dulu, membaca satu jurnal atau satu buku sebelum istirahat. “Tidur kak, udah jam 9 malam loh. Nanti obatnya gak efektif loh,” tegurku, menarik buku yang ada di pangkuannya, menutup tepat di hadapannya, aku menggelengkan kepala saat lengan kak Fincent bersiap untuk mengambil bukunya kembali, tidak semudah itu kak Fincent! Kak Fincent mendengus, “Alya, kakak masih asik baca, masih ada beberapa pengobatan zaman dulu yang bisa kakak kembangin saat ini Al, kamu harusnya dukung kakak dong. Kalau kakak bisa menguasai pengobatan itu, nanti waktu di desa Awan bakalan lebih mudah kalau berobat, gak bakalan lama.” “Aku selalu dukung k

